Wahyu Triyani
Wahyu Triyani karyawan swasta

Happy Wife, Happy Mom, Blogger, and Author

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Geliga Krim Otot, Rahasia Bebas Pegal Saat Travelling

9 Januari 2018   12:34 Diperbarui: 9 Januari 2018   12:50 241 0 1
Geliga Krim Otot, Rahasia Bebas Pegal Saat Travelling
Geliga Krim Otot, Rahasia Bebas Pegal Saat Traveling

Zaman now, yang namanya travelingseolah sudah menjadi kebutuhan primer setiap orang. Bukan hanya demi sebuah keeksisan atau sekadar pamer foto di sosial media saja, akan tetapi traveling memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang tidak bisa dihindari. Hal ini terbukti dari banyaknya tempat-tempat wisata baru yang sebagian besar menawarkan spot-spot kece yang instagramable.

Bicara soal traveling, kini banyak sekali tempat-tempat wisata alam yang menarik perhatian. Akan tetapi, untuk mencapai tempat-tempat wisata tersebut bukanlah satu hal yang mudah. Apalagi untuk tempat wisata alam. Mulai dari perjalanan jauh, kondisi jalan yang bisa jadi naik turun, dan sebagainya.

Sebagai seorang blogger yang juga mempunyai blog yang membahas soal traveling, saya sendiri bisa dibilang sering traveling. Meskipun kapasitasnya tidak sesering mereka para travel blogger. Karena saya seorang yang mempunyai pekerjaan di dunia nyata, waktu buat saya traveling bisa dibilang terbatas.

Saya punya beberapa cerita traveling selama tahun 2017. Cerita traveling yang menyenangkan namun butuh perjuangan. Cerita traveling yang tak hanya menyisakan foto-foto yang kece buat dipajang di sosial media, akan tetapi cerita traveling yang akhirnya membuat badan pegel-pegel.

Taman Satwa Taru Jurug, Solo

Liburan awal tahun 2017, saya bersama keluarga kecil saya mengunjungi Taman Satwataru Jurug. Saya sengaja memilih Jurug karena tempatnya bisa dibilang dekat dari rumah, motoran kurang lebih hanyai&qq[q satu jam, dan meskipun tidak komplit binatangnya tapi cukuplah untuk mengenalkan binatang pada anak saya.

Kala itu, anak saya baru berusia 2 tahun lebih 3 bulan. Tapi jangan ditanya, diusianya yang baru menginjak 2 tahun dan sedang aktif-aktifnya, Arjuna---anak saya---adalah anak yang tidak bisa diam, tidak mau digendong dan suka lari-larian. Jadi, saat berkeliling di Jurug, saya dan suami tidak capek karena menggendongnya, melainkan capek karena mengejar-ejar dia yang kepo dengan binatang-binatang yang dilihatnya.
Jangan ditanya bagaimana capeknya. Mengejar-ejar anak usia 2 tahun yang sedang aktif-aktifnya itu lelahnya bikin semua tubuh langsung pegel. #hayatibutuhpijitan, Bang...

Gancik Green Hill

Sering melihat foto-foto Gancik di instagram membuat saya kepo dan ingin mengunjunginya. Apalagi Gancik ini berada di kabupaten Boyolali, rasanya kok enggak banget kalau saya orang Boyolali tapi belum pernah ke Gancik.

Di suatu weekend, saya dan keluarga saya sengaja merencakan perjalanan ke Gancik. Hanya butuh waktu 45 menitan untuk menuju Gancik. Saya yang baru pertama kali ke Gancik, saat itu kaget melihat kondisi jalan yang harus saya tempuh. Apalagi waktu itu saya mengajak anak saya. Saya merasa bersalah dan salah tempat.

Bagaimana tidak?

Area parkir dan Gancik sendiri berjarak hampir 2 km. Untuk menuju Gancik saya dan keluarga harus berjalan naik---seperti orang naik gunung. Saat itu saya mengajak anak kecil usia 2 tahunan yang tidak mungkin saya biarkan berjalan sendiri. Bayangkan, naik gunung dan menggendong anak yang berat badannya 10 kg lebih? Baru seperempat perjalanan saja saya sudah menyerah. Tapi untungnya, ada ojek yang mau mengantarkan saya dan keluarga menuju puncak Gancik. Cukup merogoh uang Rp 10.000,- perojek, saya dan keluarga sudah mencapai puncak nya.

Sampai di atas memang pemandangannya sangat indah. Udara agak dingin tapi sejuk. Banyak spot-spot kece yang instagramable dan dari Gancik, kami bisa melihat keindahan kota Boyolali.

Gancik ini tepatnya berada di lereng Merbabu. Bisa dibanyangkan, betapa indahnya pemandangan dari Gancik? Tapi juga bagaimana rasanya berjuang menuju Gancik? Kapok... tapi ingin ke sana kembali.

  • Taman Pintar

Saya dan keluarga pergi ke Taman Pintar saat libur lebaran. Lagi-lagi saya mengajak anak saya (yaiyalah, wong ke Taman Pintar kan memang mau nyenengin anak).

Di Taman Pintar ini memang tempatnya tidak naik turun, tempatnya asyique, dan di dalam ruangan. Tapi jangan salah, saat saya mengajak anak saya ke Taman Pintar, saya kembali merasakan hal yang sama dengan saat saya mengajaknya ke Taman Satwataru Jurug.

