Akhlis Purnomo
Akhlis Purnomo karyawan swasta

An artless penman (www.akhlis.net)

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Mencegah Laut Indonesia Makin 'Plastik'

16 Oktober 2017   15:52 Diperbarui: 16 Oktober 2017   16:00 1269 2 2

Perahu itu membelah laut yang membentang di depan. Sang surya memamerkan keperkasaannya di atas sana, dengan memancarkan sinarnya yang terkuat di siang hari itu. Walaupun cuaca membara, angin yang kencang membuat para penumpang tidak kegerahan.

Saya termasuk dalam rombongan di atas perahu motor itu. Sejak awal menaiki perahu, saya sudah meraih sebuah baju pelampung. Bukan karena itu kewajiban yang harus dipenuhi oleh tiap penumpang dalam rangka formalitas agar tidak ditindak polisi laut yang berpatroli, tetapi karena saya benar-benar tidak mau diri saya celaka. 

Saya tahu benar kemampuan mengapung dan berenang saya masih jauh dari memadai untuk menjelajahi kolam renang sebesar dan seraksasa Laut Jawa di utara ibukota ini. Di kolam renang saja saya masih bisa panik, apalagi di laut yang dalamnya entah berapa ini. Saya tidak mau mati konyol karena tenggelam saat berwisata bahari yang semestinya menyenangkan.


Pria muda pemilik perahu ini bermukim di pulau Pramuka, salah satu pulau kecil yang dihuni manusia di Teluk Jakarta. Ia memimpin rombongan ke sebuah titik di pulau Macan, yang dekat dengan pulau Pramuka, untuk turun menyelam dan menikmati terumbu karang yang konon masih bagus dan bisa dinikmati wisatawan.


Kecepatan melaju perahu kami sedang-sedang saja tetapi itu saja sudah membuat saya agak masuk angin. Langsung saja saya kenakan jaket pelampung untuk melindungi badan dari terpaan angin laut yang tiada ampun. Beberapa yang lain sibuk menikmati pemandangan, bergurau, oleskan tabir surya, mengobrol soal pengalaman menjelajahi laut ini dan pulau itu. Maklum kebanyakan teman seperjalanan saya ini termasuk anak muda penyuka jalan-jalan dan rela menabung lebih banyak untuk bisa berpelesir lebih jauh dan lebih nyaman dan aman daripada menghabiskan uang untuk membeli rumah atau kendaraan.


Sekonyong-konyong perahu kami mandek di tengah laut. Saya tidak panik karena setidaknya pemandu kami ini juga tidak menampakkan kepanikan. Jadi kondisi masih aman dan terkendali.


Pria muda pemandu kami itu menyelidiki selintas lalu. Mesin masih hidup; bahan bakar juga masih cukup; beban muatan juga tidak melebihi batas normal. Tak pelak, ia menduga akar penyebab masalah ada di bawah permukaan air.


Tubuh kurus dan kecokelatan karena terpanggang matahari laut itu pun menepi ke pinggir perahu dan tanpa takut menyelam ke bawah perahu. Begitu ia kembali ke permukaan dan naik ke perahu, tanpa kami tanya, ia menjelaskan kenapa kami berhenti sejenak.

"Baling-balingnya kena sampah jadi tadi nggak bisa muter..."

Saya terkejut juga. Saya pikir laut ini bersih karena cukup jauh dari Jakarta. Permukaan perairan sekitar kepulauan ini juga tampak tidak penuh sampah meskipun harus saya akui saya lihat ada beberapa sampah plastik yang mengapung saat kami tadi mengarunginya. Kantong plastik, bungkus kopi instan, sachet losion anti nyamuk. Kenapa ada orang sebodoh itu mengotori lautan? Protes saya dalam hati.

