Widodo Surya Putra (Mas Ido)
Widodo Surya Putra (Mas Ido) karyawan swasta

Arek Suroboyo | Redaktur renungan kristiani | Penggemar makanan Suroboyoan, sate Madura, dan sego Padang |Basketball Lovers & Fans Man United | IG @Widodo Suryaputra

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Ketoprak dengan Lakon Huan Le Hoa, "Wonder Woman" Zaman "Old" dari Han Shiang!

12 Februari 2018   22:44 Diperbarui: 13 Februari 2018   12:03 1658 1 0
Ketoprak dengan Lakon Huan Le Hoa, "Wonder Woman" Zaman "Old" dari Han Shiang!
Sosok Huan Le Hua (Dok. Pribadi)

Indonesia merupakan negara yang diberi anugerah berupa keragaman seni dan budaya, termasuk di dalamnya seni dan budaya yang berasal dari etnis Tionghoa. Oleh karena itu, pembelajaran akan seni dan budaya dari etnis Tionghoa juga perlu untuk diperkenalkan sedini mungkin, dengan cara-cara yang kreatif, seperti yang dilakukan oleh Sekolah Krista Gracia berupa pentas seni yang dihelat pada Jumat dan Sabtu, 9 dan 10 Februari 2018 lalu. 

Bertempat di SD Kristen 3 Klaten, acara pentas seni menampilkan Ketoprak Bahasa Indonesia dengan lakon "Huan Le Hoa" sebagai puncak acaranya, yang dipentaskan sebanyak dua kali, selama dua hari tersebut. 

Sekolah Krista Gracia sendiri merupakan gabungan dari 4 unit pendidikan yang ada di dalamnya, yakni Kelompok Bermain (KB) Krista Ceria, Taman Kanak-kanak (TK) Kridawita, SD Kristen 3, dan SMP Kristen 1. Digelarnya pentas seni berupa ketoprak anak juga menjadi bukti komitmen dan kesungguhan untuk melestarikan seni dan budaya, sebagai bagian dari visi yang diusung oleh Sekolah Krista Gracia.

Terkhusus untuk tahun ajaran 2017-2018 ini, seperti disampaikan oleh Edy Sulistyanto kepada KR Jogja pada Kamis (8/2/2018), lakon Huan Le Hoa sengaja dipilih untuk mengenalkan budaya keragaman bangsa Indonesia kepada para siswa—tak hanya bagi mereka yang terlibat langsung dalam pentas seni tersebut.

Edy Sulistyanto juga berharap agar melalui pentas ketoprak "Huan Le Hoa" ini, para siswa juga mendapatkan wawasan budaya yang lebih luas, sehingga bisa menghargai budaya lain, tak hanya budaya tradisional Jawa yang diyakini sudah melekat dalam diri mereka, juga selama ini sudah ditekankan melalui berbagai kegiatan yang ada di Sekolah Krista Gracia.

Ketoprak dengan lakon "Huan Le Hoa—The Wonder Woman" sendiri ditampilkan secara live bertempat di aula SD Kristen 3 Klaten, yang beralamat di Jalan Seruni Nomor 08, Klaten, Jawa Tengah. Disaksikan lebih dari 1.300 orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, ketoprak "Huan Le Hoa" ditampilkan dengan lighting,dekorasi panggung, dan tampilan kostum para pemeran yang patut diacungi jempol. 

Acara ini juga diwarnai beberapa tampilan berkaitan dengan kesenian etnis Tionghoa, antara lain permainan biola mengalunkan lagu Mandarin, gebukan Chinese Drum yang dimainkan pada siswa SMP Kristen 1 Klaten, juga tak ketinggalan Barongsai yang dimainkan dengan piawai dan beberapa kali mendapat applause dari penonton yang menyaksikan ketoprak tersebut.

Permainan biola dengan lagu Mandarin menjadi salah satu pengisi acara (Dok. Pribadi)
Permainan biola dengan lagu Mandarin menjadi salah satu pengisi acara (Dok. Pribadi)
Tampilan Chinese-Drum yang memesona (Dok. Pribadi)
Tampilan Chinese-Drum yang memesona (Dok. Pribadi)
Salah satu atraksi Barongsai (Dok. Pribadi)
Salah satu atraksi Barongsai (Dok. Pribadi)
Sekilas Kisah tentang Huan Le Hoa

Tokoh Huan Le Hoa sendiri diadaptasi dari legenda Tiongkok pada masa lalu, yang digambarkan sebagai sosok wanita yang sakti (ibarat "Wonder Woman" dari zaman old), keturunan Raja Hoan How dan Permaisuri Kim Hoa, dari negeri Han Shiang.

Semasa bayi, Huan Le Hoa diambil oleh Dewi Kwan Im, lalu dibawa ke kayangan untuk dididik dan diperlengkapi menjadi wanita yang sakti dan jago berperang. Dewi Kwan Im mempersiapkan Huan Le Hoa untuk membantu Jenderal Sie Djin Koei, dalam upaya untuk mempersatukan negeri, sekaligus menetapkan Huan Le Hoa sebagai jodoh dari Sie Teng San, putra dari Jenderal Sie Djin Koei. 

