Mohon tunggu...
Weedy Koshino
Weedy Koshino Mohon Tunggu...

Hallo. Ibu 2 anak yang hidup di Jepang. Ingin membagi pengalaman selama hidup di Jepang. Semoga bisa bermanfaat. Yoroshiku Onegaishimasu.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Cara Jepang Memaksa Pekerjanya Pulang Tenggo!

27 Februari 2017   08:21 Diperbarui: 27 Februari 2017   09:29 0 28 24 Mohon Tunggu...
Cara Jepang Memaksa Pekerjanya Pulang Tenggo!
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Bicara tentang workaholic, saya yakin 100% semua akan langsung menunjuk Negeri Jepang sebagai salah satu negara yang pekerjanya gila kerja! 

Dan memang ini adalah sebuah kenyataan yang sampai sekarang tak terbantahkan. Bekerja tanpa mengenal waktu. Bekerja dari pagi hingga larut malam, dan semua dijalani tanpa ada rasa beban karena berpikir ini adalah salah satu tugas yang harus diembannya. 

Saya pernah dengar cerita dari bapak mertua saya dan beberapa kenalan yang sekarang sudah pensiun, ketika mereka dulu kerja tidak ada itu yang namanya bayaran untuk kerja lembur, overtime fee. Mereka mengerjakan dengan sukarela, bagian dari tugas menyelesaikan pekerjaan hingga akhir agar esok harinya mereka bisa melakukan pekerjaan yang baru walaupun mereka harus mengorbankan waktu pribadinya, bahkan rela masuk kerja walau hari libur!

Suatu kebiasaan orang-orang Jepang yang terus-menerus bekerja tanpa henti ini akhirnya membuat suatu budaya gila kerja yang efeknya sekarang sangat jelas terlihat. Kasus karyawati yang bunuh diri karena overload pekerjaan, kasus pegawai yang mati karena terlalu banyak minum obat penguat stamina agar bisa terus bekerja maksimal, adalah kasus-kasus yang tidak aneh lagi untuk kami dengar di sini. 

Pernah dengar penyakit Utsubyou? Penyakit ini juga sering diderita para pekerja yang gila kerja di Jepang. Beban kerja yang berlebihan tapi waktu kerja yang dirasa kurang dengan tekanan dari atasan yang keras dan terus-menerus akhirnya membuat para pekerja di Jepang tumbang dan mengalami gangguan kejiwaan. Biasanya para pekerja yang mengalami penyakit jiwa ini sementara akan dirumahkan dulu dan menjalani perawatan medis yang intensif, sampai dinyatakan sembuh dan bisa kembali bekerja lagi. Tragis ya dengarnya.

Melihat ini semua, saya yang orang asing saja geregetan dan gemes, ada gak sih tindakan pemerintah Jepang melihat ini semua? Sudah penduduknya sedikit, pada bunuh diri lagi yang usia produktifnya, lah gimana urusannya ya. 

Ternyata pemerintah jepang juga sudah merasa khawatir akan hal ini. Dan ini berarti kalau budaya gila kerja ini bukanlah sesuatu yang membanggakan lagi! Budaya gila kerja yang lebih banyak efek buruknya terutama untuk kesehatan dan keharmonisan kehidupan. Bayangkan saja, masuk kerja pukul 9 pagi hingga pukul 5.30 sore, itu hanya formalitas, karena kenyataannya orang-orang Jepang ini kebanyakan akan pulang kerumah di atas pukul 9 malam, bahkan ada yang pukul 12 malam! Gila ya. 

Saya terkadang suka kasihan lihat suami dan para bapak-bapak Jepang yang ritme kehidupannya memang rentan dengan yang namanya stres! Untuk yang tinggalnya di suburb Tokyo seperti keluarga saya, biasa suami pergi kerja pukul 7.30, dari rumah naik bis menuju stasiun, lalu lanjut naik kereta rush hour penuh sesak yang kira-kira makan waktu 40 menit sampai kantornya. Lalu pukul 5.30 sore pulang tenggo? Waduh, hal yang mustahil banget, karena rata-rata keluar kantor sekitar pukul 9 malam, naik kereta dan bis lagi, lalu makan malam di rumah yang akhirnya dilakukan sekitar pukul 10 atau pukul 11 malam! Bener-bener deh rutinitas hidup yang sangat tidak sehat! Lucunya suami jarang mengeluh, gak kaya istrinya wong jalan kaki satu 1 km aja badan sudah penuh koyo sambil misuh-misuh suruh anak-anak pijitin betis hahaha. 

Pekerja di Jepang kayanya memang sudah dipersiapkan dengan mental begitu, masuk dunia kerja ya harus mau kerja sampai larut malam. Jarang melihat demo minta naik gaji atau tuntut kesejahteraan dan jaminan kerja ini itu, ini juga yang buat saya heran, kok nerimo amat ya. Mungkin karena memang sudah budayanya begitu, kebiasaan dari jaman baheula yang hingga kini diterapkan dan dilakukan ya akhirnya sudah bukan hal yang aneh dan ajaib lagi.

Nah, daripada nanti banyak pekerja di Jepang yang terganggu jiwanya karena stres kerjaan, buru-buru kayanya pemerintah mengambil tindakan darurat :D Ada dua langkah di mana negeri ini mulai menerapkan sistem yang saya rasa bisa mulai membuat para pekerja Jepang sedikit santai dan rileks, yaitu pemberlakuan No Overtime Day dan Premium Friday

No Overtime Day

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x