Wiliams Roja
Wiliams Roja Mahasiswa

Mahasiswa Filsafat di STF-SP. Selain menekuni ilmu humaniora tersebut, penulis juga adalah seorang fotografer dan kontributor berita untuk salah satu koran di Kota Manado.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Disruption dan Pengaruhnya bagi Ilmu Pengetahuan

5 Juni 2018   21:46 Diperbarui: 5 Juni 2018   22:20 1204 0 0
Disruption dan Pengaruhnya bagi Ilmu Pengetahuan
hrreview.co.uk

Abstrak: Disruption  adalah sebuah keterpecahan yang membawa dampak amat besar, yakni   perubahan/change. Perubahan ini mencakup dua arah: gangguan dan inovasi. Francis Fukuyuma dengan prespektif ilmu sosial melihat fenomena disruption sebagai sebuah gangguan terhadap tata sosial, sedangkan Christensen melihat disruption sebagai peluang inovasi yang membawa kemajuan. 

Baik Fukuyama atau Chritensen, disruption yang dimaksud tetap masuk dalam seluruh sistem kehidupan manusia termasuk dunia ilmu pengetahuan. Dengan tulisan ini, penulis hendak menjawab pertanyaan mengenai apa itu disruption dan menampilkan dua prepektif untuk merespon fenomena ini, yakni gangguan dan inovasi. Penulis kemudian akan melihat pengaruh fenomena ini terhadap ilmu pengetahuan pada umumnya. 

Disrupsi yang tak siap dihadapi akan mengacaukan masyarakat/global village akibat pengetahuan yang tak cukup, dan disrupsi yang siap dihadapi akan merubah dunia menjadi lebih baik.

Keywords: Disruption, Inovasi, Ilmu Pengetahuan, Change, Tatanan Sosial, Masyarakat, Global Village.

  • Pendahuluan

Beberapa waktu belakangan ini tema disruption kian marak didengungkan. Fenomena ini nampaknya sudah disadari, meski hanya oleh sebagian kecil orang saja. Manusia yang lain lebih memilih untuk menjalani perubahan yang terjadi, tanpa memikirkan kemana arah perubahan tersebut. Di Indonesia, disurpsi yang paling jelas mempengaruhi  sistem dan pola hidup masyarakat salah satunya ialah jasa tranportasi online dan e-commerce. 

Jasa ini melengserkan cara berpikir lama yang kusam dan kaku. Walaupun menuai beragam pro-contra, namun konsekuensi dari peristiwa diruptif tersebut ialah keuntungan yang dialami oleh para pelaku ekonomi terbaru. 

Mereka yang konservatif dengan cara lama tetap bersikeras menolak beragam inovasi terbaru karena menganggap sebagai ancaman bagi kekokohan posisi mereka. 

Jika dicermati lebih dalam lagi, sesungguhnya jasa tranportasi online hanyalah secuil bukti disrupsi saja. Guncangan atau keterpecahan yang mengusik sistem kehidupan sudah lama melanda. Efeknya baru disadari sekarang. Contoh penggunaan padi sebagai pangan pokok masyarakat. Sagu dilengserkan hanya karena gengsi bahwa nasi adalah makanan kalangan atas. 

Orang pun berlomba-lomba menanam padi dan mengbaikan sagu dan pangan lain yang pada kenyataannya memiliki sumber gizi yang lebih melimpah. Perkembangan ilmu pengetahuan hampir tak seiring dengan perisitiwa-perisitwa disruptif yang sedang terjadi. 

Banyak yang berpikir bahwa ilmu-ilmu ekonomi adalah yang paling relevan. Kini pernyataan seperti itu harus segera diperbaharui. Yang sedang dihadapi sekarang bukan hanya guncangan di bidang ekonomi, tapi merambah ke berbagai aspek, entah politik, budaya, agama dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan yang bercorak positivistik seperti pandandangan Comte adalah sebagian yang harus diperhitungkan di era ini. 

Karenanya, penulis akan melihat era disrupsi ini dalam pengaruhnya bagi ilmu pengetahuan. Tulisan ini akan terbagi kedalam beberapa bagian. Pertama adalah pendahuluan, kedua Teori disruption itu sendiri, ketiga pengaruhnya bagi ilmu pengetahuan, dan yang terakhir adalah refleksi.

  • Teori Disrupsi (Disruption Theory)

Mengenai disruption theory, ada dua pengertian yang hendak dipaparkan dalam bagian ini. Pertama adalah pemahaman disruption menurut Francis Fukuyuma, seorang futuris yang mengajar politik-ekonomi international di Paul H. Nize School of Advance International Studies, Johns Hopkins University dan berikutnya adalah teori disruption menurut Clayton M. Christensen, guru besar di Harvard Business School.

[1] Keduanya menguturakan pemahaman disrupsi yang masing-masing mereka pahami, dan semua tertuang dalam buku-buku mereka. Pada intinya mereka tidak melihat disruption dengan pemahaman yang sama. Masing-masing melihat disruption sebagai gangguan dan sebuah keuntungan yang perlu dihadapi dan dimanfaatkan. Berikut pandangan disruption dari Fukuyuma dan Christensen:

  • Disruption Menurut Francis Fukuyama

Francis Fukyuma, penulis buku The Great Disruption, melihat sebuah gejala dan peristiwa disruption sebagaimana arti leksikal dari kata tersebut. Disruption dipandang sebagai sebuah guncangan yang mengacaubalaukan tatanan sosial dalam masyarakat. Perkembangan teknologi informasi yang semakin radikal menjadi indikator yang membuat Fukuyuma melihat era ini sebagai sebuah era disrupsi. 

Konteks buku ini sendiri terbit saat internet memperkenalkan dirinya pada masyarakat luas dan menyempitkan jarak dari satu tempat ke tempat yang lain, dan memudahkan akses informasi sehingga masyarakat lebih merupakan individu-individu yang menenetap di hamparan daun kelor atau dalam istilah Marshal McLuhan, dikenal dengan kata Global Village.

[2] Segala sesuatu terasa dekat dan serba tersedia. Fukuyuma tidak mengharamkan teknologi informasi. Fukuyuma  memandang bahwa masyarakat yang dikuasai oleh kekuatan informasi pada era ini cenderung menghargai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam demokrasi, yaitu kebebasan (freedom) dan kesetaraan (equality). Kebebasan memilih mencuat tinggi sebagai hak, sementara semua jenis hirarki (dalam agama, politik, pemerintah, bisnis dan lain-lain) digerogoti daya regulasi dan kecenderungan koersifnya.

[3] Lantas, apakah konsekuensi yang terjadi akibat perkembangan teknologi yang kian pesat ini? Fukuyuma tidak melihat ada perkembangan positif di dalamnya. Yang dilihat justru masyarakat informasi (information society) yang ditandai dengan kondisi-kondisi sosial yang memburuk. 

Di mana-mana terjadi kekacauan sosial yang membuat orang merasa tidak nyaman berada di mana pun, bahkan di kota-kota besar yang dikatakan maju. Kekerabatan dan keluarga sebagai institusi sosial yang paling primer terguncang, tingkat perceraian meningkat dan jumlah kehamilan di luar nikah tak bisa dibendung. 

Dari sini Fukuyuma mengangkat isu penting yang menjadi landasan teorinya mengenai modal sosial (social capital) dan kapitalisme. Ia mendefinisikan modal sosial yang dilihatnya sebagai perangkat nilai-nilai informal atau norma-norma yang diperuntukan bagi anggota kelompok dalam sebuah lingkungan tertentu yang dianggap kooperatif. Ia memberi contoh keluarga sebagai salah satu modal sosial yang paling penting. 

Dalam keluarga, kapasitas kepercayaan satu individu ke individu yang lain dalam lingkup keluarga tersebut menjadi sangat kuat dibandingkan dengan kepercayaan kepada pihak lain. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5