Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Full Time Blogger - pegiat literasi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Buku De Atjehers series

Selanjutnya

Tutup

Pulih Bersama Pilihan

Mengapa Gempa Cianjur Begitu Merusak dan Mematikan?

27 November 2022   23:04 Diperbarui: 1 Desember 2022   15:18 543
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto-medcom-id-bangunan evakuasi bencana

Fakta yang menyebabkan dampak gempa Cianjur ini begitu merusak dan mematikan adalah bahwa, kedalaman gempa yang dangkal, struktur bangunan tidak memenuhi standar aman gempa, serta lokasi permukiman berada pada tanah lunak (local site effect-efek tapak) dan perbukitan (efek topografi). Berbeda dengan gempa Jogja, maupun gempa Aceh 2004 silam yang kedalaman episentrum gempanya mencapai 100 kilometer di bawah laut.

Musibah kini sedang dialami saudara-saudara kita di Cianjur, Jawa Barat, paska gempa bermagnitudo 5,6, ribuan gempa susulan bertubi-tubi nyaris setiap hari .Gempa susulan itu muncul seiring dengan bergesernya lempeng tektonik di episentrum gempa.

Ibarat reruntuhan bangunan, ada bagian yang masih tertinggal menunggu runtuh dan jatuh dan itu terjadi dalam rentang waktu yang lama. Maka dalam rentang waktu setelah gempa Cianjur yang magnitudonya 5,6, kemudian diikuti dengan gempa susulan sebanyak 259 kali,  (per 27 November 2022) dan tentu saja gempa susulan akan terus terjadi hingga retakan atau patahan tektonik menjadi stabil kembali. Besaran ukuran gema terjadi dalam intensitas yang berbeda-beda.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan kekuatan Magnitudo 5,6 itu terletak di darat pada koordinat 107,05 BT dan 6,84 LS, berjarak sekitar 9,65 km barat daya Kota Cianjur atau 16,8 km timur laut Kota Sukabumi dengan kedalaman 10 km. Gempa ini dirasakan hingga Bandung, DKI Jakarta, Tangerang, Rangkasbitung, dan Lampung.

Peristiwa gempa susulan ini selalu menimbulkan kepanikan yang berulang, apalagi jika bencana terjadi secara mendadak dan jarang. Daerah-daerah tertentu yang masuk dalam kategori area RING OF FIRE atau area cincin api bencana, sudah seharusnya menjalankan protokol siaga bencana sejak awal sebagai antisipasi. 

sumber foto-sindonews-ring of fire
sumber foto-sindonews-ring of fire

Saya ingat ketika sebulan setelah gempa 9,8 skala riechter mengguncang sebagian besar Aceh, saya bertemu dokter dan berkonsultasi untuk membantu persalinan, karena ketika itu kandungan istri sudah memasuki masa sembilan bulan. Setelah kembali dari pengungsian di Medan dengan menumpang pesawat Boeing Jumbo gratis, kami mendapat dispensasi khusus karena membawa penumpang seorang ibu hamil yang menunggu persalinan dalam situasi darurat bencana. 

Beruntung semuanya dalam kondisi selamat dan sehat, meski perjalanan udara itu ditempuh lebih dari 30 menit perjalanan, dan langsung dilarikan ke rumah sakit tersiap. Karena kondisi saat itu hanya beberapa rumah persalinan dengan kelengkapan alat operasi yang siap menerima pasien, karena lainnya hancur atau dokter darurat dari banyak negara yang siaga dilapangan.

Pukul 9 malam, meja persalinan sudah disiapkan dan pasien juga sudah bersiap, tapi tiba-tiba gempa susulan dengan magtitude 8,7 seperti menggeser bangunan, sehingga siapapun yang berdiri dengan segera dapat jatuh tersungkur. Dan pada waktu bersamaan listrik mengalami pemadaman otomatis, sehingga dalam suasana gelap gulita seluruh proses persalinan batal dan pasien  persalinan justru harus dilarikan keluar bangunan.

Beruntung saat itu kami sudah bersiap dengan situasi bahaya, dengan mengetahui jalur keluar dan masuk secara pasti, demikian juga dengan kesiapan senter dan lampu emergency serta berbagai kelengkapan siaga bencana. Sehingga pasien dengan cepat tertolong dan diarahkan menuju jalur evakuasi menuju ke luar kota.

Dan gempa seperti itu nyaris setiap menit dalam skala berbeda selalu muncul, sesekali terasa, namun lebih sering dalam magnitudo rendah sehingga sama sekali tak dirasakan sebagai gerakan. Kami bahkan menganggap gempa skala 3 skala riechter setelah gempa besar tak lagi menjadi kepanikan, kebal dengan sendirinya. 

Hanya beberapa tamu yang berasal dari luar Banda Aceh, yang masih merasakan kepanikan luar biasa, bahkan terhadap gempa 3 skala riechter tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pulih Bersama Selengkapnya
Lihat Pulih Bersama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun