William
William

Bukan seorang pengamat prefesional, hanya seseorang yang peduli akan kemajuan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Berpikir Melalui Gerakan #2019PrabowoPresiden

10 Januari 2019   16:39 Diperbarui: 10 Januari 2019   16:42 190 0 0

Memasuki tahun politik identik dengan kampanye dan hashtag pilihan antara paslon yang menambah popularitas dan elektabilitas masing-masing paslon. Baru-baru ini, masyarakat berbondong-bondong melakukan aksi #2019GantiPresiden sebagai bentuk aspirasi dalam menyambut pesta demokrasi di Indonesia, bahkan gema tersebut dideklarasikan hingga ke tanah suci Mekkah. 

Adalah Dia Imam Besar Habib Rizieq yang mengumandangkan gema tersebut di Mekkah Al-Mukarromah, tepatnya di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Habibi Rizieq bersama umat  muslim Tanah Air di sana sepakat secara kompak dan sepakat untuk mensukseskan 2019 Ganti Presiden.  Dengan semangat persaudaraan alumni 212, mereka semua bermunajat kepada Allah SWT agar Indonesia dipimpin oleh Pemimpin yang Adil. 

Deklarasi tersebut sempat juga diabadikan melalui video singkat yang tersebar luas dan viral di berbagai jenis media sosial. Diawali dengan mengucapkan bismillah Habib Rizieq mengajak seluruh umat muslim di Indonesia untuk bersatu dan merapatkan barisan memenangkan Prabowo-Sandi, hal tersebut terlihat jelas melalui pose dua jari ala Prabowo-Sandi.

Gerakan 2019 ganti presiden menjadi sebuah perbincangan publik saat ini. sebagai masyarakat tentu melihat bahwa gerakan ini adalah langkah awal atau menu pembuka dalam perhelatan tahun politik 2019. Gejala ini terlihat sebagai sebuah kenyataan bangsa bahwa politik merupakan tahun persaingan, kandidat, kampanye baik yang putih dan hitam dan akhirnya adalah proses pemilihan. 

Namun, riak riuh gerakan 2019 Ganti Presiden semakin memudar dan menghilang. Berawal dari pernyataan Habib Rizieq yang mengatakan bahwa menyambut tahun baru maka akan dilakukan modifikasi gerakan baru untuk menimbulkan semangat baru yaitu gerakan 2019 Prabowo presiden. Padahal pada dasarnya kedua gerakan ini masih bersifat sama, namun lebih menonjolkan satu calon yaitu Prabowo. 

Habib Rizieq menilai bahwa Prabowo lebih tepat utuk menjadi presiden dengan membawa semangat umat Islam dan memperjuangkan hak umat-umat Islam. Namun dalam kontes politik, khususnya dalam pemilihan presiden tidak bisa hanya menuruti nafsu kelompok atau golongan semata, karena pertaruhannya adalah masa depan bangsa dan seluruh masyarakat Indonesia. 

Untuk itu, menjelang masa pencoblosan sebagai masyarakat Indonesia, kita harus dapat melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing calon tanpa adanya intervensi dari siapapun sehingga memberikan contoh demokrasi yang baik demi melahirkan pemimpin yang tepat untuk mambawa Indonesia menjadi lebih baik kedepannya sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia.