Mohon tunggu...
wiwik kurniaty
wiwik kurniaty Mohon Tunggu... Administrasi - mahasiswa

mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Merawat Generasi Penerus agar Lebih Toleran

28 Februari 2019   08:58 Diperbarui: 28 Februari 2019   09:57 33
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tak dipungkiri, generasi muda saat ini banyak sekali pengaruh buruk yang menghampirinya. Aksi tawuran antar pelajar masih saja marak terjadi. Hampir setiap bulan, setiap minggu, bahkan mungkin setiap hari selalu saja ada tawuran antar pelajar di negeri ini. Tidak hanya korban luka, aksi brutal itu seringkali berujung pada korban jiwa. 

Aksi geng motor juga masih seringkali masih kita dengar. Disisi lain, propaganda radikalisme di dunia maya, seringkali juga mengantarkan para generasi muda kita ini menjadi generasi yang intoleran dan cenderung radikal. 

Mereka sering menebar kebencian antar sesama. Bahkan, sentimen SARA pun seringkali menjadi konsumsi berita bohong dan kebencian di tahun politik ini. Dan ujung-ujungnya, ketika ego dan amarah tak terkendali akibat provokasi, persekusi pun menjadi ancaman tersendiri di era demokrasi ini.

Contoh kejadian diatas semestinya memang tidak terjadi di Indonesia. Karena Indonesia pada dasarnya tidak mempunyai budaya tawuran, budaya saling membenci, mencaci dan persekusi. 

Budaya Indonesia sangat menghargai perbedaan dan keberagaman. Berbagai macam suku yang ada di Indonesia, tidak ada yang mengadopsi budaya menyerang, baik itu dalam bentuk psikis ataupun fisik. 

Suku-suku di pedalaman seperti Papua pun, ketika berbeda pendapat yang berujung pada kekerasan fisik, setelah itu mempunyai budaya bakar batu, dimana diantara para pihak yang bertikai saling meminta maaf. 

Karena itulah, dalam nilai-nilai Pancasila pun juga sangat mengedepankan toleransi, saling menghargai, menjagai persatuan, bermusyawarah ketika ada perbedaan pendapat, dan mengedepankan keadilan sosial.

Di tahun politik seperti sekarang ini, memang banyak sekali kepentingan kepentingan yang tidak jelas bermunculan. Upaya untuk duduk di kursi kekuasaan dilakukan dengan berbagai cara. 

Tak terkecuali menebar kebencian dan kebohongan di dunia maya. Sementara itu, anak-anak muda yang angkanya cukup besar sebagai pemilih pemula, rawan sekali menjadi korban provokasi jika tidak membekali dirinya dengan literasi yang kuat.  

Karena tidak sedikit diantara anak-anak muda yang menjadi korban provokasi, dan akhirnya ikut menyebarkan pesan-pesan kebencian dan kebohongan tanpa melakukan saring sebelum sharing.

Mari kita sudahi perilaku saling membenci dan mencaci. Mari kita sudah persekusi dan budaya tawuran diantara generasi muda. Ingat, Indonesia adalah negara besar yang sangat membutuhkan kontribusi nyata dari para generasi penerusnya. Jika generasi penerus sibuk mencari kejelekan orang lain, mempertahankan ego dan amarahnya, akan sangat rugi sekali negeri ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun