Yara Arta Wijaya
Yara Arta Wijaya pelajar/mahasiswa

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sebuah Imaji

13 Juli 2017   23:13 Diperbarui: 13 Juli 2017   23:27 164 1 0

Di dunia ini, kita bisa bertemu dengan siapa saja. Orang lain yang sesegera mungkin menjadi teman, sahabat bahkan pasangan hidup. Selama kita hidup, sudah berapa manusia yang kita temui dalam hidup ini? dari yang awalnya hanya teman sepermainan saat kecil hingga seumur gini. Aku pernah membayangkan, bagaimana jika semua orang yang kita temui, kita ajak bicara, lalu kita berteman dengannya, berteman ya sebagaimana kita berteman dengan lainnya, menjadikan ia salah satu jadi bagian dari hidup kita, bukan hanya sekedar lewat dan singgah bahkan angin lalu.

Namun kenyataannya berbeda, coba pikirkan, bagaimana media sosialisasi kita? Dari masa kanak-kanak, kita bisa berteman hanya karena ibu kita memiliki teman yang anaknya seusia kita, tetangga kita yang memiliki anak seusia kita, dan saudara-saudara yang seusia kita. Masuk ke masa sekolah, kita hanya berteman dengan teman sekelas kita, segelintir abang dan kakak kelas, serta beberapa teman lain kelas lainnya. 

Kita berteman hanya karena dipertemukan di dalam sebuah ruangan, sebuah wadah. Mengapa kita tidak bisa berteman dengan teman yang diluar wadah kita? di luar wadah di sini maksudnya, mengapa kita tidak dapat berteman dengan orang yang tak sengaja kita jumpa dijalan? tak sengaja kita temui di dalam angkutan umum, bis kota, kapal dan pesawat? Mengapa kita hanya berteman dengan yang kita kenal dan temui dalam satu ruangan dan wadah yang ada?

Terkadang, dalam satu wadahpun, belum tentu kita kenal dan mampu berteman dengan semua yang ada. Alasan perbedaan visi dan misi selalu jadi alasan klasik untuk diberikan. Memang, akan ada teman yang mampu mengerti kita, bagaimana kita, dan tau segala hal tentang kita, dan bagaimana itu kita dapatkan? Karena kita mampu terbuka padanya, membuka diri kita padanya. Dan bagaimana dengan teman yang lain? Bahkan kita tak mau membuka diri kita kepada mereka, dengan dalih, bahwa mereka takan mampu mengerti kita, memahami kita, perbedaan sifat dan lain sebagainya. Padahal, bagaimana kita tau kalau dia tidak mampu, jika kita tidak pernah membuka diri kita padanya?

Pun sama dengan orang-orang yang kita temui di jalanan secara tak sengaja, bagaimana kita tau dia bagaimana jika kita tidak memulai untuk mengetahui tentangnya? Hanya karena alasan tidak kenal dan tidak punya waktu untuk mengenali orang asing, kita pun berlalu. Padahal, bukan tidak mungkin, orang-orang yang kita temui di jalanan itu memiliki pengalaman yang menarik untuk di bagi, atau ia memiliki kisah heroik tentang hidupnya, dan lainnya. Hanya karena kita terlalu takut untuk memulai dan merasa tidak penting karena tidak kenal, kita pun menganggapnya angin lalu..

Mungkin, memang begitulah pola kehidupan ini membentuk kita. Kita hanya berteman dengan mereka yang kita kenali dalam atap yang sama, forum yang sama, intinya, kita dipertemukan dalam ruangan yang dimana didalamnya ada kita dan mereka, orang-orang baru yang siap untuk kita kenali dan ajak berteman. Dan untuk para manusia diluar sana, yang tidak kita ketahui identitasnya, kita anggap angin lalu, hanya karena kita takut untuk mengenal atau karena kita sudah terlampau nyaman dengan pola sosialisasi yang seperti ini.

Sepengalamanku, aku sering merasa aneh dengan orang-orang yang berada dalam satu angkutan denganku, aku merasa canggung dan terkesan enggan untuk mau tau siapa saja yang berada di dalam angkutan, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar cepat sampai dan kemudian bertemu dengan teman-teman yang satu atap dengan ku. Padahal, kalau mau dipikirkan, akan ada banyak manfaat kalau kita mau sedikit terbuka dengan siapapun yang ada disamping kita, minimal tersenyum dan kemungkinan untuk mengajaknya ngobrol sembari menunggu pak supir mengantar ke tujuan.

Aku sering berpikir dan mengimajinasikan, bagaimana indahnya sebuah pertemanan yang terjalin secara tidak sengaja, bagaimana ia berkembang menjadi sebuah pertalian pertemanan akrab, yang sebelumnya kita tidak pernah ditemukan dalam satu atap dan forum yang sama untuk kemudian berbagi cerita dan pengalaman mengenai yang telah dan sedang di jalani. Janjian untuk bertemu hanya karena kita ingin sharing kisah menarik hingga mendiskusikan hal lainnya. Aku sering membayangkan hal itu dan mencoba menikmatinya.

Seperti ini misalnya, coba bayangkan, bagaimana rasanya, seseorang yang kau kenal secara tak sengaja, kemudian kalian mulai berteman dan pada suatu peristiwa, ia mengkhawatirkanmu yang baru saja dikenalnya dengan keadaan yang seperti ini "Aku sih bisa saja pergi, tapi bagaimana kau? Apa kau akan tinggal disini sendirian?" bayangkan, orang yang kau kenal secara tak sengaja dan tak lama, namun sudah mengatakan hal seperti itu saat kau hendak ditinggal. Bukan tak berlebihan, jika aku menyebut itu sebuah hal mengharukan? Hal yang membawa kita pada titik untuk menyadari bahwa ketulusan bisa datang dari mana saja.

Hingga saat menuliskan paragraf ini, aku masih membayangkan apakah aku mampu untuk menjadi seperti ceritaku diatas, sebuah pikiran yang terkadang terlalu berimajinasi, namun setiap kali aku membayangkannya, aku merasakan kedamaian dan kenyamanan. Berkenalan dan berteman dengan orang asing yang kita temui dimanapun dengan segudang cerita dan pengalaman baru. Ah pasti indah!

Psssttt jangan kira aku sedang menggurui, justru aku menulis ini hanya karena aku ingin menjadi seperti yang aku tulis ini. Biar mudah mengingat bahwa aku pernah mengkhayalkan tentang hal ini.