Mohon tunggu...
Wuri Handoko
Wuri Handoko Mohon Tunggu... Administrasi - Peneliti dan Penikmat Kopi

Arkeolog, Peneliti, Belajar Menulis Fiksi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Belajar Arkeologi Sambil Meneguk Kopi

25 Juni 2020   10:56 Diperbarui: 25 Juni 2020   23:11 103
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pagi ini, disela waktu menyeduh kopi. Pikiranku melayang ke masa lalu…eh bukan soal romantisme masa lalu. Tapi membayangkan leluhur meramu makanan dan minuman. Adakah mereka juga sudah mengenal kopi? Kopi pertama kali di kenal di Indonesia mungkin sejak zaman portugis. Data arkeologi peninggalan masa kolonial, pabrik kopi di beberapa wilayah di Indonesia, mungkin menjadi bukti…bahwa tradisi minum kopi itu diperkenalkan oleh bangsa eropa. 

Sepertinya orang Portugislah yang pertama kali memperkenalkan kebiasaan itu. Ah…tapi saya tidak akan membahas soal tradisi minum kopi. Saya ingin bercerita soal belajar arkeologi, belajar tentang budaya, belajar tentang kearifan lokal. Sambil meneguk kopi, belajar itu bisa dinikmati, entah menikmati kopinya sambil belajar atau sebaliknya. 

Yang pasti sambil minum kopi semuanya menjadi nikmat, bahkan jika harus puyeng memuter otak untuk memahami materi yang dipelajari. Inti yang saya pikirkan bukan soal kopinya, karena itu kebiasaan rutinku, kenikmatan yang selalu aku hadirkan setiap hari, bahkan setiap saat aku mau.

Belajar arkeologi sambil minum kopi menjadi kerinduan. Apalagi sudah lama sekali tidak pernah mempelajari lagi buku-buku hasil riset arkeologi. Kenapa belajar arkeologi selalu menjadi kerinduan? Ini pengalamanku yang ingin aku sampaikan kepada kalian…bahkan mungkin kepada seluruh dunia yang selama ini tidak paham atau tidak mau memahami dunia arkeologi, sisi dunia yang bagi orang awam mungkin persoalan usang yang tidak penting lagi di tengah episode manusia mengejar kecanggihan teknologi era 4.0…

Bagiku belajar arkeologi itu, tidak hanya soal memahami masa lalu, memahami budaya masa lampau, lebih dari itu, ada pelajaran tentang kemanusian dari sisi yang lain. Bicara arkeologi, maka kita bicara soal kebudayaan, karena arkeologi adalah ilmu yang mempelajari tentang budaya manusia dengan benda-benda produk budayanya. Bicara tentang kebudayaan, tentu bicara pula tentang kemanusiaan, karena bicara tentang kebudayaan, selalu berhubungan dengan manusianya. Karena tingkah laku manusia adalah budaya itu sendiri.

Pelajaran penting dari memahami arkeologi sebagai ilmu tentang masa lampau, adalah melalui menyentuh warisan budaya masa lampau..dalam hal ini adalah benda-benda tinggalan budaya masa lampau, baik berupa artefak, bangunan-bangunan kuno, maupun situs-situs arkeologi yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. 

Beberapa peninggalan arkeologi itu disebut cagar budaya. Mempelajari jejak-jejak masa lampau kiita akan menjadi paham, bagaimana leluhur kita memberi pondasi kehidupan kita sekarang ini. Dari kehidupan berkelompok dari satu tempat ke tempat lain (Nomaden) kemudian kehidupan menetap, berkumpul dan berorganisasi. Dari kelompok-kelompok kecil, kemudian terbentuk organisasi yang besar hingga mencapai tahap yang disebut negara. 

Ada perubahan dan perkembangan kehdupan terjadi, yang telah dialami sekelompok manusia sejak mereka pertama kali mengenal sebuah pranata budaya dan skemata sosial dalam sebuah komunitas tertentu. Entah komunitas kecil apalagi besar, mulai dari kelompok-kelompok kecil (bands), yang bermukim di gua-gua prasejarah maupun lokasi terbuka, munculnya suku-suku (tribals) yang mulai hidup menetap hingga terbentuknya chiefdom (kerajaan) dan state (negara). Setiap kelompok manusia memperoleh dan belajar dari pengalaman sejarah dan budayanya masing-masing.

Dulu, leluhur kita hidup mungkin sekedar survive mempertahankan hidup, seiring waktu, seiring jumlah populasi yang semakin besar, kemudian lahirlah organisasi-organisasi kelompok yang tumbuh dan berkembang mengikuti arus zaman dan perkembangan peradaban. Baiklah...mari kita teguk lagi kopinya...

Pengamalan dari masa lalu menceritakan, bahwa leluhur kita juga mengajarkan bahwa kekuatan di luar kekuatan dirinya adalah kekuatan gaib..ini soal transedental, kehidupan yang berhubungan dengan alam gaib yang memberikan kekuatan bagi tumbuh kembangnya kehidupan manusia. 

Kesadaran batiniah itu, lalu menciptakan tradisi ritual keagamaan, leluhur kita dulu sejak masa yang purba sedang mengenal kekuatan lain di luar dirinya. Oleh karena itu lahirnya upacara-upacara keagamaan. Bukti-bukti arkaik soal itu banyak, sebut saja media-media pemujaan megalitik, arca-arca pwrwujudan dan tempat-tempat media pemujaan yang dipercaya bahwa di tempat itu merupakan tempat yang sakral. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun