Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Full Time Blogger - pegiat literasi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Buku De Atjehers series

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mestikah Semua "Pengorbanan" Berakhir Di Panti Jompo?

3 Desember 2021   22:44 Diperbarui: 4 Desember 2021   22:08 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Karena seperti matahariyang tak pernah mengharap cahayanya kembali, Ibu hanya mengharapkan perhatian dan kasih sayang kita

Ada sebuah iklan yang begitu menyentuh, tentang seorang pria yang begitu sibuk, sehingga tak pernah peduli dengan ibunya yang diam-diam menunggunya dalam kesepian di rumah, di kampungnya. Ketika kemudian ia berjumpa dengan seorang gadis kecil di sebuah pemakaman, ia penasaran dan kemudian mengikuti si gadis kecil yang ternyata menuju kesebuah makam untuk bercerita dengan ibunya yang telah tiada. Ia tiba-tiba teringat ibunya, dan secepatnya pulang, dan menemui ibunya yang tengah menunggunya.

Aku pernah menuliskan sebuah catatan, ketika kami lama tak bertemu di ruang A Thousand Miles Away-ruang perantara hati, aku dan ibuku.

Memeluk Ibu

Menunggu tak pernah memberi pilihan.
Begitu aku rasa dalam tahun-tahun menanti.
Dimasa itu aku meraba nasib,
Dan panjang aras waktu berlalu begitu saja.
Begitupun rindu ternyata tak sama.
Diam-diam di dalam lubuk ianya menciptakan kegelisahan, rasa menggoda tak tertahankan
Tak berkata-kata kecuali mengalirkan air mata.

Begitulah tahun- tahun berlalu tak biasa,
Diantara rindu dan sendu yang tak berbentuk.
Ketika mewujud temu,
Berhamburan rindu itu melayang-layang tak menentu menuju semua arah.
Sebisanya aku sedu sedan,
Bukan getir galau tapi rindu tertumpah waktu.
Ibu aku ingin lagi memelukmu.

Tanjong Selamat, 22 september 2015

Ingatlah, meski dengan segala keterbatasan, ibu akan selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik buat kita. Ibu berkorban demi anaknya. Apapun dilakukannya asalkan si anak merasa bahagia. Itulah mengapa Menjadi seorang ibu itu tidak mudah, perlu banyak pengorbanan bagi anak.

Ibu paling mengerti tentang kita, tentang kebiasaan jelek kita, makanan favorit kita, atau tempat rahasiamu dibandingkan orang lain

Dulu ibu merawat kita dengan sepenuh hati, berlimpah kasih sayang, meski mungkin tinggal di rumah yang kecil  dengan segala kekurangan. Ibu berkarir dengan kesibukan luar biasa, selalu menyempatkan untuk menemani kita bermain, menemani saat belajar atau datang ke acara sekolah kita.

Apa pekerjaan terberat di dunia menurut kita? mungkin presiden? Bukan! Pekerjaan terberat itu adalah menjadi seorang ibu. Mengandung selama 9 bulan sambil mengalami mual hebat, kemudian melahirkan hingga merasakan sakit yang tak tertahankan. Belum usai semua itu, ibu harus merawat dan membesarkan anak dengan kasih sayang. Bahkan hingga menyita waktu tidurnya, tanpa balas jasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun