Mohon tunggu...
Akhir Fahruddin
Akhir Fahruddin Mohon Tunggu... Perawat

Perawat dari dusun terpencil Sumbawa, NTB yang mengembara ke Saudi Arabia

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

"Andai Saja", Imajinasi Perawat Pemula

15 Agustus 2019   13:00 Diperbarui: 15 Agustus 2019   14:28 0 0 0 Mohon Tunggu...

Andai saja selama di Saudi Arabia saya menabung lebih banyak, bekerja siang dan malam tanpa henti, maka saya bisa membeli semua yang saya inginkan, punya investasi jangka panjang, punya harta tidak bergerak dari hasil menabung, membeli banyak emas dan perhiasan juga membantu sanak saudara yang tidak mampu. Banyak hal yang bisa saya lakukan terutama memberi jaminan pada mereka yang membutuhkan.

Seorang penceramah berujar bahwa pergeseran nilai dan makna bahagia sudah semakin pupus dan hilang ditengah kita. Bahagia yang sejatinya ada didalam dada, bersemayam di jiwa berubah menjadi penuhanan terhadap materi, gila jabatan hingga haus kekuasaan.

Andai saja selama di Saudi Arabia saya bekerja lebih giat maka saya bisa mendapatkan uang yang lebih banyak, dari uang itu saya bisa jalan-jalan keliling dunia, berselfie sesuka ria, kemudian upload di sosial media agar followers semakin banyak bertambah, tentu bahagia akan bisa dirasa dan jadi populer dengan sendirinya. Bagaimanapun, luar negeri memang berbeda ketika gambar dan tempat menjadi objeknya.

Guru saya pernah berujar, jika ingin membantu yang di bawah, maka dirimu harus bisa menjadi kaya, membantu dengan upaya dan kedirian yang ada, sebab miskin bukanlah nasib melainkan hanya kesementaraan. Andai saja saya bekerja cukup lama di luar negeri, 15 sampai 20 tahun, maka saya bisa mewujudkan apa yang guru saya sampaikan, tidak hanya kesalehan sosial yang ada namun juga perubahan dalam mengubah wajah tatanan sosial dengan sumber daya yang saya miliki.

Andai saja saya bisa lebih lama bekerja di luar negeri maka tentunya karir profesi saya akan meningkat, saya akan menjadi senior perawat dengan pengalaman yang banyak, gaji yang baik serta penghidupan yang layak. Pastinya, saya tidak akan meninggalkan luar negeri, saya akan menjadi lebih betah tinggal disana, digaji Negara, hidup dengan kemewahan, jauh dari hingar bingar politik, sudah pasti akan ada banyak junior belajar kepada saya bagaimana membangun karir profesi.

Namun, balik lagi ke awal, itu ANDAI SAJA saya bisa menjadi seperti itu, namun saya bukanlah siapa-siapa. Menjadi tenaga kesehatan dengan pengalaman setahun, bahasa inggris sebisanya, nulis seadanya, mana mungkin dengan secepat kilat bisa mendapatkan apa yang saya impikan.

Tapi yang saya syukuri, saya bisa bekerja dengan baik, betah bekerja dan tidak harus pulang terpaksa karena menolak tempat kerja atau hanya sekedar ingin mengambil rukun penyempurna agama. Saya melewatinya dengan kesyukuran, menjalaninya dengan penuh kesadaran, meski tanpa sertifikat sukses dari tempat bekerja, bagi saya penilaian Allah SWT jadi evaluasi segalanya.

Saya bersyukur bisa menulis cerita yang ada, memotivasi generasi selanjutnya. Menulis itu tidak semudah membaca apalagi menohok pribadi sesama. Kadang dengan menulis, saya merasa bahagia daripada hanya sekedar mengutuk kegelapan yang ada.

Bagi saya, tenar, banyak disukai,  a lot of followers in social media and so on bukanlah tujuannya. Saya bukan tipikal seperti itu, bahagia bagi saya hanya sederhana: rutin membaca, bisa bermanfaat bagi sesama, giat olahraga, tidak merokok dan menjauhi segala larangan yang bisa merusak tubuh.

Saya pernah merasakan bagaimana membangun karir dari bawah, dibayar murah dan dianggap tidak sukses bekerja, pernah disebut perawat gagal hanya karena berhenti bekerja di luar negeri dan melanjutkan kuliah di dalam negeri, pernah dicap penulis gagal hanya karena cerita dari dua, tiga mata. Tapi saya syukuri itu semua, karena segala takdir dari usaha yang ada sudah ditentukan Allah SWT jauh sebelum kita berada.

Saya menikmatinya, sembari terus belajar, menekuni profesi yang ada, karena bagi saya, rezeki setiap manusia memang berbeda namun semuanya akan diberi dalam takaran yang sama, begitupula ujian, semakin tinggi pohon maka semakin keras angin menerpanya. "Bukankah ketika kita mati, rezeki sudah dicukupkan dan bukankah sesudah kesulitan ada kemudahan" itu bekal yang tetap ada di jiwa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x