Mohon tunggu...
WS Thok
WS Thok Mohon Tunggu... Wiraswasta

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, pernah bekerja di DKI Jakarta. Tak cuma 'nguplek' di Jawa saja, bersama Kompasiana ingin lebih melihat Dunia.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [3]

5 April 2011   14:44 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:06 7894 4 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [3]
13020132412006962744

Tulisan sebelumnya:

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [1]

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [2]

11.Arjuna, berjari enam

Ketampanan Arjuna diakui tidak ada tandingannya, tidak hanya para putri di marcapada, tetapi juga para bidadari di kahyangan pun terkinthil-kinthil, mabuk asmara kepadanya. Digambarkan istri Arjuna saketi kurang siji, artinya seratus ribu kurang satu atau berjumlah  99.999 orang (yang resmi terdaftar di catatan civil sih cuma 41 orang), itu berarti sama dengan jumlah bidadari penghuni kahyangan. Kelainan fisik Arjuna adalah tangan kanannya berjari enam. Hasil tim investigasi melaporkan sebagai berikut.

Sebelumnya, tangan Arjuna berjari normal, namun karena rasa iri dan serakah, sehingga mendapatkan ibu jari tambahan. Waktu itu Begawan Drona mengajari Arjuna memanah. Semua ilmu memanah sudah diwariskan kepadanya. Ketika Arjuna sedang berburu di hutan, anjingnya menyalak karena membaui ada manusia lain di sekitarnya. Tiba-tiba anjing itu diam dan mulutnya sudah tersumpal tujuh anak panah, mati. Rupanya yang memanah adalah Ekalaya yang segera tiba di tempat sasaran. Arjuna tentu saja marah. Akhirnya saling menantang untuk adu memanah, Arjuna kalah. Arjuna menanyakan siapa guru memanahnya, dijawab: Begawan Drona.

Sontak Arjuna merasa dianak-tirikan oleh gurunya, merasa ilmu yang diberikan belum semuanya. Begawan Drona sendiri pun heran, karena merasa tidak pernah mengajari Ekalaya. Ia teringat Ekalaya yang raja Paranggelung itu memang pernah memohon menjadi muridnya dalam belajar memanah, namun ia menolaknya. Atas tolakan itu Ekalaya bertekad belajar sendiri. Ia masuk hutan dan membuat patung mirip Begawan Drona. Setiap kali latihan, ia menyembah patung itu dan membayangkan seolah-olah Begawan Drona hidup dan sedang melatihnya. Hasil latihan otodidak itu membuat Ekalaya mahir memanah tanpa perlu melihat sasaran.

[caption id="attachment_100238" align="aligncenter" width="300" caption="Arjuna [2"][/caption]

Kumat sifat liciknya, Begawan Drona pura-pura bersedia menerima Ekalaya menjadi muridnya, asal bersedia memotong ibu jarinya sebagai bukti kesediaan (kalau di sekolah mah ibarat ‘uang gedung’). Dengan tulus Ekalaya memenuhi persyaratan itu. Selanjutnya potongan ibu jari itu ditempelkan ke tangan Arjuna (Kresna sering memanggilnya Si Siwil, karena berjari enam). Tentu saja selanjutnya Ekalaya menjadi kurang mahir lagi memanah. Arjuna puas, karena tidak ada lagi yang bisa menandinginya.

Kisah tentang keburukan Arjuna di atas biasanya dipentaskan dalam lakon “Palguna Palgunadi”, Palguna nama lain Arjuna, sedangkan Palgunadi nama lain Ekalaya. Rupanya sifat iri Arjuna tidak hanya terbatas pada kepandaian memanah saja, tetapi juga dengan istri Ekalaya yang sangat cantik, yaitu Dewi Aggraini. Mengandalkan wajah tampan dan pengalaman sukses sebagai playboy, Arjuna berusaha mengajak selingkuh. Namun Arjuna harus gigit jari, Dewi Anggraini sama sekali tidak menanggapi. Karena itulah Dewi Anggraini dinobatkan sebagai lambang istri yang setia.

12.Antareja, berkulit sisik seperti ular

Antareja adalah anak Bima dan Dewi Nagagini. Dewi Nagagini putri Hyang Antaboga di kahyangan Saptapratala (bumi lapis ketujuh) yang berujud seekor naga. Rupanya gen dominan dari Hyang Anantaboga menurun ke cucunya. Kulit Antarareja tidak mulus, tetapi bersisik seperti ular. Tidak diceritakan apakah Antareja nglungsumi, berganti kulit pada waktu-waktu tertentu seperti layaknya ular.

[caption id="attachment_100241" align="aligncenter" width="300" caption="Antareja - Dok Pribadi"][/caption]

Kulitnya tidak mempan ditusuk senjata apapun, karena saat bayi dilumuri ludah oleh kakeknya yang sakti. Lidahnya (bukan omongannya) sangat berbisa, jika jejak telapak kaki seseorang dijilat, maka orang itu akan mati. Buah jeruk yang dijilatinya, menyebabkan pemetik jeruk-nya mati, makanya banyak negara waktu itu yang takut mengekspor jeruk ke Saptapratala (kalau ini mah jangan dipercaya, lha wong cuma imajinasi penulisnya saja kok, hehehe…. Maaf!). Mungkin dia mingkem (menutup mulut) saja saat mencium istrinya.

Dalam sebuah versi, salah satu pihak yang berani mengadakan upacara ‘tawur’, yaitu mengorbankan diri, dipercayai akan menang dalam perang Baratayuda. Antareja yang berafiliasi ke pendawa mengajukan diri untuk menjadi korban ‘tawur’ ini. Ia menjilati tapak telapak kakinya sendiri dan mati. Terbukti di kemudian hari perang Baratayuda dimenangkan oleh pendawa.

13.Aswatama, berambut dan bertelapak kaki kuda

Aswatama anak Bambang Kumbayana dan Dewi Krepi (versi lain menyebut dengan Dewi Wilutama, yang dikutuk menjadi kuda terbang) yang mempunyai kesaktian dapat beralih rupa. Ketika Bambang Kumbayana ingin menyusul saudaranya, Bambang Sucitra, langkahnya terhalang samudra luas. Ia bersumpah, siapa saja yang bisa menyeberangkan, kalau pria akan dianggap saudara, kalau wanita akan diperistri.

Waktu itu Dewi Krepi yang dalam mimpinya mendambakan pria ganteng bernama Bambang Kumbayana, mendengar sumpah itu, dan menjelma menjadi kuda sembrani yang bias terbang, bersedia menyeberangkan asal Bambang Kumbayana menepati sumpahnya. Karena tidak ada pilihan, Bambang Kumbayana menyanggupi.

Selama dalam ‘penerbangan’ itu, kuda sembrani selalu menghindari daratan, membuat jengkel Bambang Kumbayana. Timbul watak jahatnya, ia menodai kehormatan Dewi Krepi, sehingga hamil. Akibat kehamilan yang makin lama makin berat, kuda sembranipun mendarat, yang bersamaan dengan lahirnya bayi yang dikandungnya. Kuda sembrani berubah ujud menjadi Dewi Krepi kembali. Bayi yang dilahirkan itu berambut dan bertelapak kaki kuda, dan diberi nama Aswatama. (Menjadi tanda tanya saya, dalam bentuk wayang kulit, kakinya seperti kaki manusia biasa, bukan kaki kuda)

Mereka kembali ke kerajaan Tempuru, dan Bambang Kumbayana diterima menjadi menantu oleh Raja Tempuru, yang tidak lain adalah ayah Dewi Krepi sendiri. Dalam pertunjukan wayang kulit, Begawan Drona sering diledek oleh Patih Sengkuni dengan menyuarakan ringkik kuda, mengingatkan masa lalunya yang memalukan.

[caption id="attachment_100243" align="aligncenter" width="300" caption="Aswatama - [2"][/caption]

Drona sangat mencintai anaknya dan mendidiknya bersama-sama dengan murid lainnya, yaitu pendawa dan kurawa. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, Aswatama mewarisi sifat buruk ayahnya. Selesai perang Baratayuda, melalui terowongan bawah tanah yang dibuatnya sendiri, ia membunuhi para kerabat pendawa yang sedang tidur, yaitu: Drestajumna (pembunuh ayahnya, Begawan Drona), Srikandi dan Pancawala (anak Puntadewa), gagal mengincar Parikesit yang waktu itu masih bayi. Parikesit ini menggantikan Puntadewa menjadi raja Astina dan selanjutnya lengser digantikan anaknya, yaitu Yudayana.

14.Gareng, bermata juling dan bertangan ceko

Gareng dianggap anak tertua Semar. Badannya kecil, matanya juling, hidungnya bulat seperti jambu batu, ditengkuknya ada punuk, tangannya ceko/tidak lurus, tumit kakinya bubulan sehingga jalannya pincang.

Salah satu versi mengisahkan, semula Gareng bernama Bambang Sukadadi dari padepokan Bluluktiba, sedangkan Petruk bernama Bambang Precupanyukilan dari Padepokan Kembangsore. Keduanya adalah ksatria tampan dan gagah. Mereka berdua hobi petualang (kalau sekarang, backpacker-lah). Suatu ketika mereka ketemu dan saling pamer, merasa dirinya paling tampan dan gagah. Karena tidak ada yang mengalah, maka terjadi duel. Karena sama-sama sakti tidak ada yang kalah dan menang, hingga dihentikan oleh Semar.

[caption id="attachment_100240" align="aligncenter" width="610" caption="Punakawan - Dok Pribadi"]

13020130011963101541
13020130011963101541
[/caption]

Dengan kata-kata bijaknya, semar memberi nasehat, bahwa yang paling sakti adalah yang bisa mengalahkan diri sendiri. Sedangkan tentang ketampanannya, Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan disuruh bercermin di sebuah telaga. Ternyata wajah mereka berubah aneh. Berdua menyesali ujudnya. Namun Semar menghibur, yang penting bukan tampan dan sakti, melainkan bagaimana pengabdiannya pada sesama. Sejak itu mereka berdua insaf dan ikut Semar yang sudah dianggap seperti bapaknya, sekaligus ganti nama Gareng dan Petruk. Di jaman itu mudah saja ganti nama, sebab tidak harus repot-repot mengurus perubahan identitas di KTP, SIM, Sertifikat Tanah, Ijazah, Paspor, Surat Nikah, IP, dll.

15.Petruk, berhidung panjang

Petruk anak kedua Semar. Ia berhidung panjang, tinggi, pusarnya bodong. Penampilan fisik itu bukan sejak lahir, melainkan akibat perkelahian dengan Bambang Sukadadi (lihat: 14. Gareng, …)

Tentang Petruk bisa dilihat juga di tulisan saya sebelumnya:Penampakan Petruk Sepanjang Jalan Purworejo hingga Magelang

16.Bagong, berbibir ndower

Bagong, arti katanya: Belakang. Bagong yang gemuk pendek, matanya mlolo (lebar), berbibir tebal dan panjang (ndower) itu berasal dari bayangan Batara Ismaya atas sabda Sanghyang Tunggal. Itu adalah atas permintaan Semar kepada ayahnya, Sanghyang Tunggal saat bertugas di marcapada ada yang menemani.

Lagak lagunya seperti kekanak-kanakan, enfant terrible, lugu, suaranya besar agak serak, tingkah lakunya menjengkelkan, ngeyelan tetapi selalu benar.

BERSAMBUNG KE:

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [4]

----------------

[1] Sagio dan Ir. Samsugi, Wayang Kulit Gagrak Yogyakarta, CV HAJI MASAGUNG, Jakarta, cet.1, 1991.

[2] SENA WANGI, Ensiklopedi Wayang Indonesia, PT Sakanindo Printama, Jakarta, 1999.

[3] Ensiklopedi Wayang Purwa, Balai Pustaka, Jakarta, 1991.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x