Huan Le Hoa menerima sabda dari Kwan Im (Dok. Pribadi)
Huan Le Hoa menerima sabda dari Kwan Im (Dok. Pribadi)
Bukan perkara mudah bagi Huan Le Hoa untuk menjalankan amanat dari Dewi Kwan Im, karena saat turun kembali ke bumi untuk menemui orangtua, Huan Le Hoa sempat diragukan, karena  orangtuanya menyangka bahwa Huan Le Hoa telah mati sewaktu masih bayi karena prahara yang menimpa negeri mereka.

Namun, usai menunjukkan kesaktiannya, juga kalung yang dipakainya sewaktu masih bayi, orangtua Huan Le Hoa pun percaya.

Orangtua Huan Le Hoa (Dok. Pribadi)
Orangtua Huan Le Hoa (Dok. Pribadi)
Dalam upaya mempersatukan negeri, Huan Le Hoa juga sempat berhadapan pasukan Tong Tiauw yang dipimpin oleh Sie Teng San. Namun, pasukan itu dapat dikalahkan oleh Huan Le Hoa bersama pasukannya, yang diwarnai oleh kelumpuhan kaki Sie Teng San, setelah berduel melawan Huan Le Hoa.

Sie Teng San yang angkuh akhirnya mau mengakui kekalahannya dan disembuhkan oleh Huan Le Hoa. Mereka kemudian terlibat konflik karena Sie Teng San bahwa Huan Le Hoa membunuh ayahnya, bahkan menganggapnya sebagai anak durhaka, demi mendapatkan keinginannya.

Sosok Sie Teng San (Dok. Pribadi)
Sosok Sie Teng San (Dok. Pribadi)
Selagi pihak Sie Teng San dan Huan Le Hoa berseteru, seorang raja bernama Shauw Po Tong memanfaatkan kelengahan mereka dengan menyerang kotaraja, lalu menangkap Sang Kaisar. Mengetahui hal itu, Sie Teng San diutus oleh ayahnya untuk menyelamatkan raja, tetapi ketika berduel melawan Shauw Po Tong dengan pasukan apinya, Sie Teng San tak berdaya.

Ia pun hampir mati seandainya Huan Le Hoa tak dapat bersama pasukannya untuk menyelamatkan dirinya, sekaligus mengalahkan Raja Shauw Po Tong. Kisah pun berakhir bahagia ketika Sie Teng San menyadari bahwa Huan Le Hoa telah berjasa menyelamatkan dirinya dari lautan api, lalu dengan bulat hati menerima Huan Le Hoa sebagai jodohnya.

Adegan saat Huan Le Hoa membebaskan Sie Teng San dari lautan api (Dok. Pribadi)
Adegan saat Huan Le Hoa membebaskan Sie Teng San dari lautan api (Dok. Pribadi)
****

Secara pribadi, saya (yang kebetulan duduk paling depan) merasa takjub dengan pementasan ini, terutama dari sisi dekorasi, tata letak panggung, lighting, dan terutama kostum para pemain yang dibuat dengan begitu detil, sehingga dapat menggambarkan suasana yang terjadi pada zaman dimana Huan Le Hoa beraksi pada masa lalu. Pergantian adegan dengan dekorasi dan latar belakang yang berubah-ubah, dilakukan dengan sangat cepat dengan peralatan canggih, mekanik membuat tak ada orang lalu-lalang selama ketoprak berlangsung untuk menyiapkan properti panggung. 

Berikut bisa dilihat tiga hasil potretan terkait properti, kostum, dan lighting selama ketoprak "Huan Le Hoa" berlangsung:

Dekorasi lampion dan kostum pemain yang keren (Dok. Pribadi)
Dekorasi lampion dan kostum pemain yang keren (Dok. Pribadi)
Perpaduan kostum, dekorasi panggung, dan lighting (Dok. Pribadi)
Perpaduan kostum, dekorasi panggung, dan lighting (Dok. Pribadi)
Penampilan sebagian pengisi acara (Dok. Pribadi)
Penampilan sebagian pengisi acara (Dok. Pribadi)
Bondan Nusantara sebagai sutradara dari ketoprak "Huan Le Hoa" ini juga dapat menyajikan ketoprak dengan sangat baik. Apalagi dengan dialog yang diucapkan secara langsung (live), tanpa membaca teks, dan setiap tokoh berperan dengan sangat baik, membuat ketoprak ini layak mendapat acungan dua jempol. Rasanya, latihan yang berlangsung selama berbulan-bulan, dengan biaya yang tentunya tidak sedikit untuk mempersiapkan segala sesuatunya, terbayar tuntas lewat pementasan yang berlangsung dengan lancar dan sukses.

Terus terang, saya yang sudah gede ini, melihat ketoprak yang seperti itu, ditambah cerita apa yang terjadi "di belakang layar" dari istri saya (salah satu guru di SD Kristen 3 Klaten), membuat saya ingin terlibat dalam pementasan semacam itu, tentunya kalau diizinkan. Hahaha!

Pokoknya keren banget! 

Tak sabar untuk menunggu pentas seni berikutnya!

Jempol dua buat Sekolah Krista Gracia!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2