Mohon tunggu...
Achmad Suwefi
Achmad Suwefi Mohon Tunggu... Administrasi - pekerja swasta penggemar Liverpool, Timnas dan Argentina

You will never walk alone

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Ramadhan dan Sepakbola

4 Juni 2016   19:13 Diperbarui: 5 Juni 2016   12:22 353
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bulan Ramadhan 1437 H Insya Allah akan mulai dijalani muslim dan muslimat sedunia awal minggu mendatang. Bulan yang dinanti oleh semua umat Islam di dunia karena begitu spesialnya semua amalan yang ada didalamnya karena Allah SWT yang langsung akan mengganjarnya, salah satunya amalan sunnah diganjar amalan wajib. Dan bulan Ramadhan bukan menjadi penghalang bagi seorang muslim/mat untuk beraktivitas normal termasuk di dalamnya para pesepakbola.

Ada dua event besar yang akan dilakoni oleh pesepakbola di Eropa dan Amerika Latin yakni gelaran Piala Eropa 2016 di Perancis serta Copa America Centenarion 2016 di Amerika Serikat. Persiapan maksimal harus dilakukan semua negara peserta termasuk di dalamnya para pemain muslim yang memperkuat negaranya di kedua ajang tersebut. Tercatat ada Mesut Oezil, Franck Ribery, Mamadou Sakho, Emre Can, Moussa Dembele hingga Mourane Fellaini yang pastinya ingin tetap melakukan puasa Ramadhan di tengah perjuangan mereka membela negaranya di Piala Eropa 2016.

Lalu bagaimana FIFA selaku badan sepakbola menyikapi aktivitas pesepakbola dengan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk tetap mampu menjalankan kewajiban berpuasa di Bulan Ramadhan? Ternyata yang dilakukan FIFA cukup unik dan ilmiah di mana mereka melakukan studi tentang puasa di Bulan Ramadhan dengan aktivitas para pesepakbola untuk mendapatkan sebuah metode yang komperehensif yang bisa diterapkan baik oleh klub sepak bola maupun juga Timnas sebuah negara.

FIFA melalui F-MARC (Pusat Pengkajian dan Penelitian Medis FIFA) selama 2004 hingga 2006 telah melakukan pengkajian mendalam tentang apakah puasa memiliki efek negatif, positif atau tidak berpengaruh sama sekali terhadap kinerja pesepakbola baik profesional maupun amatir. Dipimpin Prof. Jiri Dvorak, FIFA melakukan studi di Aljazair dan Tunisia. Dipilihnya dua negara tersebut oleh FIFA karena sepak bola merupakan olahraga paling cepat perkembangannya di negara Islam.

“Puasa dapat mengubah fase kronologis pesepakbola. Oleh karena itu penting untuk mengetahui bagaimana pengaturan pola tidur menjadi penting dalam menangani perubahan dengan hidrasi dan diet selama sebulan,” ungkap Dr. Yacione Zarguini yang juga anggota Komite Medis FIFA yang menekankan bahwa puasa Ramadhan tidak berarti berhenti makan sama sekali melainkan mengubah waktu makan sehingga jumlah kalori yang dikonsumsi lebih dari 24 jam tetap sama.

“Tingkat asupan gizi juga harus berubah, yang berarti perubahan kualitas makanan untuk bisa beradaptasi dengan latihan,” terang Dokter Timnas Aljazair di Piala Dunia 2010, Dr. Hakim Chalabi.

(Pemain Aljazair di Piala Dunia 2014 / sumber : bbc)
(Pemain Aljazair di Piala Dunia 2014 / sumber : bbc)
Praktisi medis pun merekomendasikan bahwa setelah berolahraga, seorang atlet harus mengonsumsi protein, karbohidrat dan cairan dalam jumlah yang cukup untuk memastikan regenarasi dan meminimalisasikan resiko kelelahan. Salah satu cara untuk mencegah dampak negatif bagi pesepakbola yang berpuasa adalah dengan melangsungkan latihan di awal pagi atau di sore hari dan para ahli menyarankan pesepakbola untuk makan makanan berprotein saat sahur serta makanan ringan yang kaya akan karbohidrat dan mengandung telor, keju dan susu.

Rata-rata pesepakbola kehilangan hingga dua liter air setiap sesi latihan dan bisa lebih bila melakoni sebuah pertandingan yang tergantung dari suhu dan cuaca. Selama Bulan Ramadhan, massa tubuh pesepakbola berkurang satu persen karena kurangnya asupan cairan di siang hari. Dan untuk menghindari terlalu banyak keringat yang berefek kepada kehilangan banyak cairan dan dehidrasi akut, maka pesepakbola bisa mengenakan pakaian yang sesuai dengan tempat latihan yang disesuaikan seperti tempat yang teduh dan dingin.

Terlalu banyak minum saat sahur juga tidak bagus untuk pesepakbola karena akan menyebabkan peningkatan buang air kecil dan tidak menjadi cadangan untuk puasa sehari. Selain itu pentingnya tidur untuk optimalisasi kinerja karena kurang tidur akan memiliki efek negatif pada konsentrasi serta suasana hati. Terkait soal peningkatan resiko cidera karena pesepakbola melaksanakan kewajiban puasa ternyata tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Dari hasil penelitian menunjukkan dua dari sembilan luka-luka atau cidera disebabkan karena beban berlebih dalam berlatih sedangkan selama Bulan Ramadhan pelatihan yang berlebihan menyebabkan 16 kasus dari 19 yang cidera dalam penelitian yang dilakukan minggu-minggu sebelum dan sesudah Ramadhan. Intinya bellum ada formula khusus terkait gizi, asupan cairan maupun pola tidur rutin bagi pesepakbola yang ingin berpuasa. Namun sebaliknya tetap harus melihat kasus yang terjadi secara individual untuk mendapatkan pola pendekatan yang terbaik untuk pemain bola.

“Tujuan utama adalah untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin dan untuk membantu atlet muda menghadapi situasi tersebut,” tutup Dr. Yacione Zerguini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun