Mohon tunggu...
Wiwien Wintarto
Wiwien Wintarto Mohon Tunggu... Penulis serba ada

Penulis, sejauh ini telah menerbitkan 29 judul buku, 17 di antaranya adalah novel, terutama di PT Gramedia Pustaka Utama. Yang terbaru adalah novel Elang Menoreh: Perjalanan Purwa Kala (terbit 1 November 2018) terbitan Metamind, imprint fiksi dewasa PT Tiga Serangkai.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Mengenal "Artificial Law" dalam Cerita Nonrealis

4 November 2015   18:16 Diperbarui: 4 November 2015   20:00 0 10 2 Mohon Tunggu...

Tempo hari kita sudah mendiskusikan tema bahasan dalam cerita fiksi. Agar cerita fiksi—whether it’s film, sinetron, cerpen, atau novel—bisa meyakinkan pas dinikmati, tema bahasan harus detail dalam pemaparannya. Dan agar tampak detail, paparan tema apa pun harus seakurat mungkin dengan wujud asli serta teknis dan proseduralnya di dunia nyata.

Saat menampilkan dunia kepolisian, hadirkan sedekat mungkin dengan kenyataan dalam detail. Jangan hanya menyebut “kantor polisi”, tapi apakah itu polsek, polres, polrestabes, polda, atau mabes. Dan saat berlatar Indonesia pasca-1998, jangan ada lagi tokoh polisi berpangkat kapten atau letnan. Ntar kelihatan kalau nggak pernah baca berita.

Kuncinya simpel, tiru saja segala yang ada di dunia nyata soal kepolisian, militer, jurnalistik, olah raga, perdukunan, kedokteran, anything—beserta rincian istilah masing-masing. Masalah muncul saat kita menuliskan cerita dengan genre yang tidak realis, seperti fantasi, horor, atau fiksi ilmiah. Detal tema bahasannya harus ambil dari mana wong semuanya tak ada satu pun yang eksis di dunia nyata?

Soal komponen mesin dan kabin-kabin kapal antarbintang buat angkutan dari Bumi ke Alpha Centauri, ambil dari mana? Soal tata krama pergaulan antara makhluk cebol dan makhluk peri setengah dewa, harus wawancara ke siapa? Soal mana lebih kuat antara pocong dan kuntilanak, harus riset dan bikin perbandingan benchmarking dengan cara apa?

Untuk keperluan itu, penulis fiksi memerlukan apa yang disebut Artificial Law, alias Hukum Buatan. Di sini, penulis mencipta hukum, alam dunia, dan aturan-aturan sendiri yang menaungi keseluruhan semesta logika cerita bersangkutan. Selanjutnya, dalam penulisannya, ia hanya perlu mematuhi seluruh hukum yang ia ciptakan sendiri.

Salah satu contoh Artificial Law paling jenius yang pernah kulihat ada di rangkaian serial Star Trek. Di situ, makhluk planet dari tlatah mana pun selalu digambarkan berpostur badan mirip manusia. Hanya variasi kecilnya saja yang beda. Misal warna kulit, bentuk wajah, model rambut, maupun gaya pakaian dan dandanan.

Semua terjadi tentu saja karena keterbatasan bujet dan pencapaian teknologi sinematek. Kala itu (Star Trek: The Original Series tayang 1966-69) belum ada efek spesial dan animasi komputer secanggih zaman sekarang. Maka para penonton kritis pun lantas galau. Makhluk Bumi saja bermacam-macam dari segi bentuk dan ukuran, masa makhluk antarplanet bentuknya sama semua?

Penjelasan “ilmiah” untuk fenomena itu kemudian muncul di serial kedua franchise Star Trek, yaitu Star Trek: The Next Generation yang tayang tahun 1987-1994. Di situ dijelaskan tentang adanya satu leluhur tunggal yang menurunkan semua makhluk ras humanoid, salah satunya adalah yang ada di planet Bumi, yaitu kita. Karena berasal dari leluhur yang sama, tak heran bentuknya juga mirip.

Ini sudah pasti karangan—hasil imajinasi, tapi sudah cukup menjelaskan keresahan yang tadi. Baru sesudah itu, di berbagai serial fiksi ilmiah lain, muncul ras-ras planet lain dengan tipe dan wujud yang sama sekali beda, terutama setelah teknologi animasi memungkinkannya. Ada yang mirip serangga, ada yang hanya berwujud gas, dan Duta Besar Kosh dari bangsa Vorlon di serial Babylon 5 malah tak ketahuan bagaimana wujud persisnya.

Adanya persyaratan untuk membuat Artificial Law menjadikan genre fantasi dan sci-fi punya tingkat kesulitan lebih tinggi daripada genre drama, romance, melodrama, komedi romantis, dan bahkan kriminal serta thriller politik sekalipun. Pada cerita-cerita realis, payung hukumnya sudah ada, dan tinggal diambil lewat riset. Sedang pada genre fantasi dan sci-fi, “payung hukum” sebab-akibat itu harus diciptakan dulu sebelum cerita mulai ditulis.

Dan itu harus total dikerjakan dulu, agar nanti saat nulis tidak bolak-balik antara melanjutkan cerita dengan menambah serta menambal bolong-bolong keseluruhan hukum yang berlaku. Bayangkan proses kreatif JRR Tolkien saat menulis serial The Lord of the Rings. Ketika tulisannya sampai pada bagian Frodo cs. tiba di Rivendell dan bertemu makhluk Elf, ia harus balik lagi ke catatan latar belakang untuk menambahkan deskripsi soal Elf, situasi alam Rivendell, plus rute perjalanan dari kampung Hobbit ke sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
4 November 2015