Mohon tunggu...
Wayudin
Wayudin Mohon Tunggu... Guru - Pengabdian tiada henti

Seorang guru SMP swasta di kota Medan,tertarik dengan fenomena kehidupan masyarakat dan tak ragu untuk menyuarakan pendapatnya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Indonesia Tanpa Pacaran: Alasan untuk Menikah Dini?

23 Mei 2020   14:29 Diperbarui: 23 Mei 2020   14:24 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : ibtimes.id

Kita mengenal seorang tokoh emansipasi wanita yang bernama Kartini, bukan? Bahkan kita memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahunnya. Peringatan Hari Kartini tentunya bukanlah suatu peringatan biasa melainkan kita memperingati perjuangan seorang Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita agar meraih kedudukan yang setara dengan laki-laki yang kita kenal dengan istilah emansipasi wanita (bukan emansisapi, ya...)

Salah satu bentuk emasipasi adalah wanita dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, bekerja layaknya seorang lelaki, bukan hanya terkurung pada aktivitas di sumur, dapur, dan kasur layaknya yang terjadi pada wanita-wanita pada zaman Kartini. 

Pada zaman itu pula, dikisahkan bahwa banyak anak perempuan yang menikah pada usia muda (dini) sehingga sebagian usia muda mereka telah direnggut oleh kehidupan berkeluarga sehingga tak jarang mereka harus mengubur dalam-dalam cita-cita mereka. Pendidikan yang rendah bahkan cenderung tuna aksara menjadikan tidak ada pilihan lain bagi wanita pada zaman itu selain hanya mengurus rumah tangga.

Kini setelah masa Kartini lama berlalu, emansipasi wanita sudah menunjukkan wujud nyata di tengah-tengah masyarakat, terutama masyarakat Indonesia. Kita pernah punya presiden, menteri, kepala daerah yang merupakan seorang wanita. Tak sedikit pula wanita Indonesia berkedudukan sebagai direksi dan komisaris di perusahaan-perusahaan besar nasional dan BUMN. Namun sepertinya saat ini muncul gerakan untuk kembali ke zaman Kartini dimana perempuan kembali menikah di usia muda dan mengurus rumah tangga, alih-alih melanjutkan pendidikan setinggi langit sebagaimana yang diidamkan oleh Kartini.

Beberapa kasus pernikahan dini wanita yang telah terjadi misalnya kasus anak SMP di Sulawesi yang menikah dengan alasan takut tidur sendirian, pernikahan Syekh Puji dengan Ulfa yang pada waktu itu masih berusia 12 tahun, hingga yang terbaru adalah seorang selebgram yang baru menginjak usia 16 tahun. 

Well, sebenarnya saya tidak punyak hak untuk mencampuri urusan mereka. Sepanjang pihak keluarga dekat mereka saja sudah merestui, mengapa saya harus heboh-heboh menentang? Ya kan? Bagi mereka yang melakukan pernikahan dini, tentunya banyak hal yang melatarbelakangi, misalnya saja alasan takut zina, takut tidur sendirian, sudah dijodohkan, terlanjur cinta, atau mungkin MBA (married by accident alias hamil di luar nikah), namun apakah alasan-alasan tersebut tetap dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan pernikahan dini? TETAP TIDAK!

Sebagai seorang guru di jenjang SMP, saya sangat prihatin melihat kelakuan anak remaja zaman now. Entah karena dicekoki berbagai sineron lebay ataukah pengaruh gawai, kecenderungan mereka untuk berpacaran di usia remaja semakin meningkat. inilah yang terjadi dengan negara kita karena memang sangat sulit untuk menemukan tayangan yang sesuai dengan usia mereka. Ya, saya sadar, mereka memasuki usia puber dan memang lazim terjerat cintanya para monyet alias cinta monyet. Namun yang mengkhawatirkan adalah tak jarang mereka berani berjalan berdua-duaan di lingkungan sekolah dan bila kita mengungkap isi percakapan mereka di gawai, maka anda sekalian mungkin bisa pingsan. Sebutan sayang, mama-papa, ataupun panggilan mesra lainnya tak jarang saling terlontar sebagai bentuk ungkapan sayang mereka. Maka tidak mengherankan dalam beberapa kasus terjadilah MBA karena model pacaran yang sudah tidak sehat meskipun masih di usia anak SMP.

Meskipun demikian, alasan takut melakukan zina tidak dapat menjadi alasan untuk menikahkan anak-anak SMP yang sudah berpacaran bukan? Tentunya kita sebagai orang dewasa tahu bahwa pernikahan membutuhkan komitmen diantara pria dan wanita yang hendak melakukannya. 

Apakah anak usia dini sudah mempertimbangkan sampai sejauh itu? Tentu saja tidak. Mereka hanya membayangkan pernikahan ibarat cerita Cinderela yang akhirnya bersatu dengan pangeran dan hidup bahagia selama-lamanya. Ketika saya remaja, saya ingat betul dengan sinetron Pernikahan Dini yang dibintangi oleh Agnes Monica dan Syahrul Gunawan. 

Sinetron itu sebenarnya sangat bagus untuk dipertontonkan kepada anak remaja( bahkan anak remaja sekarang)  yang ingin memutuskan untuk segera menikah. Pernikahan dini di saat sekarang ini tak jarang akan meningkatkan angka perceraian. Hal ini dikarenakan, setelah menikah, mereka baru akan tersadar bahwa kehidupan pernikahan tidaklah seindah yang mereka bayangkan. Kata seorang teman, menikah itu ibarat sangkar emas. 

Kita yang di luar ingin masuk ke dalamnya, namun yang di dalam malah ingin keluar, benar atau tidaknya tentu tergantung dari orang-orang yang telah menjalaninya. Setelah menikah, mereka akan tersadar bahwa menjadi seorang suami atau istri berbeda dengan seorang pacar. 

Suami harus mencari nafkah dan istri harus mengurus keluarga, melahirkan, dan tentunya tidak ada lagi waktu untuk hang out bersama teman-teman di pusat perbelanjaan ataupun mabar( main bareng) game daring bersama teman-teman seusianya. jika dulu kakek-nenek kita dapat bertahan dalam pernikahan usia dini, hal tersebut dikarenakan mereka benar-benar memegang teguh janji suci pernikahan sampai maut memisahkan. pada zaman mereka perceraian adalah sebuah aib dan ketidaklaziman, berbeda dengan saat ini yang dianggap sebagai suatu hal yang lumrah bila kedua pasangan tidak lagi memiliki kecocokan. 

Dari segi kesehatan, perempuan yang menikah dini memang sudah dapat bereproduksi, namun hal ini juga dapat membahayakan kesehatan si wanita itu sendiri. Saya teringat dengan perkataan guru Biologi SMA saya dulu bahwa wanita yang mengandung di usia muda ibarat kita memetik buah di pohon sebelum matang (maaf, saya guru IPS, jadi kalau salah mohon dimaklumi) sehingga berpotensi untuk merusak pohon di kemudian hari dalam hal ini sangat berisiko bagi si perempuan. Apalagi jika telanjur hamil di luar nikah dan diputuskan untuk aborsi, tentu risiko bahaya akan lebih tinggi lagi terhadap si wanita.  

Dengan menikah usia muda, pendidikan perempuan otomatis terhenti karena harus mengurus keluarga dan akhirnya sangat bergantung secara ekonomi terhadap suami. Pada akhirnya, ketika terjadi KDRT, wanita tidak akan berani untuk melawan bahkan berpisah dari pasangannya karena tidak mampu hidup mandiri karena tidak bekerja akibat tidak memiliki pendidikan yang memadai (akhirnya kisah si wanita akan diceritakan dalam bentuk sinetron yang menceritakan suara hati istri yang terzolimi). 

Dari segi pertambahan penduduk, menikah di usia muda tentu saja sangat kontraproduktif dengan Program KB yang dicanangkan pemerintah. Saya jadi teringat dengan nenek saya yang menikah di usia 18 tahun sehingga saya memiliki paman dan bibi berjumlah 8 orang, kakek saya sebenarnya memiliki istri (yang kemudian meninggal dunia) sebelum menikahi nenek saya dan mewariskan 6 anak. So, total paman dan bibi saya berjumlah 14 orang. Jadi, bisa dibayangkan betapa ramainya keluarga besar kami ketika merayakan Imlek ataupun hari besar lainnya.

Pacaran pada usia remaja memang cenderung membuat mereka tergoda melakukan zina, namun mendorong pernikahan langsung tanpa pacaran juga bukanlah hal yang benar. Ingat kembali Salmafina yang menikah dengan Taqy Malik yang berakhir dengan perceraian, bukankah mereka juga tanpa pacaran? Hal yang harus kita lakukan adalah justru menggencarkan sosialisasi bahwa pacaran adalah sebuah tahapan untuk saling mengenal hingga akhirnya mantap untuk melangkah ke jenjang pernikahan, bukan sekadar jalan bersama, nonton bersama, dan aktivitas romantis lainnya. Selain itu, pendidikan seks harus diajarkan sesuai dengan porsi usia agar anak-anak remaja kita tidak tersesat oleh mitos-mitos salah yang selama ini banyak beredar di masyarakat.

Orang tua cenderung menganggap pendidikan seks sebagai suatu hal yang tabu sehingga akhirnya anak remaja mencari tahu dari media yang salah dan malah menjerumuskan mereka dalam perilaku seks bebas. Pemerintah telah bertindak tepat dalam merevisi UU Perkawinan yakni minimal 19 tahun untuk mencegah terulangnya pernikahan dini, namun sebenarnya yang berperan penting sebagai garda depan adalah keluarga. 

Jika keluarga tidak merestui tentu pernikahan tidak akan terjadi. Mengizinkan pernikahan dini sama artinya dengan keluarga mengabaikan fungsi mereka sebagai pelindung bagi anak-anak. KPAI sebagai lembaga yang bertugas melindungi hak anak seharusnya juga lebih berperan dalam mensosialisasikan bahaya pernikahan dini terutama untuk anak perempuan ketimbang selalu menanggapi keluhan anak mengenai beratnya tugas sekolah, sulitnya soal UN, dan kejamnya guru dalam mendidik mereka. Salam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun