Mohon tunggu...
Warkasa1919
Warkasa1919 Mohon Tunggu... Freelancer - Pejalan

Kata orang, setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Wanita di Penghujung Malam

23 Juni 2018   22:19 Diperbarui: 11 Desember 2018   19:04 1275
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suatu alam yang di dalamnya berisi semua ingatan manusia, baik yang sudah berupa ingatan maupun yang masih menjadi hayalan dan harapan setiap manusia, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, suatu alam yang terhubung ke masa lalu, masa kini dan masa depan. Di mana alam itu bisa di jangkau oleh semua fikiran anak manusia.

Dan syaratnya cuma satu, bersediakah kakak dan suami kakak, jika kakak ku nikahi? Pernikahan batin yang akan menguras energi dan rasa kakak dan semua orang-orang yang mengikuti ritual itu nantinya. Kataku lagi sambil menatap kedua matanya, dia cuma diam, menatap mataku dalam-dalam, seperti masih tidak percaya dengan semua yang ku ucapankan barusan.

“Kakak akan lakukan apapun itu, asalkan itu memang itu bisa menyembuhkan kakak!” Jawabnya begitu yakin, lalu dalam sekejab berubah seperti ragu, dengan rasa setengah bimbang dia melanjutkan ucapannya.

“Cuma kakak ragu, apa suami kakak akan mau melakukan itu, sebab setau kakak dia begitu mencintai kakak, dan dia tidak akan mungkin mau menceraikan kakak begitu saja, apa lagi membiarkan kakak menikah dengan pria lain, sebab kalau dia mau, pasti sudah dari awal pernikan kami dulu, setelah dia tau kalau dia tidak bisa menyentuh kakak, tapi kakak tau dia bahkan rela melihat kakak di setubuhi pria lain asalkan kakak masih tetap menjadi miliknya” Katanya setengah berbisik di telingaku. Ada rasa kuatir dalam nada suaranya barusan.

Cuma pernikahan ghaib itu jalan satu-satu untuk mengobati kakak, seperti yang ku jelaskan tadi ibarat sebuah hand phone, begitu “sim card” nya ku cabut maka kakak akan diam, tidak lagi bisa terhubung ke jaringan rasa yang sangat rumit itu, pernikahan yang akan kita lakukan nanti itu seperti ibaratnya aku mencabut sim card lama kakak yang berasal dari dukun itu, setelah itu aku menggangtinya dengan sim card baru, agar hand phone itu masih tetap bisa terhubung ke jaringan rasa seperti yang ku jelaskan tadi. Kataku serius.

Dan harus suami kakak yang menjadi saksi kakak di pernikahan itu nanti. Kataku lagi. Tiba-tiba dia menangis sesegukan. Begitu mustahil rasanya meminta suami yang dia tau begitu takut kehilangan dirinya itu untuk meminta dia menceraikan dirinya, apalagi suaminya pula yang nanti harus menjadi saksi nikah bagi dirinya untuk menikah dengan pria muda di depannya ini.  Berarti memang sakitnya itu tidak bisa di obati, karena rasanya begitu mustahil baginya untuk mengutarakan niatnya itu kepada suaminya nanti, lelaki mana yang sanggup menceraikan istri yang begitu di cintainya itu, lalu menjadi saksi pula bagi istrinya tersebut menikah dengan pria lain.

Kutatap mata sembabnya, kulumat bibirnya untuk meredakan semua kerisauan di dalam hatinya, setelah tangisnya mereda, kubisikan di telinganya. Yang di butuhkan saat ini adalah keiklasan darinya. Keiklasannya itulah mata pedang yang sanggup untuk memutuskan tali pengikat yang di buat oleh siluman dan dukun yang dulu memasang susuk di kemaluan kakak. Apapun nanti yang akan kita lakukan adalah semata-mata upaya untuk mengharapkan keridhoan dari dari Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia adalah pemilik rasa, rasa sayang dan rasa benci adalah miliknya, begitupun rasa nikmat dan rasa sakit yang kakak rasakan selama ini, itu semua adalah miliknya, kembalikan semua rasa itu kepada pemiliknya. Kita pasrahkan semua kepadanya.

Baik dan buruk adalah ciptaannya. Ada siang, juga ada malam. Ada cinta juga ada kebencian yang tertanam di dalam setiap hati anak manusia, kita kembalikan semua rasa itu kepadanya, yakinlah. Jika Tuhan berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin baginya. Dia adalah pemilik rasa dan Dia mampu membolak-balikan semua rasa yang ada di dalam diri anak manusia sesuai kehendaknya. Semua yang berada di diatas muka bumi ini Dia ciptakan berpasangan, ada penyakit tentu juga ada penyembuhnya, karena memang hanya Dia sang pencipta yang Tunggal, tidak berpasangan, dia tidak beranak dan tidak pula di Peranakan. Jawabku pelan setengah berbisik di telinganya.

“Jika memang itu adalah satu-satunya jalan menuju kesembuhan kakak, nikahi kakak bang!” Jawabnya pelan, sambil menatap kedua mataku dalam-dalam. Bagaiman jika suami kakak tidak bersedia melakukan nya nanti? Tanya ku lagi berusaha menguji keyakinannya.

“Kakak akan meminta dia menceraikan kakak.”Jawabnya yakin, sambil memeluk erat tubuhku.

Bagaimana dengan perjuangan yang sudah kakak dan suami kakak lakukan selama empat tahun belakangan ini? Semuanya akan sia-sia begitu saja, jika pada akhirnya rumah tangga kakak harus bubar di tengah jalan, sementara kakak dan suami kakak sudah berusaha melakukan semuanya, bahkan yang di larang agama pun kakak lakukan demi untuk mendpatkan kesembuhan yang kakak ingin kan itu. Tanyaku lagi, sambil tersenyum simpul menatap wajah bimbang wanita berkulit hitam manis di depanku ini. Setelah terlihat bimbang sejenak mendengar ucapanku barusan, cepat-cepat dia berusaha menyingkirkan semua rasa bimbang yang sempat datang menghampirinya tadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun