Maria Wiedyaningsih
Maria Wiedyaningsih wiraswasta

Read. Read. Read. Write.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Bahasa Indonesia, Lebih Eksotis!

25 September 2012   16:48 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:42 3127 0 0

Tetikus. Tenggat. Griya tawang.

Benar-benar deretan kata yang acak. Akan tetapi, sila pikirkan kembali. Sebenarnya, meskipun sedikit dipaksakan, kata- kata ini berhubungan. Ya, kata-kata ini sepertinya lebih dikenal dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Mouse. Deadline. Penthouse.Bukankah kata-kata ini lebih sering terdengar?

Griya tawang. Saya mendengar, tepatnya membaca kata ini beberapa tahun lalu. Dalam sebuah subtitle film berbahasa Inggris. Kata tersebut dalam bahasa Indonesia, tapi kata ini begitu aneh dan tidak saya mengerti. Penguasaan bahasa Inggris saya yang terbatas, membuat saya tidak bisa mengartikan langsung dari dialog dalam film. Beberapa waktu kemudian, saya mendapati kembali kata tersebut. Untung kali ini saya cukup bisa mengikuti dialog tokoh-tokohnya, sehingga bisa mengartikannya langsung. Hm, ada apa ini? Ada teks dalam bahasa Indonesia, dan saya justru tidak paham? Akan tetapi, pasti bukan saya saja yang mengalami hal ini. Bukankah lebih memahami istilah asing daripada istilah dalam bahasa Indonesia sudah begitu jamak bagi orang Indonesia?

Baiklah. Mungkin kita hanya menemukan ‘griya tawang’ dalam film. Akan tetapi bagaimana dengan kata-kata lain, yang lebih sering digunakan dalam hidup sehari-hari? Semakin banyak istilah asing yang digunakan. Untunglah, biasanya istilah Indonesianya kadang menyusul, tidak jarang menjadi lebih populer. Seperti kata download dan upload beberapa waktu lalu. Padanan kata dalam bahasa Indonesianya kemudian juga dikenal, unduh dan unggah. Handphone? Untunglah kita segera menemukan ‘ponsel’.

Kenapa istilah asing sering atau lebih sering dipakai daripada istilah dalam bahasa Indonesia? Sepertinya ada beberapa alasan. Mungkin jika memakai padanan kata bahasa Indonesianya, justru membuat kalimatnya menjadi lebih sulit dipahami. Mungkin, sesuatu yang ‘baik dan benar’ kadang-kadang sulit untuk dilakukan, atau bisa jadi membuat banyak orang mundur pelan-pelan. Mungkin, memakai istilah dalam bahasa Indonesia terdengar kaku, dan istilah asing bisa jadi terasa lebih santai. Mungkin, menyebut istilah dalam bahasa Inggris terasa lebih keren daripada memakai istilah Indonesia.

Jika alasannya yang terakhir, yaitu karena terasa lebih keren, mari kita lihat kembali. Saya akan mengurutkan beberapa kata. Kata yang pertama adalah bahasa Inggrisnya, dan kata berikutnya padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Contact person – narahubung. Timeline – lini masa. Hacker – peretas. Link – pranala. Wireless – nirkabel. Online – daring.

Tambahkan kata lain jika Anda menginginkannya. Bacalah pelan-pelan, lalu resapi. Apakah Anda merasakan sesuatu? Mungkin ini hanya pendapat saya saja, tetapi menurut saya kata-kata dalam bahasa Indonesia punya aura lebih. Lebih indah, lebih eksotis. ‘Bahasa Indonesia lebih eksotis’. Bisakah ini dijadikan semacam ‘virus’? Kita mungkin mundur pelan-pelan karena ‘menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar’ terasa kaku. Menganggap bahasa Indonesia lebih eksotik mungkin akan membuat kita menjadi lebih tertarik memakainya. Tentu jika ‘berbahasa Indonesia yang baik dan benar’ terasa menyenangkan, Anda tidak perlu berpikir jauh-jauh lagi.

Seorang aktivis perempuan di televisi pernah membuat saya benar-benar kagum. Beliau memilih ‘penyintas’ dan bukannya survivor. Beliau bukan sedang menuliskannya, tapi memakainya secara lisan. Beliau, dalam bahasa lisan bisa menggunakannya, jika kita ingin menirunya tapi sering keseleo lidah, kita bisa memulainya dari tulisan. Lalu mungkinkah televisi, sebagai media yang berpengaruh untuk masyarakat, melakukan hal yang sama. Alih-alih headline, bisakah mereka menyebut tajuk utama atau istilah dalam bahasa Indonesia lainnya?

Ah, ada satu kata yang hampir terlewat. Merancap. Saya membacanya dalam salah satu subtitle film. Saya tak bisa mengartikannya dari konteks kalimat-kalimat lain. Karena akhiran yang sama, saya berpikir merancap tersebut semacam mengecap. Sampai suatu saat saya demikian penasaran dan mencarinya dalam kamus. Ya, tentu saja kata ini terdengar lebih nyaman dari istilah asingnya. Arti kata tersebut benar-benar membuat saya kaget. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan saat saya menganggap artinya semacam mengecap, lalu bicara di depan banyak orang, “Kemarin saya merancap bakso.” Uh oh. Untungnya tidak!