Sejurus kemudian saya berpikir bahwa saya mungkin juga bagian dari orang-orang itu. Saya amati kebiasaan konsumsi saya. Baiklah, mungkin saya sudah berupaya menghindari penggunaan kantong plastik saat berbelanja di toko atau mall, saya lebih memilih makan di tempat daripada memesan makanan dari luar, meminimalkan frekuensi belanja daring saya (karena paket barang-barang pesanan itu sungguh penuh plastik),

 saya memakai botol isi ulang saat bepergian agar bisa menghindari pembelian air mineral dalam kemasan yang selain mahal juga secara konyol menyesaki daratan dan lautan dengan plastik. Namun, apakah itu semua cukup untuk menghentikan laju polusi sampah plastik yang seakan sudah tidak terbendung lagi?

Pengabaian

Kemudian beberapa waktu lalu, saya mendengar Presiden Jokowi yang selalu mendengungkan  pentingnya infrastruktur di berbagai pelosok Indonesia itu mengumumkan bahwa pemerintahannya terus menggenjot target perolehan jumlah kunjungan wisatawan ke beragam tujuan wisata unggulan seperti Mandalika, Labuan Bajo, Pulau Morotai, hingga Wakatobi (sumber: beritagar.id).

Kita ambil contoh kondisi pulau Komodo tempat Taman Nasional Komodo dan Labuan Bajo yang digadang-gadang sebagai destinasi wisata laris itu beberapa tahun belakangan ini. Di tahun 2013, pihak berwenang di pulau tersebut sudah menyatakan keluhan soal lingkungan yang terpolusi secara masif oleh sampah plastik di lautan. Pantai-pantai di pulau tersebut terus menerus dipenuhi sampah, yang menandakan betapa buruknya penanganan sampah di perairan sekitar pulau (sumber: Kompas.com).

Bayangkan kondisinya saat ini, dengan jumlah kunjungan turis yang makin banyak dan sering ke sana, kita tidak bisa bayangkan lagi volume sampah plastik yang dihasilkan dalam sehari mengingat tingkat konsumsi plastik para pelancong kita yang makin meninggi tetapi tidak diiringi dengan metode penanganan sampah yang jitu. Makin banyak kapal-kapal yang melintasi perairan di sekitar pulau Komodo dan kapal-kapal ini diduga keras membuang sampah sembarangan di laut.

Dan itu baru satu pulau saja!

Salah satu karakter bangsa kita yang paling 'menonjol' ialah kurang berpikir panjang ke depan. Sehingga walaupun mereka tahu bahwa plastik itu sampah, mereka tidak ambil pusing sepanjang tempat hunian sekitar mereka bersih dan sekarang mereka toh tidak merasakan dampak negatifnya. Padahal sampah plastik seperti kita ketahui bersama berbahaya bagi keberlangsungan ekosistem dalam jangka pendek dan jangka panjang. 

Selain dalam segi estetika, sampah plastik mengganggu pemandangan dan kebersihan, secara ekologis dampaknya juga panjang dan mendalam. Ikan-ikan yang kita konsumsi makin 'plastik' karena mereka ikut makan plastik, garam kita juga makin tinggi kandungan plastiknya, satwa laut seperti paus dan penyu mati tercekik sampah plastik yang mereka pikir makanan.

Konsumsi plastik bangsa Indonesia seperti dikutip dari CNN Indonesiasudah mencapai taraf yang sangat mencemaskan. Begitu mencemaskan sampai kita dijuluki secara resmi sebagai bangsa penghasil sampah plastik di lautan kedua terbesar di dunia. Peringkat pertama ialah Tiongkok.

Laut, Tong Sampah Raksasa

Samudera di dunia sudah sejak lama berfungsi sebagai tong sampah raksasa bagi umat manusia. Memang bukan masalah besar selama sampah yang masuk ke laut adalah sampah jenis organik yang terurai secara alami dalam jangka waktu pendek. Tetapi begitu plastik menjadi bahan yang makin populer dipakai dalam industri, tingkat pencemaran sampah plastik di darat dan terutama laut pun melesat. Tidak terkendali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3