Mohon tunggu...
wijayakurnia santoso
wijayakurnia santoso Mohon Tunggu... Pendidik

Pendidik yang kadang menulis untuk berbagi dan menginspirasi.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menjawab Tantangan Zaman

11 Juli 2019   21:19 Diperbarui: 11 Juli 2019   21:29 195 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjawab Tantangan Zaman
Gambar flyer pemanfaatan webex dan implementasi VCT secara mandiri 

Pembahasan tentang guru dan kompetensi serta profesionalismenya selalu menarik untuk diperbincangkan. Di Indonesia, akhir-akhir ini guru menjadi "buah bibir" yang cukup menyedot banyak perhatian publik. Mulai dari tanggung jawabnya tentang kemrosotan moral peserta didik, menggugat profesionalismenya, ribetnya sertifikasi guru dan lain sebagainya.

Di luar itu semua, guru adalah salah satu ujung tombak pendidikan. Di tengah berbagai serangan invasi budaya barat, guru mempunyai peran sebagai kunci pendidikan. Jika guru sukses mendidik maka kemungkinan besar murid-muridnya akan meraih kesuksesan pula.

Kesuksesan yang diraih oleh Imam Syafi'i tidak bisa dipisahkan dari peran guru-guru beliau, khususnya Imam Malik. Begitu pula dengan kesuksesan KH. Hasyim Asy'ari yang tidak bisa lepas dari peran guru-guru beliau, khususnya Syekh Kholil, Bangkalan Madura.

Peran guru sangatlah vital sebagai pembentuk kepribadian, visi, misi serta cita-cita anak didiknya di masa mendatang. Di balik kesuksesan yang diraih oleh murid, selalu ada peran guru dibalik kesuksesan itu.

Guru adalah pendidik, bukan sekadar pengajar. Tugas guru bukan hanya mengajar, tetetapi lebih dari itu, yakni mendidik. Mendidik bukan hanya sekadar mentransfer ilmu, tetetapi menjadi contoh teladan, menumbuhkan karakter dan sumber inspirasi bagi para peserta didik.

Profesi guru sama pentingnya dengan profesi dokter maupun apoteker. Apabila ada apoteker dan dokter melakukan malpraktik dalam bidangnya, maka bisa berdampak pada pasien mengalami cedera, cacat permanen dan bahkan kematian. Sangat mengerikan bukan?. Seandainya malpraktik itu terjadi di dunia pendidikan dan dilakukan oleh para guru betapa lebih mengerikannya hal yang akan terjadi. Ya, malpraktik pendidikan.

Dampak dan bahayanya lebih mengerikan dibanding malpraktik kesehatan. Karena yang dibentuk dalam pendidikan ini adalah individu yang nantinya menjadi bagian dari masyarakat, terlebih lagi peserta didik yang sekarang ini menjalani proses pendidikan, nantinya 20-30 tahun mendatang akan menjadi pemimpin negeri ini.

Jika output yang dihasilkan adalah orang-orang yang tidak memiliki mental pemimpin dan negaran serta tidak memiliki kepribadian yang baik, maka nasib bangsa ini ke depan akan terancam. Oleh karena itu, dalam proses mendidik harus dilakukan dengan serius, tidak boleh disepelekan. Para pendidik pun juga harus siap dan mau memantaskan diri menjadi seorang pendidik (baca: guru) yang baik.

Guru harus bisa bertindak profesional, tidak hanya memiliki gelar sarjana saja tetapi juga harus memiliki karakter pendidik yang tertanam dalam diri dan jiwanya. Kampus-kampus yang menelurkan para guru, selain membekali dengan ilmu profesional, juga harusnya membentuk karakter para calon guru sehingga siap diterjunkan untuk membentuk karakter dan kepribadian peserta didik nantinya.

Di sinilah urgensi melahirkan guru-guru berkualitas, guru yang mampu membangkitkan semangat besar dalam diri anak untuk menjadi aktor perubahan peradaban dunia dan guru yang mampu menjadi uswah bagi para muridnya.

Karena sekali lagi bahwa tujuan pendidikan bukan hanya sekadar cerdas intelektualnya tetapi jauh lebih penting dari itu, yakni perubahan perilaku yang baik. Tantangan dunia pendidikan juga harus mampu dijawab oleh para guru, termasuk juga kemajuan teknologi dan informasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x