Mohon tunggu...
W_ MBK
W_ MBK Mohon Tunggu...

bukan syapa syapa

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Hari Demi Hari, Menjelang 10 Nopember 1945 (1)

9 November 2012   11:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:43 1076 0 0 Mohon Tunggu...




Banyak peristiwa penting yang terjadi sebelum peristiwa 10 Nopember 1945. Pengambil alihan kekuatan militer Jepang di Jawa Timur berhasil dilakukan oleh para Pemuda hanya dalam hitungan hari. Hal ini tentu tak pernah diperkirakan oleh pihak Sekutu sebelumnya. Praktis pada bulan Oktober kota-kota Jawa Timur, khususnya kota Surabaya telah berada dalam kendali penuh pemerintahan Republik.

Banyak orang menyebutkan bahwa apa yang terjadi di Surabaya mirip dengan apa yang terjadi pada Revolusi Perancis oleh Napoleon Bonaparte. Tetapi gelombang revolusi yang terjadi di Surabaya terjadi sangat cepat dan berlangsung hanya dalam hitungan hari. Kondisi ini membuat informasi mata-mata Inggris yang dijadikan Laksamana Mounbatten sebagai dasar pengambilan keputusan berubah menjadi sebuah kesalahan besar. “Informasi yang dipegang oleh Intelijen SEAC di Singapura menyebutkan “Surabaya hanya akan dipertahankan oleh rakyat awam yang sama sekali belum bisa memegang senjata api dengan benar. Selain itu, mereka menamakan diri pemerintahan Republik Indonesia dan sama sekali belum memiliki pasukan militer.” Berdasarkan informasi mata-mata yang tidak akurat, KeputusanMounbatten mengirim Mallaby yang kurang berpengalaman di garis depan ke kota Surabaya dikemudian hari berakhir menjadi sebuah bencana.

Mari kita urai satu persatu apa yang terjadi di Surabaya, sebelum pecah perang 10 Nopember 1945.

17 Agustus 1945

·Berita Proklamasi yang terjadi di Jakarta dikirim melalui kode Morse ke kantor berita Domei Jl.Pahlawan no. 29 jam 11 pagi.Oleh kantor berita Domei, informasi tersebut diselundupkan oleh karyawan kantor Berita Domei kepada surat kabar Suara Asia Jalan Pahlawan no. 31.Karyawan Domei saat itu beberapa diantaranya adalah Sutomo (Bung Tomo), Pak Yacob, RM Bintarti, Astuti Kabul (kemudian menjadi istri A.Azis pemilik SurabayaPost). Serta karyawan Suara Asia adalah Mohammad Ali adik Imam Suparti (kemudian menjadi pemilikPenjebar Semangat).

·Oleh Suara Asia berita tersebut dibikin pamflet-pamflet dan selebaran dan disebar keseluruh Jawa Timur.

18 Agustus 1945

·Karyawan Radio Hosho Kyoku berhasil menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan dalam bahasa madura pada jam 19.00 Pemilihan bahasa madura adalah siasat untuk mengelabui tentara Jepang yang setiap saat mensensor pemberitaan. Saat itu tentara Jepang yang menjaga Radio Hosho Kyoku hanya menguasai Bahasa Indonesia.

·Surabaya Hosyo Kyoku adalah Stasiun Radio di Surabaya yang berada di Jalan Pemuda. Surabaya Hosyo Kyoku dulu pada masa Belanda bernama NIROM Soerabaja (Netherland Indiische Radio Omroep)

·Di jakarta dilakukan pembubaran PETA dan Heiho oleh tentara Jepang. PETA (Pembela Tanah Air adalah orang-orang Indonesia yang dilatih kemiliteran oleh Jepang dan bertugas untuk menjaga daerahnya masing-masing. Sementara Heiho adalah orang-orang Indonesia yang dilatih Jepang untuk ikut maju berperang di garis depan.Mereka inilah yang kemudian menjadi tulang punggung kekuatan militer Republik pada masa revolusi.

19 Agustus 1945

·Pemberitaan Proklamasi dalam bahasa Indonesia bisa dilakukan oleh Radio Surabaya pada tanggal 19 Agustus pada saat penjagaan Jepang lengah.

·Pengibaran bendera merah putih di Markas Polisi Istimewa di Jalan Coen Boulvard (St. Louis Dokter Sutomo) dilakukan olehAgen Polisi III Nainggolan

20 Agustus 1945

·Secara resmi, Pimpinan Polisi Istimewa karesidenan Surabaya M. Yasin merasa sudah tidak terikat oleh Jepang. Pengibaran Bendera Merah Putih tetap dilakukan di depan Kantor Polisi Istimewa. Satuan Polisi Istimewa adalah kesatuan aparat Internasional yang dipersiapkan menyambut peralihan kekuasaan dari Jepang ke Sekutu.

21 Agustus 1945

·Satuan Polisi Istimewa atau disebut Tokubetsu Kaisatsu Tai menyatakan diri sebagai Polisi Republik Indonesia dan tidak terikat oleh ketentuan Internasional. Komandan Polisi Istimewa Takata dan Nishimoto menyatakan mereka melepas tanggung jawab kesatuannya. Demi keselamatan, mereka disarankan tidak meninggalkan rumah dinasnya. Sedangkan semua persenjataan diamankan keluar kota yaitu Ngoro dan Sidoarjo. Beberapa persenjataan mulai dari jenis ringan dan persenjataan berat diperoleh. Termasuk beberapa truk dan kendaraan lapis baja.

22 Agustus 1945

·Secara defacto, Radio Surabaya Hosyo Kyoku secara de facto telah berubah menjadi Radio Republik Indonesia (RRI Surabaya).

23 Agustus 1945

·Atas instruksi Presiden Soekarno untuk membentuk Komite Nasional Indonesia. Di Surabaya dipelopori oleh Angkatan Moeda Indonesia dan dilakukan rapat selama 3 hari selama 25-27 Agustus 1945 di Gedung Nasional indonesia (GNI) Jalan Bubutan no.87.Rapat selama 3 hari tersebut menghasilkan susunan kepengurusan Ketua : Doel Arnowo, Wakil ketua : Bambang Soeparto dan Mr.Dwidjosewojo. Penulis : Roeslan Abdul Gani. Diikuti oleh beberapa anggota diantaranya : Dr. Angka Nitisastra, Radjamin Nasution dan Masmuin. Dalam rangka menyambut sidang pertama KNI di Jakarta 29-31 Agustus, KNI menyerukan kepada rakyat Surabaya untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Pengibaran Bendera Merah Putih ini dilarang oleh Satuan Polisi Jepang yang terkenal bengis yaitu Kempetai dengan menyebarkan pamflet-pamflet larangan. Tetapi oleh rakyat Surabaya pamflet-pamflet tersebut disobek-sobek dan tetap mengibarkan bendera Merah Putih. Peristiwa ini oleh Ruslan Abdulgani dikenang sebagai Flaggen Actie. Mulai tanggal ini, Rakyat di kampung-kampung kota Surabaya telah mengibarkan Bendera Merah Putih tanpa rasa takut kepada Jepang.

24 Agustus 1945

·Secara resmi para pembesar Jepang membacakan tentang berakhirnya Perang dan pernyataan Tenno Heika dan Seiko Sikikan di hadapan Pamong Praja. Bergeraklah para pemuda Indonesia yang di bawah naungan AMI (Angkatan Muda Indonesia pimpinan Ruslan Abdulgani) yang sejak proklamiran 17 Agustus 1945 selalu mencari keterangan, berani merebut kekuasaan dari tangan Jepang.

28 Agustus 1945

·Tercapai kesepakatan antara Inggris dan Belanda melalui CAA (CivilAffairs Agreement). Yaitu inggris akan membantu Belanda mengembalikan kekuasaan atas Hindia Belanda = Indonesia. Dengan adanya CAA tersebut, orang-orang Belanda leluasa menggunakan atau membonceng sekutu dengan menjadi anggota RAPWI (Rehabilitation Allied Prisoner of War and Internees dan Intercross (Palang Merah Indonesia). Selain itu orang-orang Belanda dimasukkan kedalam tentara Inggris yang datang ke Indonesia.

·Akhir bulan Agustus sebuah pesawat sekutu berputar-putar di atas kota Surabaya.

1 September 1945

·Karyawan Kantor Berita Domei pindah kantor dari Jalan Pahlawan ke Jalan Tunjungan 100. Selanjutnya mereka menjadi kantor Berita Antara – Surabaya.

·Para mahasiswa kedokteran gigi memutuskan untuk mengibarkan bendera Merah Putih di tiang bendera di atas kantor Gubernur Jawa Timur depan markas Kempetai. Kantor Gubernur tersebut masih diawasi langsung oleh Kempetai sehingga rencana pengibaran harus dilakukan mendadak. Setelah berhasil mengibarkan bendera Merah Putih, para mahasiswa tersebut mengamati dari kejauhan. Ternyata tidak ada gangguan dari pasukan Kempetai di seberang jalan.

2 September 1945.

·Dibentuk Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) bertempat di bekas gedung Badan Pembantu Prajurit (BPP) Jalan Kaliasin 121 (Jl. Basuki Rachmat). Rapat dihadiri hampir semua bekas pimpinan PETA, Heiho, kaum pergerakan dan lain-lain. Antara lain: Suryo (bukan Gubernur Suryo), Sutopo, Mohammad, Katamhadi, Rono Kusumo, Kunkiyat, Sungkono, Mustopo, Kholil Thohir, Yonosewoyo, Abdul Wahab, Usman Aji, Sutomo (Bung Tomo). BPKKP terbentuk dengan Dul Arnowo sebagai ketua, Daidantjo Mohammad (wakil), Daidantjo Sutopo (bagian umum), Notoamiprodjo dan Abdul Syukur (bagian keuangan). BKR terbentuk dengan Daidantjo Drg. Mustopo (ketua), Sunarso (bekas pegawai BPP, bagian tunjangan), dibantu bagian penerangan adalah: Daidantjo Katamhadi, Cudantjo Abdul Wahab, wartawan Antara Sutomo (Bung Tomo).

