Mohon tunggu...
Wempie fauzi
Wempie fauzi Mohon Tunggu... Penulis - Bekas guru

Bekas gurru yang meminati sejarah serta politik

Selanjutnya

Tutup

Politik

Airlangga Hartarto dan Kepentingan Indonesia dalam Implementasi KTT G20 India

11 September 2023   18:08 Diperbarui: 11 September 2023   18:30 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Perhelatan KTT G20 India 2023 telah berakhir pada Minggu (103/2023) dengan hasil sejumlah deklarasi dan kesepakatan yang akan terus dilanjutkan oleh Brasil yang meneruskan keketuaan untuk tahun 2024 mendatang. Presiden Joko Widodo yang hadir dan mengikuti sejumlah rangkaian diskusi pada pemimpin dunia tersebut secara lugas menyampaikan visi dan ajakan kolektif kearah terciptanya masa depan yang lebih baik. Ajakan yang juga sekaligus menjawab tema "One Future"  yang diusung tuan rumah India., sebagaimana disampaikan Jokowi pada sesi III pertemuan yang selanjutnya diwakili oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Dalam pidato penutupnya,   Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyampaikan bahwa KTT G20 New Delhi menyediakan jalur baru dalam  pembangunan yang berpusat pada kemanusiaan dan inklusif.  Forum ini sejak awal sudah diarahkan jadi inklusif   ambisius, tegas,   orientasi pada tindakan serta memperhatikan pada keprihatinan pembangunan  di negara-negara selatan untuk  disuarakan secara aktif.

Dari sisi Indonesia sebagai host KTT G20 tahun 2022, yang ingin dipastikan dari hajatan tahun ini adalah adanya kepastian terhadap komitmen dari KTT yang sebelumnya dilaksanakan di Bali untuk kemudian  diimplementasikan, khususnya di sektor Arsitektur  Kesehatan Global, Transformasi Ekonomi Digital, dan Transisi Energi.

Kepastian dari pelaksanaan implementasi itu tak lain karena peran strategis Indonesia dalam kelompok G20  dapat  menjadi   jembatan antara negara maju dan kelompok negara-negara berkembang serta juga bagi kepentingan dalam negeri disamping juga untuk kepentingan global yang sudah pasti jauh lebih luas. Di forum ini Indonesia sejak awal telah jadi pelantang suara kelompok The Global South, sekaligus menjalankan fungsinya sebagai penyeimbang antara negara maju, berkembang dan under development. Kepentingan sebagai penyeimbang itu telah disampaikan Jokowi pada hari pertama KTT G20 New Delhi. Selain itu, diperlukan stabilitas , semangat berdialog dan kerjasama dalam upaya pembangunan dunia, yang itu menurut Jokowi bisa diperoleh dengan tiga kunci utama,  Stabilitas, solidaritas dan kesetaraan.

Bagi Indonesia, stabilitas adalah basis dalam mendukung pertumbuhan dalam kerangka pembiasaan untuk membuka dialog dan saling kerjasama. Di sini G20 sudah harus bergerak dan menghapus dikotomi utara-selatan,  maju-berkembang, dan timur-barat. Foum G20  semestinya perlu memperkuat partisipasi negara berkembang dalam rantai pasok global. Kerja sama harus memperhatikan prinsip setara, inklusif, dan adil untuk pemenuhan hak pembangunan bagi semua.

KTT G20 ini sendiri sukses menelurkan  konsensus  yang dituangkan sebagai  Deklarasi Pemimpin G20 New Delhi (New Delhi G20 Leaders' Declaration). Deklarasi yang berisi kesepakatan paragraf terkait kondisi geopolitik global  yang merupakan isu yang paling akhir  yang disepakati para anggota. Terdapat 12  bagian dan 83 paragraf yang berisikan komitmen anggota  G20 pada permasalahan pertumbuhan global, pencapaian SDGs, ekonomi berkelanjutan,  multilateralisme, transformasi teknologi dan infrastruktur digital, perpajakan internasional,  kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, isu keuangan, kontra terorisme dan  pencucian uang, serta upaya untuk menciptakan tatanan global yang lebih iklusif.

Selama perhelatan KTT di India kali ini   Indonesia  memberi dukungan penuh  prioritas Presidensi India dengan tetap  mengedepankan inklusifitas melalui upaya menjaga relevansi G20 sebagai global premier  economic forum dalam menjawab permasalahan global.
 
Presidensi KTT G20 2023 kini ada di tangan Brasil yang serah terimanya telah berlangsung dari PM Modi ke presiden Brasil Lula da Silva. Perpindahan  yang sekaligus juga  mengakhiri kepemimpinan Troika G20 Indonesia, untuk kemudian  akan digantikan oleh Afrika Selatan selaku Presidensi G20 tahun 2025. G20 juga telah  menyepakati bahwa Amerika Serikat akan kembali menjadi Presidensi G20 pada 2026.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun