Mohon tunggu...
Abdul Adzim Irsad
Abdul Adzim Irsad Mohon Tunggu... Mengajar di Universitas Negeri Malang

Menulis itu menyenangkan.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Menuju DKI, Ahok ke Mbah Priok, Agus dan Uno ke Baitullah

15 Februari 2017   16:11 Diperbarui: 15 Februari 2017   18:27 0 1 1 Mohon Tunggu...

Setiap orang yang beriman kepada-Nya, pasti memiliki keyakinan bahwa doanya di dengarkan. Jangan salah, belum tentu doanya dikabulkan, walaupun di dengarkan Allah SWT. Pada hakekatnya, tanpa tanpa berdoa-pun, Allah SWT sudah menentukan siapa yang menjadi pemenangnya. Namun, tidaklah sempurna sebuah permainan itu tanpa dihiasi dengan sebuah perjuangan hingga titik darah penghabisan. Yang menarik bukan kemenangannya, tetapi proses permainanya yang sangat menyenangkan.

Pilgub DKI kali ini sangat unik, menarik, dan penuh dengan intrik elit politik. Lihat saja, pentola elit PDIP, turun gunung untuk memenangkan jagonya, yaitu Ahok. Begitu juga dengan Prabowo yang kalah dengan Jokowi mati-matian meyakinkan pendukungnya agar memilih Anis. Sementara, SBY yang juga pentolan Demokrat ingin melihat putranya duduk di kursi DKI 1.

Ahok itu jelas-jelas pelurunya Megawati, Agus pelurunya SBY, sementara Anis pelurunya Prabowo. Ketiganya itu bukan orang melarat, tetapi konglomerat. Katanya orang kampung, duitnya sak arat-arat (buanyak banget). Setiap hari masing-masing harus mengeluarkan biaya jutaaan, bahkan ratusan juta untuk kampaye untuk memenangkan jagonya. Dari mana duitnya? Jangan ditanya dari mana, yang penting cukup untuk biaya Pilgub DKI yang menyita duit banyak sekaligus perhatian masyarakat Indonesia di seluruh Nusantara.

Barangkali, hanya dalam Pligub DKI kali ini yang mampu menghadirkan jutaan umat islam untuk demontrasi, berdoa bersama, sholat subuh bersama, dan jumatan bersama. Orasi politik tokoh-tokoh islam, seperti; Bahtiar Nasir, Habib Rizieq, Aa’ Gym, Arifin Ilham, selalu aktif pada setiap aksi. Mereka menuntut agar Ahok segera dipenjara karena penistaan agama. Rutinitas demo super damai itu hakekatnya ingin menghalangi Ahok menjadi Gubernur DKI. Karena memang Ahok itu sudah menjadi tersangka penistaan QS Al-Maidah 51.

Sekarang (15/02/2017), puncaknya. Ihtiyar dan doa masing-masing akan ditentukan hari ini. Bagi yang berjiwa besar, siapa-pun pemenangnya, meraka akan datang, kemudian mengatakan “selamat atas kemeangan anda”. Tetapi, ketika merasa terluka dan dicurangi, dia tidak akan datang, karena merasa bahwa dirinya telah dicuringi. Perhitungan cepat mengisaratkan bahwa Ahok dan Anis bisa masuk putara ke dua.

Sebenarnya, sejak debat terahir telah usai, masyarakat Jakarta yang pinter-pinter itu sudah bisa menarik kesimpulan siapa yang pantas menjadi gubernur DKI. Debat mengambarkan sosok calon gubernr DKI yang mengerti tentang Jakarta dan segala persoalanya. Masyarakat Jakarta juga mengeti siapa yang bisa bekerja untuk masyarakat Jakarta. Masyarakat Jakarta juga mengeti siapa calon gubernur DKI yang bisa membasmi korupsi, pungli, serta bisa bulusukan seperti Jokowi.

Masyarakat Jakarta yang hiterogen, mulai tukang bubur hingga tukang cukur, mulai tukang ngarit (merumput) hingga tukan pijit. Bahkan, para elit sampai paling alit. Mulai yang suka ngentit (nipu), hingga tukang kredit. Mulai agamawan, sastrawan, budayawan, telah menentukan pilihannya. Jakartnya itu miniature Indonesia, mulai keturunan India, Arab, China, Afrika, Eropa ada. Bahkan, hampir setiap etnis di Nusantara bisa ditemukan. Hari ini, mereka telah menentukan pilihannya.

Bahkan, calon Gubernur yang ada menjadi contoh nyata masyarakat Jakarta, Anis keturnan Arab, Ahok keturunan China, dan Agus itu Indonesia seratus persen. Ketiganyaitu adalah penduduk Indonesia asli. Maka, siapa-pun yang terpilih menjadi Gubernur, berarti telah memilih warga Indonesia. Sudah tidak musim lagi mengankat isu sara di bumi Nusantara.

Pilgub DKI kali ini ada yang sangat menarik untuk dicermati. Ahok itu belum pernah menginjakkan kakinya ke PBNU, waaupun dia itu sangat pingin banget. Sementara Sandiaga Uno sudah pernah, begitu juga Agus juga pernah. Manariknya, banyak sekali orang yang mengatasnamkan NU, justru mendukung Ahok dengan alasan bahwa memilih Gubernur Non-Muslim tidak apa-apa. Ya terserahlah, wong memang ini Indonesia, bukan Iran, juga bukan Arab Saudi.

Usai debat berlau. Sandiaga Uno langsung berangkat ke Makkah untuk menunaikan Ibadah umrah. Sudah ditebak, tujuan utamanya adalah berdoa ditempat paling sacral di dunia ini agar bisa memenangkan Pilgub DKI. Agus juga melakukan hal yang sama, berdoa dan bermunajat kepada-Nya, agar menjadi Gubernur. Sementara Ahok, tetap di Jakarta, datang ke Makam Mbah Priok yang diyakini keramat. Bahkan, orang Jakarta yang ingin menjadi Gubernur DKI itu mesti sowan ke makam Mbah Priok. Tetapi, ada yang mengatakan "ke kuburan Mbah Priok itu bidah, bisa masuk Neraka lho".

Ketiganya berdoa kepada-Nya. Tentu saja, ketiganya tidak akan jadi Gubernur semua memimpin Jakarta. Doa ketiga calon Gubernur di telah di dengarkan Allah SWT, tetapi tidak akan dikabulkan semua. Doa itu ada yang dikabulkan langsung, ada yang bersifat istidroj, ada juga yang ditunda sementara, ada juga yang di tunda untuk waktu yang cukup lama. Dalam sebuah kisah, terdapat seorang Ayah memiliki 3 putra. Kebetulan sang Ayah itu kaya dan memiliki banyak harta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2