4 September 1945.

·Penyempurnaan susunan BKR yang dirapatkan di GNI Jl. Bubutan 87 oleh para Daidantjo, Cudantjo dan Shodantjo menghasilkan tiga eselon BKR, yaitu BKR Jawa Timur, BKR Karesidenan, dan BKR Kota Surabaya. Pemimpin-pemimpinnya yang disahkan adalah: BKR Jawa Timur: Moestopo (panglima), Suyatmo (staf umum), Mohamad Mangundiprojo (urusan darat), Atmaji (urusan laut), Suyono Prawirobismo (polisi, penerangan), Suryo (keuangan/perlengkapan), Dr.Sutoyo (kesehatan), dll. BKR Karesidenan Surabaya Ketua Abdul Wahab (cudantjo), wakil ketua Yonosewoyo, dll. BKR Kota Surabaya: Ketua Sungkono.

15 September 1945

·RAPWI datang ke Surabaya dan bermarkas di Hotel Yamato Jalan Tunjungan. Sejak hari itu Hotel Yamato ramai dengan orang-orang bule, dan mereka juga mengendarai mobil atau truck baru dengan tulisan RAPWI. Untuk menghindari kecurigaan sebagian dari mereka juga datang sebagai Intercross (Palang Merah Internasional). Sebagian dari mereka terjun payung di daerah Gunung sari tempat orang Belanda dijadikan tawanan perang oleh Jepang. Kemudian orang-orang interniran ini dibawa ke Hotel Yamato.

·Aktivitas meningkat baik di Hotel Yamato maupun di Gedung Intercross, keduanya berada di jalan Tunjungan. Dengan sombong beberapa orang Bule mengusir orang-orang Indonesia yang lewat di depan Hotel. Tindakan ini justru menimbulkan ketidaksukaan dari Penduduk Surabaya.

17 September 1945

·Rapat Umum di Pasar Turi, memperingati 1 bulan kemerdekaan Republik Indonesia

18 September 1945

·Bung Tomo dan Abdul Wahab dari kantor Berita Antara Surabaya jalan Tunjungan 100 yang berseberangan letaknya mendatangi Hotel Yamato. Bermaksud mewawancarai dan mencari informasi apa yang terjadi, justru sikap permusuhan yang didapat. Saat itu terlihat sudah sangat banyak orang-orang Inggris dan Interniran menginap di Yamato. Ketika Abdul Wahab mengambil beberapa foto didalam ruang Hotel Yamato, Abdul wahab justru mendapatkan tinju dan dihajar oleh beberapa Indo-Belanda karena menganggap dia sebagai mata-mata. Dengan berteriak dalam bahasa Inggris, Bung Tomo berkata bahwa dia adalah wartawan Antara dan bertanggung jawab bahwa Abdul Wahab bukanlah mata-mata.Akhirnya Abdul Wahab dilepas tetapi mereka para Indo-Belanda meminta dengan paksa film di dalam kamera.

·Pada malam hari, Orang-orang Belanda yang adadi Yamato mengibarkan Bendera Merah Putih Biru. Karena malam hari, aksi ini luput dari perhatian masyarakat Surabaya

19 September 1945

·Pagi hari tampak masyarakat Surabaya mulai berkerumun di dekat Hotel Yamato karena melihat Bendera Merah Putih Biru berkibar kembali. Peristiwa monumental dan tonggak kebangkitan Pemuda di Surabaya akhirnya pecah. Terdengar letusan pistol, pemuda semakin nekat. Bentrokan terjadi. Beberapa pemuda nekat menerobos masuk kedalam hotel. Beberapa pemuda gagal menggapai puncak menara, tiba-tiba muncul beberapa tangga. Tak lama kemudian warna biru disobek oleh para pemuda, menyisakan bendera Sang Saka Merah Putih. Seketika itu Bung Tomo naik ke loteng Gedung Antara Surabaya, Jalan Tunjungan no.100. Memimpin pemuda untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Peristiwa ini adalah tonggak sejarah. Karena peristiwa inilah para Pemuda di Surabaya menyadari bahwa Belanda masih ingin kembali menjajah Indonesia. Bayang-bayang pahitnya dijajah Jepang serta keinginan yang kuat untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka membangkitkan semangat Arek-arek Suroboyo untuk memegang kendali penuh Kota Surabaya sebelum Belanda datang kembali. Korban di pihak Republik gugur 4 orang pemuda Sidik, Mulyadi, Hariono dan Mulyono. Sementara di pihak Belanda Mr. Ploegman tewas.

(Bersambung)

Hari demi hari, Menjelang 10 Nopember 1945 (2)



Hari demi hari, Surabaya 1945 (3)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x