Mohon tunggu...
Wiatmo Nugroho
Wiatmo Nugroho Mohon Tunggu...

hamemayu hayuning Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Melodi

5 Oktober 2017   13:29 Diperbarui: 5 Oktober 2017   16:39 507 1 1 Mohon Tunggu...

Dia tercipta bukan dari tulang rusukku, tetapi dari satu melodi di satu senja di kota itu

Ketika ia menelepon dan minta bertemu, perasaanku terasa hangat benar. Dari berpisah kerja dan tidak pernah bersapa, tiba-tiba ia mengajakku bertemu di kota itu.  Keinginannya untuk membuat pagelaran musik, membawaku segera bertemu dengannya. Maklum kami dulu satu sekolah dan ternyata punya minat yang sama. Di hari yang kami tentukan, aku mengejar janjinya.

Seorang teman lama yang meskipun tidak favorit, tetaplah seorang teman, dan seorang perempuan yang sulit untuk aku tolak keinginannya. Di samping juga, aku merasa tersanjung oleh telepon permintaannya. Dan juga, entah mengapa sebagai teman lamanya, aku merasa seperti terpanggil, setengah terpaksa, entah mengapa, mau tidak mau, harus berangkat dan menemuinya.

Namun, rasa hangat itu tiba-tiba saja hilang menjadi loyo, karena ia tiba-tiba memundurkan jadwal, karena penerbangannya mundur, mungkin satu, mungkin dua jam, atau jangan-jangan malah lebih. Dan menunggunya setelah satu jam perjalanan, berarti kekecewaan, kelesuan. Namun karena tidak mungkin batal, mau tidak mau aku harus menunggunya.

Terpaksa aku menikmati kota itu yang tak beda jauh dengan kota yang pernah kami tinggali bersama untuk sementara waktu. Ketika itu, sang waktu pernah mengikat kami dengan persahabatan, pembelajaran.

Menunggunya berarti kesendirian. Secangkir kopi di meja tak cukup membunuh waktu. Berita di genggaman gawai pun tak mampu mencerahkan suasana. Sementara matahari sepertinya lebih asyik bergelantungan di langit barat dengan panasnya sedikit redup menyebar rata ke cafe-cafe di sepanjang jalan. Hanya saja, terlihat olehku orang-orang kurasakan begitu senang, santai seakan matahari dan sore itu adalah suasana terbaik.

Kembali aku merasakan kehidupan yang dulu pernah kupilih ketika hidup di kota, yang sibuk, yang ribut. Ya, bising klakson, gemerlap cahaya, dan suara-suara yang bergantian mengusik mata, telinga, nalar yang merusak keinginan untuk merasakan keindahan, dan mungkin saja kedamaian. Suasana senja ini mengingatkanku pada keramaian itu meskipun tidak seramai dengan kehidupanku waktu itu.

Hanya saja, kota ini memang berbeda. Seperti yang menjadi berita dimana-mana, kota ini memiliki ciri khas sendiri. Sudah dari lahir, sepertinya, kota ini memang begini adanya. Keramaian, bising, itu tidak mengalahkan ciri kota ini. Itu yang aku lihat dari pandangan mataku, yang sebenarnya memancing kakiku untuk ikut mereka yang berjalan cepat, memburu tujuannya masing-masing di kota itu. Namun, aku memilih mengistirahatkan badanku dengan secangkir kopi, dan kudapan yang mungkin akan tambah kupesan lagi.

Terasa benar masih tertancap di kepalaku, kota yang dibentuk oleh bangunan-bangunan, jalan-jalan, dan manusianya, seperti belantara yang acak, seenaknya, yang seakan tak beraturan, bebas saja. Bangunan-bangunan yang kurasakan menghimpit, membuat sesak. Jalan-jalan dan manusianya yang membuat ribut, seperti belantara yang tak terpahami, tak beraturan, belantara keramaian, keributan yang susul menyusul, membuat kegaduhan, tak ada tenang, tak ada damai,  di sana dan di sini bergantian mengusik, membajak dan menghantui keberadaanku. Bangunan tinggi, dengan suara mesin di jalanan yang meraung-raung, suara manusia yang fals mengudara, merusak suara alam, bising, dengan cahaya di malam hari yang selalu mengajak mata bergerak terus, menarik, dan lupa akan indahnya malam itu sendiri. Kedamaian dan ketenangan kadang bisa menjadi angan.

Tetapi begitu berbeda di kota ini. Bangunan-bangunan itu, jalan-jalan yang sama dengan kota yang ada di kepalaku, tetapi mampu memberi hal baru. Bangunan-bangunan di sisi jalan yang sebagian besar mempertontonkan bentuk lengkungan-lengkungan di dinding wajahnya; warna-warna yang cerah dan redup seakan-akan berdialog, bersatu mengindahkan suasana. Lampu-lampu yang mulai menyala menambahkan suasana kota yang bersahabat, dan memaklumi keadaanku sebagai manusia, seakan berkata, "Nikmati perjalananmu." Mataku seperti bisa menerima pemandangan ini.

Begitulah adanya. Beberapa pejalan kaki yang aku lihat sedari tadi adalah para turis yang kulitnya sangat jelas jarang diterpa sinar matahari. Tetapi kadang malah terlihat olehku yang legam benar. Wajah-wajah mereka seperti juga wajah-wajah orang berkulit sawo matang yang kulihat seperti menyampaikan cerita-cerita asyik dengan rona yang mereka tampilkan. Memang kota ini seperti hutan yang bebas, tak terperi, namun seakan-akan lebih menawarkan persahabatan daripada persaingan kalah dan menang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x