Mohon tunggu...
Muhammad Burniat
Muhammad Burniat Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Mahasiswa filsafat dengan hobi menulis, jalan-jalan dan aktivitas sosial. Menulis adalah cara saya untuk hidup dan berbagi. E-mail: muhammadburniat@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Surat Cinta untuk Kartini: Perempuan Tak Selamanya Harus Terbelenggu Kodrati

18 April 2016   16:50 Diperbarui: 18 April 2016   17:00 274
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Yuk! Jangan lupa nonton 21 April mendatang. Dok: movie.co.id/"][/caption]Perempuan secara kodrati adalah pelayan bagi suami. Ruang lingkup gerakan pun hanya sebatas penguasa isi rumah, mengasuh anak dan menyiapkan segalam macam kebutuhan. Hal semacam ini lebih banyak terjadi tempo dulu, tapi pengecualian untuk seorang wanita bernama Raden Ajeng Kartini, dan pejuang-pejuang tangguh yang namanya terus terdengar hingga kini di telinga kita. Memang tidak bisa dipungkiri kalau kondrati perempuan tetaplah abadi, namun tidak selamanya mutlak dikala ada alasan rasional yang bisa membatalkan paradigma tersebut. Seorang perempuan bisa berbuat lebih, bahkan lebih dari eksistensi seorang laki-laki. Pembahasaan baru, yakni emansipasi adalah sebuah paradigma yang muncul sebagai tuntutan kebutuhan dan kesamaan hak, yang kemudian menjadi pondasi membangun paradigma masa kini. Fenomena-fenomena yang lahir di tengah kehidupan kita seperti wanita bekerja sebagai sopir, security, menjabat sebagai pimpinan dan semacamnya yang menunjukan pekerjaan laki-laki juga bisa ditempati oleh wanita. Di sisi lain juga ingin menunjukkan bahwa tidak ada pembeda apabila perempuan ingin berpikir lebih dan sama dengan laki-laki, tanpa melupakan kewajibannya, maka kesempatan tersebut terbuka lebar bagi dirinya.

Surat Cinta Untuk Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Jum’at, 15 April 2016 lalu, saya bersama 14 Kompasianer lainnya mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan film Surat Cinta Untuk Kartini bersama komunitas lainnya. Film ini merupakan film Indonesia yang berlatarbelakang sejarah sekaligus sebagai ajang menyambut hari kelahiran R. A Kartini pada 21 April mendatang. Film yang diperankan oleh Chico Jericho sebagai Sarwadi, Rania Putri Sari sebagai Kartini, Ningrum yang diperankan Chirstabelle Grace Marbun sebagai anak Sarwadi, Mujur diperankan oleh Ence Bagus. Turut juga membantu berperan dalam film ini Ayu Dyah Pasha, Melayu Nicholedan Acha Septriasa. Film ini lahir dari racikan Azhar Kinoy Lubis sebagai sutradara yang juga sempat hadir dalam nonton bareng tempo hari.

[caption caption="Ini dia para pemeran sekaligus sutradara "tengah". Dok: cdn.klimg.com/"]

[/caption]Film ini diawali dari sosok wanita yang tergesa-gesa menuju kelasnya. Bu Dian itu nama yang disebutkan, dengan menggunakan pakaian meniru sosok seorang Kartini. Hari itu ia mengajak murid-muridnya untuk bermain dan bercerita tentang sosok wanita yang dikaguminya. Keinginan itu sempat tertunda, karena salah satu muridnya bosan mengulang cerita yang sama. Bu Dian sempat diam, tiba-tiba Pak Rangga yang melihat dari balik kaca pun masuk ke kelas. Ia mengawali perjumpaan tersebut dengan mengajak anak-anak mendengarkan cerita tentang seorang tukang pos. Semua murid pun tertarik, langsung saja cerita pun dimulai dari perjalanan hidup seorang tukang pos.

Kisah itu kembali pada tahun 1901 di Jepara yang diawali seorang laki-laki sedang mengendarai sepeda ontelnya. Sarwadi itu namanya, seorang tukang pos Jepara yang senantiasa mengantarkan surat kepada penduduk sekitar. Pada suatu ketika, ia mendapat tugas untuk mengantar surat ke rumah Bupati Jepara, Raden Mas Ario Sosroningrat yang diperankan oleh Donny Damara. Surat tersebut ditujukan untuk Raden Ajeng Kartini. Dengan modal keberanian dan kenal dengan salah satu abdi dalam Raden Ajeng Kartini yang sempat bercerita sedikit tentang wanita konglomerat itu, Sarwadi pun menuai rasa penasaran. Dan dari rasa penasaran itulah perjumpaan Sarwadi pun terjadi hingga melupakan identitas status sosialnya sebagai lelaki kelas bawah.

Selepas mengantarkan surat dan bertemu dengan sosok seorang Kartini meskipun dari kejauhan, Sarwadi pun menceritakan kecantikan putri Bupati itu kepada Mujur, sahabat dekat Sarwadi. Bukan pujian serupa yang didengar, malah Mujur mengatakan kalau Kartini merupakan sosok wanita yang belakangan menjadi buah bibir di kampung sebagai wanita yang aneh. Sebab dianggap tidak menjadi wanita jawa sebagaimana yang sudah menjadi aturan adat yang berlaku. Sebagai pengagum, Sarwadi pun penasaran akan sosok Kartini sebagaimana yang dikatakan oleh sahabatnya. Kebingungan Sawardi pun sirna seketika, ternyata keanehan yang beredar di tengah masyarakat adalah desas-desus Kartini hendak mendirikan sekolah bagi bumiputera agar sosok perempuan mendapat penghargaan lebih di mata laki-laki dan dunia. Pemikiran Kartini itu membuat Sarwadi semakin jatuh hati pada sosok sang pelopor. Cita-cita Kartini yang sungguh mulia ingin mengangkat kaum perempuan, ikut menjadi sorotan Sarwadi terhadap anaknya yang bernama Ningrum. Yang kemudian membuat Ningrum menjadi murid pertama Raden Ajeng Kartini. Setelah pertemuan yang berulang kali, Sarwadi yang berstatus duda dan Ningrum sebagai yatim pun memiliki kedekatan dengan wanita konglomerat dan terpandang di Jepara .

Kecintaan Sarwadi terhadap Kartini semakin menjadi-jadi. Saat berdesus kabar bahwa putri Bupati Jepara akan segera dilamar oleh salah satu bupati, Sarwadi sampai jatuh sakit. Bahkan seorang tabib yang diajak oleh Mujur untuk mengobati sahabatnya itu tak sanggup menyadarkan kegalauan cinta yang dirundung lelaki anak satu tersebut. Mujur pun mendapati sebuah jawaban untuk menyembuhkan Sarwadi setelah melihat pahatan yang ada di tangan Sarwadi yang beberapa hari belakangan dibuatnya. Yah, Sarwadi pupus saat tahu cintanya akan segera berakhir karena Raden Ajeng Kartini akan segera dilamar. Untuk membuat sahabatnya kembali sembuh, Mujur pun meminta pihak pos untuk menuliskan surat bohongan dari Kartini untuk Sarwadi. Betul saja, seketika membaca surat bohongan tersebut, lelaki duda itu sekejap sembuh dari sakitnya. Ningrum yang sempat cemas beralih bahagia dan mengetahui bahwa sang ayah jatuh hati pada gurunya.

Karena surat tersebut sudah membuat hatinya kembali tenang, Sarwadi pun berniat hendak mengucapkan terima kasih langsung kepada Kartini. Mujur yang sempat datang ke rumah dan bertemu dengan Ningrum terkejut ketika tahu kalau kepergian sahabatnya disebabkan oleh surat tersebut. Sontak saja, Mujur mengejar Sarwadi dan menceritakan skenerio yang dibuat untuk menyembuhkan dirinya. Sarwadi pun sempat marah dan terjadi adu fisik lembut antar keduanya, namun Mujur kembali menenangkan Sarwadi dengan memberikan kabar bahwa perihal lamaran tersebut bukan untuk Raden Ajeng Kartini, melainkan adiknya. Tentu saja, Sarwadi yang memang menyimpan cinta, kembali tersenyum bahagia.

Perasaan seorang tukang pos semakin dalam ketika hari-harinya bisa selalu memandang sosok Kartini. Sembari mengantar Ningrum, Sarwadi diam-diam menelanjangi sosok kartini yang anggun dan tangguh, apalagi dengan tujuan mulianya bagi kaum perempuan. Sayangnya, rasa sayang yang tertanam dalam lubuk hati seorang Sarwadi tidak mampu memiliki sepenuhnya dikarenakan Raden Ajeng Kartini dilamar oleh seorang Bupati Rembang yang sudah beristri tiga. Kartini yang merupakan anak terhormat mendapati kendala saat harus memilih orangtua atau perjuangannya. Namun pada akhirnya wanita pelopor ini harus memilih untuk menikah setelah keduanya, baik Kartini dan Sarwadi bertemu untuk membicarakan hati yang sempat tumbuh.

Pernikahan pun terjadi. Sarwadi hanya bisa melihat dari kejauhan sosok Kartini yang digandeng oleh laki-laki yang tidak diharapkannya. Dari sana, perpisahan Kartini dan Sarwadi bermula. Kartini mengikuti suaminya, sementara Sarwadi pergi dari Jepara dan mencoba menemukan suasana baru untuk menenangkan pikirannya. Selang beberapa lama kemudian, ia pun mengajak Ningrum untuk bersilaturahmi ke rumah Raden Ajeng Kartini. Sayang, saat tiba di Jepara dan akan menaiki kereta kuda, seorang supir itu berkata kalau Raden Ajeng Kartini baru saja meninggal dunia pasca melahirkan. Sarwadi pun meneruskan perjalanan menuju pemakaman.  Setelah itu, ia mendapatkan sebuah surat dari kantor pos yang merupakan surat dari Raden Ajeng Kartini mengenai pertikai batin sebelum dan setelah pernikahannya. Inti dari surat tersebut adalah Kartini tidak mengubur begitu saja impian dirinya untuk mengangkat derajat kaum perempuan dan mendirikan sekolah, malah dengan pernikahan yang terjadi dengan seorang Bupati, ia lebih leluasa untuk menebarkan semangat perubahan bagi kaum perempuan. Setelah membaca surat itu, Sarwadi tersenyum bangga dan bahagia atas perjuangan Kartini.

Pada bagian-bagian akhir cerita, hasil perjuangan Kartini muncul dalam beberapa gambaran yang diperankan oleh wanita yang memiliki jiwa sama dengan wanita idamannya tersebut. Dari sana kemudian Sarwadi menyaksikan ada perempuan-perempuan yang satu misi dengan Kartini untuk mengangkat derajat perempuan, salah satunya ketika di akhir film muncul pemeran Acha Septriasa sedang mengajar, setelah sosok anaknya yang ikut meneruskan perjuangan Kartini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun