Mohon tunggu...
Bambang Wibiono
Bambang Wibiono Mohon Tunggu... Buruh Sarjana | Penulis Bebas | Pemerhati Sosial Politik

Alumnus Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Selanjutnya

Tutup

Novel

Selamat Jalan Mamah (4)

23 Juni 2020   10:51 Diperbarui: 23 Juni 2020   10:47 84 1 0 Mohon Tunggu...

Sehabis duhur, Papah dan adik-adikku yang lain datang.

"Mamah kemana Wib?, kata Papah karena waktu masuk ruangan, kosong.

"Tadi jam 11 dibawa ke ruang operasi".

"Jam segini belum selesai operasinya?" tanya Papah khawatir karena sudah hampir 3 jam Mamah di ruang operasi. Kugelengkan kepala.

Sekitar jam 2 lewat ada rombongan perawat datang sambil mendorong ranjang. Kulihat ada orang yang berbaring diatasnya dengan masih ditutupi kain jarit bermotif batik. Deg!

Perasaanku agak tidak enak demi melihat siapa yang terbaring tak bergerak di ranjang itu. Kami semua bingun demi menatap orang yang terbaring itu, karena saat mendekat ku lihat mukanya, itu Mamah!

"Tenang saja ini Ibu Tati masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin nanti sekitar sejam lagi baru sadar. Alhamdulillah operasinya lancar" seru salah seorang perawat seolah tau dan menjawab ketakutan kami semua sebelum sempat ditanyakan.

"Alhamdulillaaah..." ucap kami serempak dengan lega.

"Ah suster ngagetin aja dikira game over, pake acara ditutupin kain jarit gitu kaya jenazah aja" protesku.

"hehe.. Kain putih yang tadi kotor kena darah, jadi diganti kain ini" kata si Mbak Perawat berkilah.

"Oh iya, nanti kalau ibunya sudah sadar, segera hubungi kami ya dek" kata perawat itu lagi padaku.

"Iya Sus, terima kasih" jawabku.

Eh sebentar. Apa? Dek? Ohh demi Saturnus Neptunus Pluto yang mengitari Matahari, ternyata mukaku baby face sepertinya, sampai dipanggil adek sama Mbak Perawat yang manis itu. Padahal aku yakin usiaku lebih tua dari si Mbak Perawat. Karena waktu hari pertama di RS ini sempat ku tanyakan kapan mulai kerja jadi perawat. Biasa lah basa-basi busuk laki-laki kalau liat cewe bening dikit. Katanya, setelah lulus kuliah keperawatan langsung diterima kerja di RSUD ini. Sudah satu tahun. Jadi perkiraannya, kalau kuliah D3 keperawatan sekitar 3,5 tahun ditambah masa kerja 1 tahun, berarti doi lulus SMA 4 tahun lalu. Belum tahu dia kalau orang yang dipanggil Dek ini mahasiswa S1 semester bangkotan. Semester 12! Bahkan September ini sudah menginjak semester 13! Ditambah masa nganggur 1 tahun pascalulus SMA. Berarti 7 tahun lalu aku lulus SMA. Haha...

Tiba-tiba ada suara berteriak dalam pikiranku, "Woyyyy gak usah ge err dipanggil adek! Jelas aja dipanggil Dek karena dia liat kamu pake celana SMA!!"

"Aahh... sompret!" ku tepuk jidat saat duduk dan lihat memang benar saat ini aku pakai celana SMA ku dulu. Gagal jumawa deh.

Walaupun aku sekolah sudah 7 tahun yang lalu, tapi badanku nyaris tak ada perubahan. Alhasil, terkadang baju-baju dan celana jaman SMA dulu masih suka ku pakai untuk sehari-hari di rumah. Dan ini, celana SMA ku masih bagus dan awet, jadi sering ku pakai. Maklum, walaupun kere, Papahku orang yang selektif dalam hal membeli barang, terutama pakaian. Lebih baik mahal dikit tapi awet bisa dipakai jangka panjang, daripada murah tapi bolak balik ganti yang baru. Begitu prinsip Papah. Baju seragam SMA ku saja sudah sampai duturunkan 2 generasi adikku, dan masih bagus. Untuk pakaian seragam anak-anaknya, nyaris tak ada yang beli jadian. Pasti beli bahan dan hasil jahit sendiri di tukang jahit langganan.

Lega rasanya demi mendengar penjelasan perawat tadi. Semoga pemulihan pascaoperasi bisa lancar sampai sembuh total. Ku rebahkan tubuh ini di ranjang pasien sebelah yang kebetulan tadi sudah pulang ke rumah. Sambil memejamkan mata karena semalam kurang tidur, pikiranku menerawang. Hmmm.. Bagaimana kalau seandainya...seandainya... Ahh, ku tepis pikiran buruk. Semua pasti beres tak ada kendala. Ku yakinkan diriku sendiri.

Tidurku tiba-tiba terganggu keributan. Kuusap mata yang masih susah diajak melek. Terlihat banyak orang. Oh ternyata jadwal dokter visit. Kebetulan Mamah juga sudah sadar dan sedang diberi suntikan oleh perawat. Karena efek bius sudah hilang, otomatis Mamah meringis-meringis nahan nyeri, makanya mereka menyuntikan pereda sakit dan antibiotik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x