Wijatnika Ika
Wijatnika Ika Blogger | Freelancer

Saya juga menulis di: http://www.wijatnikaika.id/

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Bertani Asyik Tanpa Takut Kulit Bersisik

9 November 2018   20:08 Diperbarui: 10 November 2018   01:16 897 11 10
Bertani Asyik Tanpa Takut Kulit Bersisik
Para petani perempuan memanen padi dengan gambira di Banjit, Way Kanan, Lampung. Foto: Rinto Macho

Di zaman "Internet of Things" ini masihkah ada warga dunia yang bercita-cita menjadi petani?

Pertanyaan ini seringkali menyapa pikiran manakala membaca perkembangan dunia yang semakin melek teknologi. Manusia abad ini telah sampai pada posisi yang tidak terlalu sulit menghasilkan uang jika mampu menguasai teknologi. Menjadi endorser di Instagram hingga Youtuber membuat generasi muda mampu melampaui pencapaian generasi pendahulunya dalam hal finansial tanpa perlu berusah payah mengelola kebun atau sawah warisan orangtuanya.

Sebab, jika uang merupakan alasan utama manusia bekerja melalui berbagai profesi, maka abad ini dimenangkan oleh mereka yang menguasasi teknologi. Peradaban modern memberikan kita begitu banyak pilihan dan kesempatan untuk sukses, sebuah posisi yang dikejar seluruh manusia sejak mereka mengenal uang.

Nah, jika peradaban masa kini telah membawa kita pada cara pandang berbeda tentang profesi dan finansial, lantas bagaimana nasib profesi lainnya yang cenderung memiliki pola pikir tradisional seperti petani? Akankah pada suatu hari nanti profesi petani benar-benar mengalami penurunan dalam jumlah signifikan bahkan musnah? Jika hal demikian terjadi, siapakan yang akan memberi makan warga dunia?

***

Aku lahir dari keluarga dan tumbuh di lingkungan petani. Masa kecilku dipenuhi oleh kenangan tentang wangi getah rerumputan yang dibersihkan dari sela-sela batang kopi, areal persawahan yang menguning dan aliran sungai yang meliuk jika dilihat dari perbuktian.

Senang pula kunikmati burung-burung yang berterbangan memenuhi langit, kerbau yang berkubang nyaris sepanjang hari, gonggongan anjing yang menyertai tuannya saat berangkat ke dan pulang dari kebun, gemeretak kayu terbakar yang berubah menjadi arang dan abu untuk membakar singkong atau talas.

Belasan tahun silam, aku merasa sangat bahagia sebagai anak petani. Biasanya saat libur sekolah aku akan menyertai orangtuaku ke kebun kopi kami yang berjarak 7 km dari kampung yang biasa kami tempuh dengan berjalan kaki. Kebun itu terletak di badan gunung sebuah hutan lindung yang sosoknya terlihat menjulang lagi jumawa dari halaman rumah kami.

Pada saat musim hujan, aneka jamur akan bermunculan. Aku sangat suka memanen jamur kuping dan memasaknya untuk makan siang dengan aneka sayuran yang dipetik di areal kebun seperti pucuk labu siam, cempokak, leunca, terong, dan kecipir. Memetik jamur di musim hujan merupakan kenangan terindahku sebagai anak petani.

Jamur Kuping, bahan pangan yang membuatku bahagia sebagai anak petani. Foto: Shutterlock
Jamur Kuping, bahan pangan yang membuatku bahagia sebagai anak petani. Foto: Shutterlock
Sepertinya, kenangan itu menggambarkan bahwa kehidupan petani begitu filosofis, makmur, bersahabat dengan alam, berkecukupan dan bahagia. Orang-orang kota sering bilang bahwa orang desa alias si petani hidupnya begitu nyaman dengan anugarah alam yang murni.

Meski sebenarnya mereka tidak tahu bahwa di kepala para petani terjadi pertempuran tentang utang pupuk yang menumpuk, kalkulasi hasil panen yang jauh dari harapan, harga komoditas yang turun drastis akibat kelebihan panen atau kebijakan impor pangan, kerugian fatal akibat serangan hama hingga bencana alam, dan sebagainya.

Petani adalah salah satu profesi yang tidak dijamin asuransi baik dirinya secara individu maupun lahan pertaniannya. Menjadi petani bagai berjudi dengan alam semesta yang selalu menyediakan kejutan tentang iklim, cuaca dan musim diluar perhitungan manusia.

Oleh karena itu, kujamin bahwa tidak satupun keluarga petani yang mengharapkan anak-anak mereka menjadi petani. Sebagaimana yang diinginkan keluargaku atasku, agar aku naik derajat dengan menjadi pekerja kantoran atau pegawai negeri sipil. Menjadi petani merupakan profesi bukan pilihan bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dan meraih mimpi melalui profesi lain.

Bahkan, diakui atau tidak, profesi petani seringkali direndahkan dalam pergaulan sosial. Telah lama sekali dan bisa dibilang turun temurun, mereka yang berprofesi sebagai petani dan anak dari keluarga petani 'dibuat' malu untuk menegakkan kepalanya dengan bangga sebagaimana profesi lain seperti dokter, arsitek, pegawai negeri sipil, hingga pilot.

Lihatlah di sekeliling kita, siapa petani yang dengan bangga membusungkan dadanya dan menegakkan kepalanya dengan mengatakan kepada dunia bahwa ia seorang petani? Jarang sekali, bukan? 

"Jangan jadi seperti Bapak yang bodoh ini, Nak! Kamu harus sekolah tinggi dan kerja yang bagus. Nasib petani memang selalu begini," ujar Ayahku lebih dari 15 tahun silam. Ayahku ingin aku sukses dan hidup makmur.

Aku cocok kan jaid petani cantik? Foto: Rinto Macho
Aku cocok kan jaid petani cantik? Foto: Rinto Macho
Aku menyukai suasana dan wangi wilayah pedesaan. Tetapi, aku tidak ingin menjadi petani. Aku ingin menggapai ambisiku untuk sukses di kota, menikmati hidup dengan profesi yang mentereng dan membanggakan keluargaku. Lalu, aku pun tinggal dan bekerja di Jakarta, jantung Indonesia. Ya, telah kuraih dan kunikmati mimpi masa kecilku.

Tetapi kemudian gamang menyelimuti kalbu. Haruskah aku terus di kota dan menjadi satu dari lautan manusia desa yang membanjiri kota demi meraih kata "sukses" yang sebelumnya kupuja?

Atau, haruskah aku kembali ke desa dengan menangggung resiko dicibir karena lulusan universitas nomor wahid di tanah air malah menjadi petani? Terlebih kini desa 'kekurangan' pemuda-pemuda cerdas karena semua telah disedot kota dan mengurungnya disana dengan janji kesuksesan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4