Mohon tunggu...
Octavianus Gautama
Octavianus Gautama Mohon Tunggu... Suami/Ayah/Pengusaha/Penulis/Pelatih/Pencetus Ide/Anak/Pembicara -

Seorang suami dengan dua anak yang masih terus belajar untuk menjaga keseimbangan antara keluarga dan karir, antara hidup dengan fokus dan hasrat untuk mengambil setiap kesempatan yang ada.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Perkuat Kuda-kudamu!

22 Januari 2016   12:11 Diperbarui: 22 Januari 2016   13:38 397
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ketika sedang mengambil sekolah bahasa di Beijing, saya berkenalan dengan Agus, salah satu mahasiswa Indonesia yang sudah lebih dahulu berada di sana. Setiap bertemu dengannya, saya merasa takjub dengan pengetahuannya yang banyak tentang sejarah China. Ia sangat bersemangat bercerita tentang kekayaan dari China dan salah satu topik tersebut adalah topik ilmu bela diri.

Ia bercerita bahwa ia sedang mendalami ilmu bela diri Baguazhang (Tapak Delapan Penjuru). Ilmu bela diri ini agak unik, karena gerakan memutarnya yang begitu luwes terlihat indah dimata. Bila mampu menguasai ilmu ini, maka seseorang mampu menghadapi banyak lawan yang menyerang dia dari segala arah. Gerakan memutar yang terkadang tidak beraturan itu menjadi senjata yang mematikan karena akan membuat lawannya kesulitan menangkis atau menyerang.

Agus bercerita bahwa di Beijing, ia sering bertemu dengan orang-orang lokal dan mengajak mereka untuk bermain. Mereka bisa sparring partnernya dan berlatih Baguazhang di mana saja, baik itu di pinggir jalan, di tengah taman, atau dalam ruang yang sempit. Ketika mendengar ceritanya, saya menjadi tertarik dan memintanya untuk mengajarkan saya sedikit ilmu Baguazhang ini. Saya membayangkan diri saya bisa lincah seperti dia dalam bergerak dan menghadapi lawan. Setelah waktu latihan tiba, sayapun dengan semangat bertemu dengannya.

Hal pertama yang ia perlihatkan kepada saya adalah posisi kuda-kuda dari baguazhang. Dengan sangat teliti, ia memperlihatkan posisi kuda-kuda yang menjadi dasar dari ilmu ini. Posisi kaki dan sudut kemiringan di lutut harus diperhatikan. Demikian juga posisi pinggang dan telapak kaki. Kedua lenganpun harus dibentuk sedemikian rupa untuk mendapatkan pose kuda-kuda yang tepat. Ia berkata bahwa kuda-kuda adalah segalanya dalam pengembangan ilmu ini. Hanya orang yang memiliki kuda-kuda yang kuat yang bisa berkembang dalam ilmu bela diri ini.

[caption caption=" zhaoyuanfu.files.wordpress.com/2013/06/abbot-zhao-yuan-fu-is-a-master-of-the-daoist-art-of-bagua3.jpg"]

[/caption]

Sayapun mencoba dan dalam usaha pertama, saya hampir jatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Setelah beberapa kali mencoba dan dikoreksi, akhirnya postur kuda-kuda itu bisa saya dapatkan. Sangat sulit dan setelah beberapa detik berada dalam posisi itu, otot paha yang jarang dipakai itu kini mulai cenat-cenut. Tetapi saya bertahan dengan harapan ia akan segera melanjutkan ke pembelajaran berikutnya.

Betapa salahnya saya.

Agus berkata bahwa hari itu, dan untuk beberapa tahun kemudian (paling tidak itulah yang saya rasakan), kamu harus terus melatih kuda-kuda ini. Kamu harus mengambil posisi ini ketika sedang baca, ketika sedang nonton, atau ketika sedang nganggur. Bila kamu serius ingin mendalami ilmu bela diri Baguazhang, maka inilah dasar yang perlu kamu kuasai.

Malu untuk diakui, tetapi saya berhenti sampai di titik kuda-kuda itu. Saya tidak pernah dengan serius melatih diri saya dalam menempa dan memperkuat dasar ini. Kami tetap berteman, tetapi saya tidak pernah lagi memintanya untuk mengajarkan saya ilmu Baguazhang.

Pengalaman saya ini mengingatkan saya lagi pentingnya dasar yang kuat dalam membangun karir dan kepemimpinan kita. Ketika kita melihat pemimpin yang hebat seperti Bapak Presiden Jokowi, Bapak Gubernur Ahok, Ibu Walikota Risma dan Bapak Walikota Ridwan Kamil,  kita berkata bahwa kita ingin menjadi seperti mereka. Kita terkagum-kagum dengan komitmen mereka untuk membangun bangsa ini dan seperti kebanyakan media cetak dan media sosial, kita hanya memperhatikan kesuksesan mereka saat ini. Sesekali, ada interview dan pembahasan mengenai masa lalu mereka, tetapi pada umumnya, pusat perhatian kita diarahkan pada hari ini dan bagaimana mantapnya mereka melangkah dan membuat keputusan.

Bila kita hanya ingin mengagumi mereka, maka cara itu mungkin sudah cukup. Tetapi bila kita ingin menjadi seperti mereka, maka kita perlu melihat pada kaca spion sejarah kepada masa lalu mereka. Kita perlu menyadari jatuh bangun mereka ketika kuda-kuda itu mereka latih dalam ruang gelap tanpa diketahui oleh satu orangpun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun