Akhlis Purnomo
Akhlis Purnomo karyawan swasta

An artless penman (www.akhlis.net)

Selanjutnya

Tutup

Regional Pilihan

Rencana Bangun Musala di Depan Kuil Shinto Ini Batal Akibat Diprotes

13 Maret 2018   16:19 Diperbarui: 13 Maret 2018   19:05 457 1 1
Rencana Bangun Musala di Depan Kuil Shinto Ini Batal Akibat Diprotes
www.shutterstock.com

AKHIR-AKHIR INI  kita menyaksikan betapa agresifnya pemerintah Jepang dalam penetrasi mereka di bidang pariwisata ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Ini saya ketahui bukan dari berita di koran atau internet tapi dari unggahan teman-teman saya di media sosial yang kebanyakan kalau berlibur di luar negeri, biasanya memilih Jepang.

Memang kenaikan kunjungan turis Indonesia ke sana cukup tinggi dengan makin murahnya tarif penerbangan pergi-pulang ke negeri matahari terbit itu. Maskapai penerbangan murah makin bersemangat menawarkan tiket murah ke sana. Selain itu, saya saksikan mereka juga mengantisipasi melonjaknya permohonan visa dengan membuka sejumlah tempat penerimaan di luar kedutaan besar mereka di Jl. M. H. Thamrin di Jakarta. Jepang seakan ingin menjemput bola agar turis Indonesia makin mudah berkunjung ke sana.

Naiknya angka kunjungan wisatawan dari negara-negara yang mayoritas muslim di Asia Tenggara rupanya memberikan dampak yang lebih luas daripada hanya sekadar keuntungan dari segi pemberdayaan ekonomi domestik mereka. Karena jumlah muslim di negeri itu sangat sedikit, tentu saja jumlah tempat ibadah untuk mereka juga jarang sekali ditemukan di seluruh penjuru Jepang.

Satu insiden yang baru-baru ini menarik perhatian sebagai akibat dari peningkatan angka kunjungan wisatawan muslim ialah kontroversi yang muncul di sebuah kuil Shinto. Menurut pemberitaan yang disampaikan media Monocle, usulan para pejabat setempat yang ingin mengakomodasi kebutuhan turis muslim akan tempat ibadah yang representatif justru memunculkan polemik. 

Hal ihwalnya begini: sebuah pusat informasi turis di kota Ise, di Jepang bagian barat diusulkan oleh para pejabat untuk direnovasi menjadi ruang multifungsi yang juga dapat dipakai sebagai musholla. Namun, bukannya mendapatkan puja-puji atas tindakan yang seolah penuh semangat toleransi itu malah menuai kritik pedas. Mereka dihujani telepon dan surat elektronik bernada marah atas keputusan tersebut karena lokasi ruang multiguna yang juga musholla itu terlalu dekat dengan kuil itu, tepat di luar kuil Ise Jingu yang disakralkan. Kuil itu konon ialah salah satu dari tempat yang dianggap paling suci di sana. 

Akibat munculnya penentangan dari warga lokal, pemerintahan kota tersebut kemudian mempertimbangkan kembali keputusan tadi dan pekan lalu mereka sepakat untuk mengambil jalan tengah. Mereka masih akan mengakomodasi kebutuhan turis muslim untuk beribadah dengan menyediakan penunjuk arah kiblat saja tetapi tidak secara khusus menyediakan ruangan untuk salat. 

Rencana renovasi pusat informasi turis itu baru dibeberkan pada masyarakat bulan Februari 2018. Lokasinya sendiri sekitar 800 meter dari tempat suci Naiku. Sebetulnya ruangan itu tidak cuma untuk musholla tetapi juga ruang untuk menyusui bagi turis yang membawa bayi dan tempat beristirahat turis yang lelah.

Insiden ini tentu kurang selaras dengan semangat pemerintah kota yang sedang giat-giatnya membangun citra ramah turis terutama bagi turis muslim yang berkunjung. Namun, di sisi lain patut dipahami bahwa adanya antipati itu sangatlah manusiawi dan alami. Kini kita tahu bahwa tidak cuma di Indonesia ada pertentangan pembangunan tempat ibadah. 

Ini adalah sebuah isu yang universal. Dan untuk menghadapinya, diperlukan kedewasaan bukan dari satu pihak saja, entah itu masyarakatnya saja atau pemerintahnya, tetapi dari seluruh komponen penyusun masyarakat itu sendiri. Ada banyak faktor juga di samping semua elemen itu. Dalam kasus kuil Ise Jingu ini, faktor lokasi menjadi yang utama. Bisa jadi andai tempat di depannya itu bukan kuil suci, mungkin saja pembuatan musholla itu bisa terwujud tahun 2019. Seorang pejabat yang kurang setuju mengatakan musholla di dekat pintu gerbang kuil bukanlah ide yang bagus.

Dalam pengalaman saya sendiri, saat saya berkunjung ke Korsel misalnya, mereka menyediakan musholla khusus di beberapa objek wisata tetapi patut diingat bahwa objek wisata itu sama sekali tidak berkaitan dengan tempat penyelenggaraan peribadatan umat lain seperti vihara atau gereja karena di sana agama mayoritasnya ialah Buddha dan Kristen. 

Kembali saya teringat dengan Gereja Kathedral dan Masjid Istiqlal yang dibangun berdampingan. Apakah keharmonisan itu hanya lambang yang kosong? Karena tampaknya tempat ibadah kepercayaan yang berbeda-beda dalam jarak begitu dekat terasa langka. Kecuali Anda tinggal di kota Jerusalem tentunya. (/akhlis.net)