Area Taman Pintar yang luas, banyak hal-hal yang membuat anak merasa takjub, Arjunapun kepo dan lari ke sana-kemari. Dia yang usianya sudah hampir 3 tahun, larinya semakin cepat saja. Jujur, saya dan suami semakin kewalahan mengejarnya.

  • Candi Ijo -- Tebing Breksi -- Ratu Boko

Candi Ijo -- Tebing Breksi -- Ratu Boko. Traveling kali ini saya hanya berdua dengan suami. Akan tetapi, mengunjungi ketiga tempat itu juga bukan hal yang mudah. Selain jalan menuju Candi Ijo yang menajak, area Candi Ijo juga luas. Yang namanya traveling, sayapun juga tidak mau melewatkan satu spotpun.

Sementara ke Tebing Breksi? Tebing Breksi ini berada di bawah Candi Ijo. Areanya sama-sama luas. Akan tetapi, spot-spot di Tebing Breksi ini naik turun. Dan kalau boleh jujur, saya lebih suka berkeliling di Candi Ijo daripada Tebing Breksi. Di Candi Ijo itu udara sejuk, sementara di Tebing Breksi cenderung panas.

Dan perjalanan terakhir adalah ke Ratu Boko. Meskipun Ratu Boko ini bisa dibilang yang paling dekat daripada ke Candi Ijo dan Tebing Breksi, tapi area Ratu Boko ini paling luas. Enggak Cuma butuh sejam dua jam untuk berkeliling Ratu Boko.

Di Ratu Boko, banyak sekali situs yang bisa dipelajari. Akan tetapi, saya hanya mengujungi beberapa situsnya saja. Sudah capek, itu adalah alasan saya tidak mengelilingi Ratu Boko.

  • Wisata Alam Grenden -- Hutan Pinus Kragilan

Ke Wisata Alam Grenden dan Hutan Pinus Kragilan, Magelang ini saya juga hanya berdua dengan suami saya. Jalan menuju ke dua tempat ini berkelok dan menanjak, saya dan suami naik motor. Perjalanannya saja sudah membuat badan pegal-pegal.


Area Hutan Pinus Kragilan sih menurut saya areanya aman dan tidak membuat badan pegal. Berbeda dengan Wisata Alam Grenden yang lebih luas dan naik turun. Hmm, di Wisata Alam Grenden ini kita seperti sedang out bond untuk menuju spot satu ke spot satunya. Akan tetapi, meskipun perjalanannya bikin pegal, semua terbayar lunas dengan pemandangan hutan pinus yang menyejukkan.

Kelima cerita perjalanan traveling itu memang seolah membuat saya kapok, tapi kapoknya kapok kangen. Sehabis traveling, badan memang pegal-pegal, tapi di balik badan pegal-pegal ada kenangan, cerita, pengalaman dan wawasan baru. Kalau ditanya apakah tahun ini pengen traveling, saya sich akan menjawab kalau saya ingin semakin sering travelingdan semakin jauh travelingnya.

Sedikit cerita, traveling itu banyak sekali manfaatnya, diantaranya :

  1. Traveling membuka mata kita, memberikan perspektif dan membantu kita bergerak ke depan
  2. Traveling memberikan kita edukasi
  3. Menciptakan hubungan yang penuh dengan makna
  4. Belajar bahasa baru
  5. Penuh tantangan
  6. Mengembangkan keterampilan

Pegal-pegal saat traveling?

Badan pegal karena traveling itu mah wajar. Wong Cuma leha-leha di rumah saja terkadang juga bikin badan pegal. Jadi kalau pegal karena habis traveling mah wajar saja.

Kalau dulu nih, pegal-pegal itu memang jadi masalah, etapi kalau sekarang sich no problem. Kemanapun dan kapanpun, di tas saya selalu ada Geliga Krim Otot. Jadi, mau apapun aktivitasnya, ke manapun travelingnya, di tas mah wajib ada Geliga Krim Otot.

Review Geliga Krim Otot

Geliga Krim Otot adalah krim yang membantu meredakan rasa sakit dan nyeri punggung, pundak, nyeri pada persendian, keseleo, kram dan masalah otot lainnya.

Geliga Krim Otot ini terdiri dari 2 kemasan, yaitu kemasan 30 gr dan 60 gr. Di kemas dalam kemasan tube dengan tutup fliptop yang kokoh sehigga tidak mudah tumpah, dibalut dengan dusbox atau kardus. Tutup kardus di segel dan tube sangat mudah digunakan.

Di dalam box karton dan tubenya juga ada informasi-informasi seperti diproduksi oleh, kegunaannya, cara pemakaian sampai dengan bahan aktif yang digunakan di dalam Geliga Krim Otot. Yang lebih saya suka lagi, Geliga Krim Otot ini sudah lulus BPOM dan kemasannya juga ada tanggal expirednya.

Geliga Krim Otot ini berwarna putih, baunya tidak menyengat, lembut dan tidak lengket.

Kesimpulannya, kapanpun dan ke manapun travelingnya, Geliga Krim Otot adalah parthnernya. Traveling OK, pegal-pegal KO.

#HappyTraveling