Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Blogger dan Bidang Sosial

Blogger, Penulis , Traveller

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Legacy" Apa yang Ingin Engkau Tinggalkan?

14 September 2019   20:34 Diperbarui: 14 September 2019   20:35 84 5 1 Mohon Tunggu...
"Legacy" Apa yang Ingin Engkau Tinggalkan?
shutterstock.com

Tidak ada yang kekal atau abadi  dalam hidup ini.  Baik itu pekerjaan, baik itu usia .   Semua ada ada batas usianya , ada batas waktunya.  Ketika waktu sudah jelang tiba, kita harus meninggalkan pekerjaan yang sudah nyaman karena harus pensiun atau sesuatu hal yang menyebabkan kita harus tinggalkan.  Demikian juga dengan usia,  apabila saatnya tiba, entah kapan kita harus dipanggil oleh Allah untuk berpulang kepadaNya.  Ada yang tiba-tiba tanpa sakit, ada yang sudah lama sakit.  Semuanya berlalu  tanpa bisa diprediksi oleh manusia.

Saat kita hidup ini terasa nyaman sering kita lupa bahwa tentang  legacy apa yang ingin  kita tinggalkan apabila kita harus ke luar dari lingkungan suatu pekerjaan atau harus meninggal dunia.  Seolah-olah ingin menikmati kehidupan untuk diri kita sendiri dulu.  Waktunya masih lama, jadi  belum memikirkan tentang  "legacy"  untuk orang-orang yang akan kita tinggalkan.

Sebenarnya apakah legacy itu?   Secara umum, legacy diterjemahkan sebagai warisan.  Tentunya bukan warisan dalam arti harfiah berupa fisik seperti  benda, properti , uang, dana dan sebagainya.   Legacy adalah warisan yang berupa nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi suri teladan bagi orang yang ditinggalkan.  Ada pula yang mengatakan sesuatu yang ingin orang lain mengingat apa yang telah kita lakukan untuk kebaikan bagi perusahaan tempat kita bekerja atau negara tempat kita tinggal.

Ketika seorang teman saya yang baru saja pensiun dari sebuah perusahaan asing ternama dan terkemuka  Dia mendedikasikan dirinya kepada perusahaan itu hampir 28 tahun.  Bukan hanya loyalitas yang menjadi legacy yang ditinggalkan untuk teman-temannya,  tetapi nilai-nilai kehidupan yang diingat oleh teman-teman sekerjanya bahkan atasan CEO sekali pun.

Beberapa anak buahnya sangat terkesan dengan ketepatan dan kedsiplinan kerjanya . Hal ini membuat anak buahnya merasa tidak dikejar-kejar ketika teman saya ini minta agar setiap anak buahnya sudah selesai mengerjakan tugasnya sebelum "deadline".    Ada kesan mendalam saat teman saya itu seolah menjadi "killer" tapi sangat sayang kepada anak buahnya dengan memberikan dorongan agar hidup mereka selalu sehat dengan memberikan vitamin-vitamin yang sering dibagikannya.

Bagi seorang CEO , teman saya tidak pernah berkomunikasi secara langsung  karena masih ada  jenjang struktural yang harus dilewati untuk sampai ke CEO.  Namun,pendekatan yang sangat humanis saat teman saya itu akan pensiun  ditemui oleh CEO . Dia ajak berbicara dari hati ke hati, memberikan perhatian dan apresiasi atas dedikasi dan keberhasilan teman saya ini untuk mampu berkomunikasi dan berunding dengan luwes ketika terjadi perdebatan dengan para ekspatriat yang salah paham dengan kontrak kerja antara expatriat dengan perusahaan.

Legacy teman saya diingat oleh para kolega, anak buah dan atasannya setelah dia akan meninggalkan perusahaan.  Mereka melihat banyak hal positif dan nilai-nilai yang ditinggalkan teman saya itu  selama bekerja di perusahaan.

Ada kelegaan dan kebahagiaan terpancar dari teman saya yang akan pensiun itu karena ternyata dia tak sia-sia meninggalkan perusahaan dengan 'legacy" yang bisa diteladani oleh orang lain.  Bukan suatu hal yang negatif yang ditinggalkannya.  

Begitu pula dengan legacy yang ditinggalkan oleh almarhum Bapak Prof. Ing Habibie,   Presiden Ketiga RI.   Beliau itu punya segudang  "legacy" bagi bangsa ini yang dikenal sebagai bapak inovator dalam kedirgantaraan ,  bapak reformasi dalam bidang ekonomi maupun Pers.  

Sebelum meninggal terus terang saya hanya mengenal beliau sebagai orang yang genius saja, dan tak pernah mengenal apa saja yang telah diwariskan oleh beliau untuk negara ini. Tapi ketika beliau meninggal, terkuak sejarah kehidupan panjang dari mulai kehidupan pribadinya, sampai kepada cinta Beliau kepada ibu pertiwi dengan berjuang memperoleh pendidikan tertinggi di German dan pulang ke tanah air untuk pengabdiannya ,  berani untuk menunjukkan identitas pribadinya yang matang dengan menerima tolakan dari MPR atas pertanggung jawabannya dan tidak egosentris untuk kekuasaan , beliau menyerahkan rakyat untuk memilih presiden,  keseimbangan hidup dalam  iman , intelektual dan cinta .

Lalu bagaimana caranya kita dapat meninggalkan  Legacy yang besar:

  • Berikan Support kepada orang yang sangat penting bagimu:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x