Win Wan Nur
Win Wan Nur wiraswasta

Saya adalah orang Gayo yang lahir di Takengen 24 Juni 1974. Berlangganan Kompas dan menyukai rubrik OPINI.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Keras Kepala BBKSDA Jatim Mengancam Keindahan Kawah Ijen

12 November 2017   09:18 Diperbarui: 12 November 2017   11:30 4211 3 4
Keras Kepala BBKSDA Jatim Mengancam Keindahan Kawah Ijen
Bangunan BBKSDA di Puncak Kawah Ijen. Dokumentasi pribadi

Tanggal 8 November 2017 lalu saya dan keluarga berkunjung ke kawah Ijen, membawa empat anak saya untuk menyaksikan keindahan alam yang sudah mendunia ini, yang selama ini hanya mereka lihat dan ketahui dari foto-foto, film dan cerita saya.

Saya pertama ke Ijen, 12 tahun yang lalu dan langsung terpesona dengan keindahannya dan terkagum-kagum dengan ketangguhan serta ketabahan para penambang belerang yang mencari nafkah di sana.

Saya jelas bukan orang pertama dan satu-satunya yang mengagumi keindahan itu. Keindahan Kawah Ijen kini sudah mendunia. Mendunianya Keindahan Kawah Ijen tak bisa dilepaskan dari jasa Nicolas Hulot, seorang reporter Prancis yang terkenal dengan acara TV yang berjudul Ushuaia Nature yang dalam salah satu episodenya pada tahun 1997 menampilkan Kawah Ijen dan sukses membuat orang di eropa terutama negara-negara berbahasa Prancis terkagum-kagum pada keindahan Kawah Ijen yang terbentuk secara natural tanpa campur tangan manusia.

Mereka menyebut pemandangan di Ijen itu dengan istilah "Lunair", artinya seperti pemandangan di Bulan, seolah bukan di bumi. Ringkasnya, mereka terkagum-kagum karena keunikan Kawah Ijen yang tak bisa ditemukan di tempat manapun di planet ini. Sejak Nicolas Hulot mengunjungi tempat ini dan membuat reportasenya, berbagai stasiun TV di Eropa seolah berlomba membuat reportase tentang fenomena alam yang spektakuler ini.  

Beberapa tahun yang lalu, "Peking Express" sebuah reality show tentang petualangan yang sangat populer di eropa juga menjadikan Kawah Ijen sebagai salah satu lokasi syutingnya. Sebegitu kagumnya mereka pada Kawah Ijen sampai-sampai reporter TV Prancis di tautan Youtube ini tanpa ragu menyebut Kawah Ijen sebagai "Le plus beau volcan du monde" yang artinya "Gunung api terindah di dunia."

Banyaknya liputan tentang Kawah Ijen ini tentu melahirkan atensi yang besar di Eropa sana dan membuat penduduknya yang memiliki kebiasaan berlibur penasaran untuk mengunjunginya. Maka  setiap tahunnya mengalirlah ribuan turis asing yang datang membawa devisa ke negara kita.

Dampaknya terhadap Banyuwangi apa? Terbukanya banyak lapangan pekerjaan, mulai dari hotel yang membutuhkan banyak karyawan, restoran, pengusaha jasa transportasi sampai jasa pemandu wisata. Singkatnya kehadiran turis-turis manca negara ini telah menghidupi banyak keluarga.

Menariknya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga tidak tinggal diam. Sejak Abdullah Azwar Anas menjabat sebagai bupati, berbagai prasarana pendukung untuk destinasi wisata ini dibenahi. Yang terlihat jelas dan terasa perubahannya adalah perbaikan jalan menuju tempat ini. Jalan yang dulunya kondisinya sangat parah, kini mulus seolah tanpa cela.

Sampai sejauh ini semua terlihat begitu sempurna, pemerintah yang mendapatkan banyak manfaat baik secara langsung dari retribusi maupun pajak dari bertumbuhnya ekonomi yang dipicu oleh kedatangan para turis asing ini. Tapi belakangan semangat untuk membenahi Ijen ini dan  mempercantik tujuan wisata yang dikagumi dunia ini kebablasan. Saya begitu kaget ketika datang ke sana bersama keluarga, saya menyaksikan sebuah bangunan permanen sedang dibangun di salah satu sisi bibir kawah dan lobang-lobang galian pondasi di sepanjang bibir kawah menuju tangga turun menuju dapur belerang.

Ternyata, entah siapa yang punya ide gila, entah siapa penanggung jawabnya, tanpa melibatkan bahkan sekedar menanyakan pendapat para pelaku wisata yang berhubungan langsung dan paling tahu apa yang diinginkan oleh turis-turis yang datang ke Ijen,  tiba-tiba bak petir di siang bolong BKSDA yang merupakan pemegang otoritas Kawah Ijen membangun infrastruktur gedung di puncak gunung ini dan membangun pagar di sekeliling kawah.

Ini kalau diibaratkan tas, Ijen ini seperti melihat tas Hermes yang berkelas, oleh pemiliknya ditempeli logo Levi's, karena sang pemilik merasa Levi's lebih sebab banyak dibeli orang. Kalau Ijen diibaratkan mobil, Ijen ini seperti  mobil Ferrari yang ditempeli aksesoris Daihatsu cuma karena secara kuantitas, lebih banyak Daihatsu yang laku daripada Ferrari.

Pemiliknya melakukan itu jelas karena dia merasa apa yang dilakukannya membuat barang miliknya tampak lebih indah. Tapi orang yang mengerti tas atau mobil justru sakit mata melihatnya, karena Hermes dan Ferrari yang istimewa dan langka menjadi tampak pasaran sebagaimana tas atau mobil biasa. Hermes yang tadinya adalah tas kelas dunia, oleh pemiliknya yang berselera rendah diubah menjadi tas yang sekelas tas-tas kodian yang dijual di pasar Tanah Abang.

Seandainya Ijen adalah milik pribadi, sebagaimana analogi tas Hermes dan Ferrari, jelas kita yang melihat hanya bisa mendongkol melihat kekonyolan itu tapi namanya tas dan mobil itu milik pribadi, ya terserah yang punya. Masalahnya, Ijen ini bukan milik pribadi, Ijen ini adalah aset negara. Pejabat yang memutuskan untuk mendirikan bangunan fisik di puncaknya ini pun adalah pesuruh negara yang hanya akan menjabat beberapa  tahun lagi saja. Tapi kerusakan yang dia buat akan sulit sekali memperbaikinya.

Maka tak heran berbagai protespun muncul atas ide konyol pemegang kebijakan ini. Masyarakat yang merasakan manfaat dari kedatangan turis asing, para pengusaha jasa transportasi dan jasa wisata melakukan protes keras, masyarakat pecinta lingkungan dan masyarakat pecinta wisata juga protes. Tapi sebagaimana khasnya penguasa di Indonesia memang terkenal dengan sikap sok tau dan keras kepalanya. Mereka merasa diri paling tahu segala, mnerima kritik sepertinya dianggap menurunkan gengsinya.

"Kami akan tetap melakukan pembangunan infrastruktur publik. Tidak boleh distop. Bisa rugi negara dan akan dituntut," ujar Ayu Dewi Utari, Kepala BBKSDA Jawa Timur, dalam pres rilis yang digelar di Paltuding, Ijen, Rabu (8/11/2017)

Kekonyolan cara pandang si ibu Kepala BBKSDA Jawa Timur atas pembangunan di puncak ini menular kepada sejawatnya ibu kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Husnul Chotimah, yang ketika diminta tanggapannya tentang  pembangunan fasilitas di puncak Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, tak meberikan keterangan menolak atau menyetujui pembangunan itu. Karena, diakui DLH belum pernah tahu bagaimana nilai positif atau dampak negatif pembangunan tersebut. 

Ini logikanya kan seperti orang yang punya anak sehat dan cerdas yang didatangi orang jualan obat yang si penjualnya sendiri nggak tahu efek obat itu seperti apa. Bermanfaat atau justru bikin mati. Lalu si ibu ini membiarkan anaknya minum obat yang tidak jelas itu  untuk tahu efeknya. Sikap keras kepala si ibu kepala BBKSDA dan kekonyolan logika ibu kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi ini didukung penuh oleh bos besar mereka, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar yang melaporkan jika pembangunan tersebut tidak ada jalur pendakian ke Puncak Ijen.

Secara psikologis mudah dipahami kenapa ketiga ibu ini bisa dengan santai dan tanpa beban melanjutkan proyek pembuatan gedung permanen di puncak kawah Ijen. Itu karena mereka digaji oleh negara. Seandainya terjadi penurunan kunjungan wisatawan ke kawah Ijen pun, itu tak ada pengaruhnya pada kebulan asap di dapur mereka.

Karena itulah kalau ditanya mana kajian tentang potensi menurunnya kunjungan wisatawan asing dengan adanya pembangunan ini mana? Bagaimana dampak sosial yang akan terjadi di masyarakat yang sekian tahun belakangan ini hajat hidupnya bergantung pada kunjungan wisatawan itu? Ya mereka tidak mau tahu!

Ketiga ibu ini berpegang secara kaku pada aturan yang membolehkan pembangunan itu dan melihat potensi kerugian negara sebesar 8 milyar karena pembatalan proyek itu menggunakan kacamata kuda. Mereka sama sekali tak maudan merasa perlu untuk tahu tentang kemungkinan pembangunan itu merusak keindahan tempat ini, berpotensi menurunkan jumlah kunjungan wisatawan asing yang justru hampir pasti akan merugikan negara dengan jumlah nominal uang yang jauh lebih besar dari sekedar 8 milyar. 

Itu masih belum ditambah lagi dengan dampak ikutan adanya goncangan sosial akibat terganggunya hajat hidup orang-orang yang sudah menggantungkan hidup pada pariwisata. Ketiga ibu ini seperti kompak berprinsip, pokoknya undang-undang memperbolehkan TITIK!

Ribuan orang yang menandatangani petisi, segala macam demo dan unjuk rasa yang menyampaikan penolakan pembangunan ini sama sekali tak mampu menggoyang keputusan yang telah mereka buat. Dengan berpegangan pada prinsip pokoknya undang-undang memperbolehkan, jangankan kita rakyat jelata. Seorang Bupati Banyuwangi bahkan Menteri Pariwisata pun tak mampu menghadang kerusakan yang sedang mereka buat dengan menggunakan uang negara.

Sumber