Mohon tunggu...
Widz Stoops
Widz Stoops Mohon Tunggu... Animal Lover

Smile! It increases your face value.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bermacam Ragam Cara "Merayakan Kehidupan"

19 Oktober 2020   07:22 Diperbarui: 19 Oktober 2020   11:36 159 58 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bermacam Ragam Cara "Merayakan Kehidupan"
USS Fort McHenry - Dokpri

Di Indonesia, terdapat berbagai macam proses pemakaman. Bagi umat Islam, proses dilakukan dengan memandikan jenazah, membungkusnya dengan kain kafan, menyolati lalu kemudian menguburnya di dalam liang lahat.

Untuk umat Nasrani, setelah jenazah dimandikan, didandani dan diberi pakaian lengkap, dimasukkan ke dalam peti mati lalu didoakan dan dikubur di dalam tanah.

Saat ke pulau Bali, saya pernah berkesempatan menyaksikan upacara Ngaben atau pembakaran jenazah. Di sana saya juga sempat mengunjungi sebuah desa di Kintamani bernama desa Trunyan.

Di desa Trunyan orang-orang yang sudah mati hanya diletakkan di bawah pohon Taru Menyan.

Kalau di Tanah Toraja, saya melihat masih ada orang-orang yang tidak menguburkan anggota keluarga yang sudah mati. Jenazah dirawat dengan baik. Diberi pakaian, sepatu dan lain-lain, layaknya orang yang masih hidup,

Ada juga jenazah yang dikuburkan di atas tebing-tebing atau di dalam pohon-pohon di sana.

Semua cara-cara tersebut di atas memang dijalankan sesuai aturan agama atau kepercayaan dan tradisi mereka masing-masing.

Kalau negara yang pernah dipimpin Presiden Obama tempat saya tinggal sekarang yang berpenduduk mayoritas Nasrani ini, lain lagi ceritanya. Mereka menganggap proses pemakaman sebagai "Perayaan  Kehidupan".

Walau masih banyak yang melakukan proses pemakaman secara tradisional, namun banyak juga orang yang  tidak sungkan memodifikasinya.

Seperti misalnya di Indiana, ada seorang anak yang meninggal pada umur lima tahun. Peti jenazahnya diangkut oleh orang-orang yang berpakaian Superhero seperti Batman, Superman, Spiderman dan lain-lain.

Keluarga Jack Robinson mengantar peti mati anaknya dengan diiringi oleh 'Pasukan Star Wars".

Ada juga yang karena dimasa hidupnya gemar bermain 'Tik-Tok', pada saat ia meninggal, orang-orang yang mengangkut peti jenazahnya membuat koreografi tari untuk 'Tik-Tok'.

Harga tanah yang melambung dari tahun ke tahun, juga menyebabkan banyak orang di sini memilih jalan kremasi karena biaya yang relatif lebih terjangkau.

Kadang tergantung permintaan dari orang tersebut semasa hidupnya, abu kremasi ada yang dibagikan kepada anggota keluarga dan teman terdekat untuk disimpan sebagai kenang-kenangan.

Ada yang ditabur di sungai atau ada juga seperti tetangga saya yang meminta abunya di tabur disekitar mall favoritnya.

Saat kakek suami saya meninggal beberapa tahun lalu,  beliau menginginkan untuk dimakamkan di laut. Bukan dikremasi terus abunya disebar di laut lho, seperti yang saya kira awalnya. Tapi peti jenazahnya dikubur atau ditenggelamkan ke dasar laut.

Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah. Tapi keinginan beliau itu tertulis di dalam surat wasiat, dan harus kami penuhi.

Langkah pertama yang keluarga lakukan adalah menghubungi US NAVY dan menyatakan keinginan kakek untuk dikubur di dasar laut. Tentu pihak US NAVY tidak dengan begitu saja menyetujuinya.

Kakek mengabdikan dirinya di US NAVY pada tahun 1943 hingga tahun 1945, bayangkan masa itu belum ada sistem komputer. Jadi semua data masih dilakukan secara manual.

Untungnya arsip di US NAVY mempunyai sistem yang baik. Walaupun butuh waktu dalam mencarinya tapi semua data-data masih lengkap tersimpan.

Setelah terbukti bahwa kakek memang pernah mengabdikan diri di US NAVY, langkah selanjutnya adalah mencari kapal laut yang tersedia.

Kapal laut yang dimaksud adalah Kapal Militer Angkatan Laut Amerika yang masih aktif beroperasi dan kebetulan sedang berada di pelabuhan di dalam teritori Amerika.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dan memakan waktu sekitar enam bulan, kami mendapat kabar baik dari US NAVY, bahwa mereka memilih kapal laut USS Fort McHenry untuk melaksanakan proses pemakaman karena  kebetulan akan berada di Little Creek, Virginia  untuk mengangkut para marinir.

Kapal USS Fort McHenry adalah sebuah kapal perang amphibi yang biasanya mengangkut pesawat marinir beserta tentara lengkap dengan senjata-senjatanya.

Karena mereka akan melakukan tugas militer, kami sekeluarga hanya diperbolehkan untuk mengantar jenazah kakek hingga masuk keatas kapal saja dan tidak diperbolehkan menyaksikan proses pemakamannya di tengah laut.

Jenazah kakek memasuki kapal -dokpri
Jenazah kakek memasuki kapal -dokpri
Kapten kapal begitu ramah, setelah kami diajak melihat sekeliling kapal, kemudian beliau menjamu kami sekeluarga di dalam ruangan meeting di atas kapal.


Di sana kami dijelaskan secara detail proses pemakamannya dan juga menanyakan apabila kami mempunyai pesan-pesan yang ingin disampaikan saat proses pemakaman berlangsung.

Setelah sempat berpoto-poto, tiba saat mereka untuk meninggalkan pelabuhan dan kamipun harus segera turun dari kapal.

Chaplain Kapal USS Fort McHenry - Dokpri
Chaplain Kapal USS Fort McHenry - Dokpri
Sebulan kemudian, kami mendapat kabar bahwa proses pemakaman telah selesai dilaksanakan. Lewat pos, mereka mengirimkan bendera yang dipakai untuk menutupi peti jenazah kakek, 3 selongsongan bekas peluru yang ditembakkan saat upacara pemakaman dan sebuah video.

Sayangnya saya tidak bisa membagikan video tersebut di sini karena merupakan hak cipta dari US NAVY.

Tapi saya bisa ceritakan sedikit tentang prosesnya. Upacara pemakaman dilaksanakan di Samudera Atlantik, sekitar 200 mil sebelah timur dari Cape Hatteras, Carolina Utara.

Mereka menyebut pemakaman di laut ini sebagai "Commitment to the sea" atau pengabdian kepada laut.

Video dimulai pada saat kapal meninggalkan pelabuhan, dimana kita mendengar suara deburan ombak. Setelah itu terlihat beberapa anggota kru kapal membawa peti jenazah kebagian ujung belakang kapal.

Kapten kapal lalu membacakan pesan-pesan dari keluarga kami. Setelah itu beberapa anggota kru kapal menyanyikan lagu Hymne Angkatan Laut.

Setelah Hymne selesai dikumandangkan, bendera di atas peti jenazah diangkat dan dilipat sebanyak tiga belas kali hingga akhirnya membentuk segitiga dan diserahkan kepada Kapten kapal.

Mengapa bendera dilipat sebanyak tiga belas kali? Jawabnya bisa dilihat di artikel saya sebelumnya di sini.

Kemudian tujuh anggota kru kapal lengkap dengan senjata mereka, melepaskan tiga kali tembakan penghormatan. Jadi ada dua puluh satu total peluru yang ditembakkan.

Tepat pada saat matahari tenggelam, 'Taps' atau lagu duka dimainkan dan dalam waktu yang bersamaan ramp atau lereng di ujung belakang kapal diturunkan untuk menenggelamkan peti mati kedalam laut secara perlahan-lahan.

Perlu diketahui peti mati di desain khusus dengan lubang-lubang di atasnya agar mudah ditenggelamkan.

Pemakaman jenazah di tengah laut memang telah ada sejak berabad-abad lalu. Bahkan sekarang para scuba divers atau snorkeling enthusiasts banyak yang meminta jenazah mereka dikremasi, lalu abunya dicampur dengan semen untuk kemudian diletakkan di dasar laut.

Dengan harapan semen tersebut nantinya akan membentuk sebuah reef yang dapat membantu habitat di dasar laut.

Lalu bagaimana dengan saya? Apa yang ingin saya lakukan dengan jenazah saya sendiri nantinya?

Kalau 'kepulangan' saya terjadi saat berada di tanah air, apa yang akan dilakukan dengan jenazah akan saya serahkan kepada pihak keluarga di sana.

Apabila terjadi saat berada di sini, agar tidak merepotkan, saya ingin menyerahkannya kepada pihak Mayo Clinic untuk keperluan research dan ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan ada gunanya untuk generasi yang akan datang.

Salam.

Widz Stoops - PC - USA 10.18.2020

VIDEO PILIHAN