Mohon tunggu...
Teguh Hariawan
Teguh Hariawan Mohon Tunggu... Guru - Traveller, Blusuker, Content Writer

Blusuker dan menulis yang di Blusuki. Content Writer. "Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang " : (Nancy K Florida)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Rampogan Macan: Kisah Tragis Pertarungan Harimau di Alun-alun Keraton Jawa

28 April 2020   16:56 Diperbarui: 28 April 2020   17:04 2052
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rampogan Macan di Alun-alun kotaraja (Koleksi Tropen Museum)

Bertarung dengan Harimau Jawa di tengah arena (Koleksi Tropen Museum)
Bertarung dengan Harimau Jawa di tengah arena (Koleksi Tropen Museum)

Rampogan Macan di Alun-alun Kediri (Internet)
Rampogan Macan di Alun-alun Kediri (Internet)

sumber istimewa
sumber istimewa
Manuskrip Tua

J.J Stockdale , menerbitkan     The Island of Java tahun 1811. Lebih tua dari buku The Conquest of Java (1815) atau buku babon The History of Java, karya Raflles yang terbit tahun 1817. Stockdale keliling Jawa  dan merangkum serta menuliskan pengalamannya di lapangan yang sudah dilakukan sejak tahun 1760-an sampai 1800 an. Boleh dikata, karya Stockdale ini termasuk salah satu manuskrip tua yang banyak menyumbangkan informasi tentang kondisi masyarakat dan kebudayaan Jawa di masa lalu. Termasuk salah satunya kisah tragis pertarungan Harimau melawan Banteng di Alun-Alun kotaraja. 

Karena saat itu ada 4 kerajaan besar di tanah Jawa, yakni  Kerajaan Jayakarta (Jaccatra), Kerajaan Banten, Kerajaan Cirebon ( Cheribon) dan Kerajaan Susuhunan, maka dapat dipastikan peristiwa  pertarungan Harimau dan Banteng terjadi di Alun-Alun Keraton  Kerajaan Jawa (Kerajaan Susuhunan).

Jika Rampogan Macan terjadi sejak tahun 1700-an, maka tontonan ini masih berlangsung hingga akhir tahun 1800 an.  Karena perjanjian Giyanti telah membelah Jawa jadi dua kerajaan Besar Solo (Surakarta) dan Yogyakarta, maka Rampog Macan pun berlanjut  digelar di alun-alun kedua kerajaan Jawa itu pada saat tertentu.  Bahkan dalam kurun waktu berikutnya menyebar ke daerah setingkat Kadipaten (Kabupaten), seperti Kediri- Blitar - Malang dan sekitarnya. Mungkin akibat Rampogan Macan inilah, populasi Harimau Jawa dan Macan Tutul  di Pulau Jawa menyusut tajam. Akibatnya, ada kebijakan dari pemerintah kolonial, sejak tahun 1905, Rampogan Macan mulai dilarang.

langitkata.blogspot.com
langitkata.blogspot.com
Jelatang

Saya penasaran dengan tumbuhan Jelatang. Tumbuhan liar  ini, kata Stockdale telah  membuat Banteng (Kerbau Liar) marah membabi buta karena kesakitan. Stockdale menyebut tanaman ini sebagai Daun Banteng. Dr;. Thunberg, kenalan Stockdale menyebutnya sebagai urtica stimulans. Orang Jawa  menyebutnya Kemado! Nah, kalau efek dari tumbuhan Kemado ini saya jadi ingat masa kecil,  saat blusukan ke hutan menggembala sapi. 

Daunnya tak jauh beda dengan tumbuhan hutan lainnya. Tapi, jika tersentuh, maka kulit akan tersengat.  Sejurus kemudian akan terasa makin perih dan panas. Akibat selanjutnya, gatal dan bentol-bentol. Para pendaki gunung pasti juga banyak tahu dengan jenis tumbuhan ini. Maka, kadang tumbuhan ini lebih dikenal sebagai tumbuhan Jancukan. 

Ya, kata jancuk, adalah semacam kata makian dalam logat Jawa Timuran.  Kata itu meluncur begitu saja dari mulut tatkala seseorang mendapatkan ketidaksenangan atau kesialan. Mungkin munculnya nama Jancukan itu, karena ada pendaki yang sedang melintas rerimbunan dan  tanpa sengaja  kakinya tergores Jelatang sehingga memerah, tersengat dan panas. Maka, mulutnya pun mulai misuh-misuh (marah-matah) sembari mengeluarkan makian.... jancuk..jancuk.  Ya, seperti yang sering diumpatkan oleh Sujiwo Tejo lah.....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun