Mohon tunggu...
Margaretha Wulandari
Margaretha Wulandari Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Ilmu yang didapat tidak hanya menolong diri sendiri namun juga menolong orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

KKN-T IPB: Penyuluhan 1000 HPK dan Kelas MP-ASI, Upaya Pengentasan Stunting

27 September 2022   12:24 Diperbarui: 27 September 2022   15:57 97 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tim KKN-T IPB 18 Cianjur bersama pihak Kelurahan/Dok. pribadi

Mahasiswa KKN-T 18 Cianjur melaksanakan pengabdiannya selama 40 hari di Kelurahan Bojongherang, Kecamatan  Cianjur, Kabupaten Cianjur pada rentang waktu 22 Juni 2022-1 Agustus 2022. Kelompok KKN-T 18 Cianjur terdiri dari berbagai jurusan yaitu Ilmu Keluarga dan Konsumen, Gizi Masyarakat, Manajemen, dan Ekonomi  Syariah dengan beranggotakan Mahfud Zammi, Cindy Pamphila, Yulindah Wulandari, Rafifah Azzah Sa'diyyah, Salsabila Putri, Siti Kenisya, Nisrina Nadhifah, Rafa Rizqi Khaira, Rahma Putri Sintawati, dan Revanda Amelia Aviandry.  Tim ini didampingi oleh seorang dosen pendamping lapang yaitu Heru Purwandari S.P., M.Si. 

Kelurahan Bojongherang terdiri dari 22 RW  dan 76 RT.  Berbagai program yang dilaksanakan selama KKN diusung dari ragam permasalahan yang muncul di kelurahan tersebut. Salah satu permasalahan yang terjadi di Kelurahan Bojongherang adalah wilayah tersebut masuk ke dalam lokus stunting dengan jumlah balita tervalidasi stunting sebanyak 42 orang. Berangkat dari fenomena yang ada maka mahasiswa KKN-T IPB melaksanakan program penyuluhan dan kelas MP-ASI sebagai upaya pengentasan stunting di kalangan masyarakat. Program yang dilaksanakan tentunya melalui berbagai tahapan yaitu: 1) Konsolidasi awal dengan kunjungan ke berbagai pihak terkait; 2) Edukasi mengenai stunting dan pentingnya 1000 HPK kepada target sasaran; 3) Evaluasi pemahaman melalui pengisian kuesioner; dan 4) Pelaksanaan kelas MP-ASI. Kunjungan dan survei data  dilakukan ke berbagai pihak yang terkait seperti Puskesmas Pesantren, Puskesmas Muka, Penanggungjawab Pelaksana Lapang (PPL), Ketua Divisi KESRA dan ke 22 Posyandu yang ada. 

Berdasarkan hasil survei dan kunjungan, didapatkan bahwa posyandu dengan tiga kasus stunting tertinggi berada  di Posyandu RW 16, 20, dan 21. Setelah penjajakan selesai dilakukan, program dilanjutkan dengan penyuluhan materi stunting dan pentingnya 1000 HPK di 3 posyandu tersebut. Penyuluhan di posyandu RW 16 (13 Juli 2022) dan  RW 20 (21 Juli)  dilaksanakan secara door to door, sedangkan di RW 21 (18 Juli 2022) dilaksanakan secara penyampaian massal. Setelah penjelasan materi, target sasaran diminta untuk  mengisi kuesioner untuk menguji tingkat pemahaman sasaran terhadap materi yang sudah disampaikan. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa seluruh sasaran memperoleh persentase 100% berdasarkan aspek psikomotorik. 

Penyuluhan materi pentingnya 1000 HPK di RW 16/Dok. pribadi
Penyuluhan materi pentingnya 1000 HPK di RW 16/Dok. pribadi

Program dilanjutkan kembali dengan kelas MP-ASi yang dilaksanaakan di Posyandu RW 16 dan RW 21. Kelas diawali dengan pengenalan berbagai tekstur yang harus dipahami orang tua saat akan membuat MP-ASI untuk anaknya. Kemudian dipaparkan juga mengenai kandungan  gizi yang harus tersedia dalam setiap sajian menu  agar mencukupi kebutuhan gizi dan nutrisi pada anak. Setelah pemapran materi secara singkat, demo masak dilakukan oleh anggota tim KKN-T. Demo  masak ini menampilkan dua menut yaitu menu  utama berupa bubur teri bayam dan menu selingan bubur sum-sum buah naga. Kedua menu ini dipilih karena komoditas yang digunakan tersebar secara meluas di wilayah Kelurahan Bojongherang dan harga untuk setiap bahan pangan tergolong cukup ekonomis sehingga dapat diolah oleh berbagai kalangan. 

Menu bubur teri bayam di kelas MP-ASI/Dok. pribadi
Menu bubur teri bayam di kelas MP-ASI/Dok. pribadi

Para ibu yang hadir dalam kelas MP-ASI ini sangat antusias dan menyaksikan secara saksama setiap proses yang ditampilkan. Beberapa pertanyaan yang muncul adalah terkait alternatif bahan pangan lain yang dapat digunakan untuk menu MP-ASI. Produk MP-ASI berupa bubur sum-sum buah naga juga diberikan kepada setiap balita yang hadir pada program ini. Pelaksanaan berbagai kegiatan ini diharapkan mampu mengurangi angka stunting di Kelurahan Bojongherang dan setiap ibu dengan anak balita memiliki kesadaran untuk memerhatikan setiap asupan gizi untuk anaknya. 

Balita yang hadir sedang mengonsumsi bubur sum-sum buah naga/Dok. pribadi
Balita yang hadir sedang mengonsumsi bubur sum-sum buah naga/Dok. pribadi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan