Bung Stev
Bung Stev Pembelajar

Buruh negara. Sedang berusaha menjadi (pembaca dan penulis) yang baik. Email: stevanmanihuruk@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Membaca Safari Politik "Maraton" ala Sandiaga Uno

16 September 2018   22:42 Diperbarui: 17 September 2018   03:51 1622 10 6
Membaca Safari Politik "Maraton" ala Sandiaga Uno
Ilustrasi (Foto: Kompas.com/Kahfi Dirga Cahya)

Saat menghadapi kontestasi politik Pilkada DKI Jakarta, Sandiaga Uno sering memamerkan kegemarannya melakukan olahraga lari maraton. Hobinya itu pun masih terus dilakukan ketika sudah resmi terpilih menjabat sebagai Wagub DKI Jakarta. 

Selain lari maraton, Sandiaga pun gemar melakukan olahraga lain misalnya senam dan renang. Bicara olahraga renang, tentu kita ingat Sandiaga bahkan pernah menantang Menteri KKP, Susi Pudjiastuti untuk adu renang di Danau Sunter. 

Kegemaran Sandiaga berolahraga khususnya lari maraton ternyata terlihat pula dari aktivitasnya di dunia politik, secara khusus menjelang kontestasi politik Pilpres 2019. Sandiaga merupakan Cawapres Prabowo Subianto. 

Ketika Prabowo sibuk dengan agenda-agenda konsolidasi politiknya bertemu tokoh-tokoh yang dianggap memiliki basis massa, teranyar dengan GNPF MUI, Sandiaga justru tak ikut mendampingi karena ia sibuk dengan agendanya sendiri. 

Ya, Sandiaga punya agenda "lari maraton" bertajuk safari politik. Saban hari, Sandiaga terus mengunjungi daerah-daerah di tanah air dan melakukan banyak aktivitas disana. Dalam waktu berdekatan, Sandiaga sudah mengunjungi Bandung, Yogyakarta, Bali, Riau dan Medan. 

Sandiaga jelas punya misi ketika melakukan safari politik secara maraton. Mau tak mau, Sandiaga memang harus lebih rajin turun ke daerah-daerah demi meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya di kalangan pemilih. 

Berbeda dengan Prabowo Subianto yang sudah dikenal secara meluas kiprah politiknya di tingkat nasional, nama Sandiaga memang bisa dikatakan masih baru malang melintang di kancah politik nasional. 

Ibarat sambil menyelam minum air, safari politik yang dilakukan Sandiaga ke daerah-daerah selain untuk memperkenalkan diri juga sambil "menyerang" pemerintah. Kondisi teraktual mengenai pelemahan nilai tukar rupiah dikaitkan dengan perekonomian masyarakat, menjadi "bahan gorengan" Sandiaga di daerah-daerah.

Dari kota Pekanbaru, Sandiaga memperkenalkan ibu Lia dan uang seratus ribunya, yang sempat menjadi pro dan kontra di ruang publik. 

Dari kota Medan, Sandiaga mempopulerkan ibu Isni dan Ibu Epi, hasil kunjungan ke pasar Lima Marelan, Medan. Ibu Isni berharap agar kebutuhan sandang dan pangan turun. Sementara Ibu Epi yang merupakan pedagang pakaian dalam mengeluhkan turunnya penjualan pakaian dalam dalam sepekan terakhir. 

Sandiaga kunjungi pasar Marelan, Medan (Foto: medanbisnisdaily.com)
Sandiaga kunjungi pasar Marelan, Medan (Foto: medanbisnisdaily.com)
Sandiaga terkesan pandai mendramatisir kondisi kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini sebagai akibat dari pelemahan nilai rupiah. Sampai-sampai, sebelumnya sudah muncul pernyataan bahwa akibat harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik, tempe pun sudah menjadi setipis kartu ATM. 

Terlepas bahwa pernyataan-pernyataan Sandiaga sering menjadi bahan olokan para warganet di media sosial, bukan tidak mungkin itupun bagian dari strategi jitu agar lebih cepat dikenal oleh publik. Baca tulisan saya sebelumnya, Sandiaga Tak Sebodoh yang Anda Kira

Safari politik yang dilakukan Sandiaga tentunya mendapat perhatian dari lawan politiknya yaitu kubu petahana. Kunjungan cawapres Ma'ruf Amin ke Jambi baru-baru ini, mungkin saja sedang coba mengimbangi safari politik yang dilakukan Sandiaga. Kubu petahana tentu tak boleh jauh ketinggalan, sementara lawan sudah mulai bergerak. 

Saya melihat kedepannya, kemungkinan peran Sandiaga yang akan lebih signifikan dan dioptimalkan dalam rangka meraup suara untuk pasangan Prabowo-Sandi. Sandiaga punya modal cukup lengkap sebagai seorang politisi muda dan mantan pengusaha yang bisa saja mengklaim paling paham urusan ekonomi masyarakat bawah. 

Sebagai seorang yang gemar berlari maraton, Sandiaga pun paham dan sepertinya sudah mempersiapkan "nafas panjang" agar mampu mengunjungi lebih banyak lagi daerah-daerah di tanah air. 

Meskipun tentunya, dengan kondisi wilayah Indonesia yang sangat luas, bermodalkan "nafas panjang" saja sepertinya takkan pernah cukup. Butuh strategi yang lebih mumpuni dari itu dan saya yakin Sandiaga sudah mempersiapkannya.

Pertanyaan apakah safari politik secara maraton yang dilakukan Sandiaga saat ini terindikasi sudah mencuri start kampanye, tentu bisa menjadi bahan perdebatan panjang, lagipula hanya pihak penyelenggara yang paling berhak menilainya.

Untuk saat ini, kita nikmati saja ke arah mana lagi Sandiaga akan melanjutkan "lari maratonnya" sembari menunggu setelah ibu Lia, ibu Isni, dan ibu Epi, nama ibu siapa lagi yang akan diperkenalkannya ke publik.

*** 

Jambi, 16 September 2018