azmi syah
azmi syah

ayah, suami, gurunya mahasiswa, dan manusia biasa aja

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Melawan Diri Sendiri

13 Januari 2018   07:43 Diperbarui: 13 Januari 2018   09:19 2391 0 0

Dr Azmi Syahputra

Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Karno

Titik nol... waktu dini hari yang  semakin sepi, redanya keramaian, dalam pinta ku  pada waktu, berhentilah sejenak .guna memberikan kesempatan untuk menemukan ruang kosong menuju mata hati .. Aku tersentak,  dalam kehening  ini mengusik ingin berdialog dengan diri sendiri, dialog terbuka dan jujur dengan diri sendiri,  waktu menulis ini pun diantara  gedung pencakar langit  , suasana yang terasa lebih  hening ditengah hiruk pikuk  orang orang  yang  biasanya  super sibuk dan padat di Metropoloitan.

Begitulah kehidupan dalam keramaian kadang merasa sepi, dalam kesendirian yang hening hati jernih, mata hati terbuka dan muncullah dialog dengan diri sendiri. Sehingga setiap orang sejatinya punya kesempatan untuk membuat jarak dengan dirinya sendiri, berhenti sejenak untuk membuat dialog, bincang yang sangat pribadi mempetakan kondsi real, detail, menyisir rapat perilaku diri, teliti untuk melakukan penilaian-penilaian  intern diri menurut ukuran ukuran yang semakin mendekatkan dengan keobjetifitasan ( manusia yang layak disebut manusia) peningkatan kualitas kehambaan pada sang pencipta.

Imam Al-Ghazali, Ilmuwan sekaligus sufi yang diberi kesempatan hidup  dan membagikan ilmunya di Abad ke 11 Masehi, menempatkan dan mengibaratkan setiap diri manusia tersebut bagai sebuah kerajaan, dimana hati nurani sebagai rajanya,  akal pikiran sebagai Perdana Menterinya dan indera serta  anggota angota badan tubuh lainnya sebagai  pembantu yang seharusnya tunduk pada sang raja.

Kaki , tangan , mata ini bergerak karena bekerjanya hati dan akal ( koalisi yang jernih dan seimbang  antara Raja dan Perdana Menteri) , ibaratnya raja selalu berdiskusi dengan Perdana Menteri dalam mengambil langkah kinerjanya, demikian pula Perdana Menteri ( akal pikiran)  tidak akan berani melakukan langkah yang diluar batas kewenangannya  dan meninggalkan loyalitas terhadap raja dan negaranya.

Kejayaan atau kehancuran tahta kerajaan tadi sangat dipengaruhi  sejauh mana fungsi dan kedudukan penguasa serta  aparatur aparatnya terjaga secara proporsional dalam tatanan yang harmonis.  Kehancuran kerajaan akan terjadi jika fungsi dan kedudukan tidak berjalan sebagaimana mestinya apalagi saing ribut malah tumpeng tindih fungsinya.

Setiap diri manusia itu setidaknya diminta pertanggungjawaban setidaknya tentang waktunya, ilmunya , tubuhnya dan untuk apa hartanya dan dari mana diperolehnya , sehingga harus berani mengalahkan ego, melawan desakan kepentingan diri sendiri, agar jadi insan yang luhur,  tegas, ikhlas dan kuat), karena orang yang kuat itu adalah orang yang tegas  dengan waktunya, kesehatannya, keuangannya (kepemilikannya) sebaliknya jika ada orang yang lemah dimasa tuanya akibat tidak tegas dimasa mudanya tentang waktunya, kesehatannya, keuangannya (kepemilikannya) dan  untuk diketahui orang yang kuat itu lawan pertamanya adalah melawan dirinya sendiri

bercermin dengan apa yang diilustrasikan oleh Imam Al-Ghazali tadi kita dapat melihat diri sendiri dalam kaitanya dengan  peran dan hubungan perangkat kelengkapan diri yang sudah dianugerahkan Allah kepada setiap diri  sebagai manusia yang hamba dan sekaligus jadi pemimpin dalam kerajaan diri sendiri guna berkontribusi nyata dilingkungan terdekat dan lingkungan kerja  masing masing, operasionalkanlah fungsi fungsi alat kelengkapaan kerajaan  tersebut secara  fungsinya dengan baik  ,benar, bermanfaat serta maksimal

maka marilah sempatkan waktu dari setiap diri untuk berhenti sejenak dimanapun berada, setap orang punya cerita masing masing kehidupan, dapat memilih tempat dan waktu kapan pun untuk berhenti sejenak, merenungi perjalanan kehidupan, mencicipi kembali rekam jejak hidup, mari sesaat memeriksa ulang arah langkah kehidupan ,apakah telah sesuai dengan perkembangan kemampuan diri, apakah telah sesuai dengan suara hati dan akal pikiran ... ilustarikan  jika kamu punya kerajaan, seandainya antara Raja dan Perdana Menteri serta pembantu pembantunya tidak saling singkron, tdak salling menopang positif, "malah saling ribut dan gaduh " maka kerajaan  dalam kehidupan  tidak akan tentram, malah akan hancur berantakan

Terima kasih atas waktu yang masih diberikan  pada dini hari tadi yang sempat membuat aku terhenti sejenak,  tersentak,  bercermin untuk melihat kedalam diri, merenungi perjalanan, menyadari kehilafan , kesalahan, dan mengetahui tujuan dan arah hidup kembali guna menyiapkan bekal perjalanan menuju tujuan, menuju kesadaran, penerimaan, syukur dan menemukan kekuatan melawan diri sendiri.

Kajian Pustaka

Gusmus, Shaleh Ritual Saleh Sosial, Diva Press, Yogyakarta, 2016.