Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Tradisi yang Berserakan di Sekaten Yogyakarta

2 Januari 2015   21:59 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:57 546 10 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tradisi yang Berserakan di Sekaten Yogyakarta
14201852962097671711

Perayaan Sekaten Yogyakarta yang digelar sejak November 2014 lalu segera memasuki puncaknya pada 3 Januari 2015 dan sejak seminggu lalu daya tarik Sekaten pun mulai beralih dari Pasar Malam di Alun-alun utara ke halaman Masjid Gedhe Kauman.




[caption id="attachment_344493" align="aligncenter" width="594" caption="Suasana di dalam Pagongan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta ketika Gamelan Pusaka ditabuh menandai dimulainya rangkaian inti Perayaan Sekaten (1/1/2015)."][/caption]

Kontras dengan sajian hiburan dan belanja yang diumbar di Pasar Malam, di halaman Masjid Gedhe Kauman ada sejumlah tradisi Sekaten yang bisa disimak dan diresapi maknanya. Begitu melewati gerbang masuk, pengunjung segera bisa mendengarkan suara-suara gending yang dimainkan dari dua perangkat gamelan pusaka milik Kraton Yogyakarta. Kedua gamelan tersebut adalah Gamelan Kyai Nagawilaga dan Gamelan Kyai Guntur Madu. Selama seminggu, gamelan-gamelan tersebut ditabuh secara bergantian di dalam Pagongan Masjid Gedhe Kauman dari pukul 08.00 hingga 23.00. Gamelan hanya berhenti ditabuh pada waktu sholat tiba.

Gamelan Sekaten berfungsi simbolik bagi ulama, masyarakat dan raja. Bagi ulama di masa lampau gamelan merupakan sarana penyebaran agama. Oleh karena itu pula gendhing yang dimainkan menyiratkan makna tentang ajaran Ketuhanan. Alunan gendhingnya cenderung lembut dengan tempo yang pelan di awal lalu perlahan meninggi di bagian akhir. Hal itu bermakna puji-pujian kepada Allah. Gendhing Salatun misalnya, mengandung ajaran tentang sholat. Gending-gending yang dimainkan adalah karya para Wali Songo. Sementara itu bagi raja, Gamelan Sekaten adalah simbol kekuasaan. Oleh karena itu Gamelan Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu termasuk bagian dari benda pusaka Kraton. Kedua gamelan itu memiliki kembaran yang tersimpan di Kraton Surakarta.









[caption id="attachment_344480" align="aligncenter" width="594" caption="Para abdi dalem sedang memainkan gending dari seperangkat gamelan pusaka Kyai Guntur Madu. Selama sepakan terakhir gamelan pusaka ditabuh di Pagongan Masjid Gedhe Kauman."]

1420184168608507103
1420184168608507103
[/caption]











[caption id="attachment_344481" align="aligncenter" width="594" caption="Masyarakat sedang menyaksikan Gamelan Pusaka ditabuh di Pagongan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta."]

14201843141325989993
14201843141325989993
[/caption]

Selain Gamelan pusaka, inti perayaan Sekaten juga ditandai dengan munculnya puluhan pedagang berusia lanjut yang menjual “Endhog abang” dan Kinang”. Mereka tersebar di berbagai sudut di sekitar Pagongan tempat gamelan dimainkan.




[caption id="attachment_344482" align="aligncenter" width="594" caption="Seorang simbah penjual Endhog Abang di halaman Masjid Gedhe Kauman sedang melayani pembelinya yang juga berusia manula."]

1420184401957448109
1420184401957448109
[/caption]

[caption id="attachment_344483" align="aligncenter" width="594" caption="Menjual Endhog Abang merupakan salah satu tradisi di Sekaten Yogyakarta yang sudah berlangsung sangat lama."]
1420184483724829174
1420184483724829174
[/caption]

Endhog abang yang berarti “telur merah” adalah telur rebus yang kulitnya diberi perwarna merah. Tradisi membuat endhog abang sudah berlangsung sejak Sekaten pertama kali diadakan bahkan konon sudah ada semenjak Kraton Yogyakarta berdiri. Pada perkembangannya Endhog abang menjadi bagian tradisi di lingkungan Kraton Yogyakarta.

Endhog abang dibuat dengan ditusuk menggunakan sebilah lidi atau bambu berukuran kecil lalu diberi hiasan dari kertas seadanya. Hiasan ini dahulu dibuat untuk menarik minat anak-anak. Endhog abang adalah simbol kemanunggalan manusia dengan penciptanya. Endhog abang adalah gambaran sosok manusia dalam hal ini bayi merah yang baru lahir. Agar kuat dan mampu menjalani kehidupannya dengan lurus manusia perlu disokong oleh keyakinan yang kuat yakni agama. Sokongan ilmu agama itulah yang kemudian dilambangkan dengan tusukan lidi atau bambu.









[caption id="attachment_344484" align="aligncenter" width="360" caption="Simbah penjual Kinang."]

1420184561290588810
1420184561290588810
[/caption]

[caption id="attachment_344485" align="aligncenter" width="338" caption="Membeli Kinang baik untuk dimakan maupun hanya sebagai oleh-oleh telah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang yang berkunjung ke Masjid Gedhe Kauman selama Sekaten digelar."]
14201846041683609690
14201846041683609690
[/caption]








Perayaan Sekaten di Yogyakarta juga identik dengan kinang yang terdiri dari daun sirih, tembakau, gambir, kapur dan bunga Kanthil. Lima unsur ini melambangkan rukun Islam yang ditegaskan kembali dengan jumlah kelopak bunga Kanthil yang biasanya disisakan berjumlah lima. Semua unsur tersebut disatukan dengan daun sirih sebagai pembungkusnya.




[caption id="attachment_344486" align="aligncenter" width="581" caption="Sego Gurih, ikon lain dari Sekaten Yogyakarta. Pada minggu terakhir perayaan Sekaten puluhan penjual Sego Gurih berjejer di sekitar Masjid Gedhe Kauman bersama para penjual Endhog Abang dan Kinang."]

1420184741824821794
1420184741824821794
[/caption]

[caption id="attachment_344487" align="aligncenter" width="594" caption="Aneka lauk dan isian Sego Gurih."]
14201848352060292415
14201848352060292415
[/caption]

Tak hanya “Endhog abang” dan “Kinang” yang banyak dijual di saat-saat akhir Sekaten. Puluhan penjual Sego Gurih juga berjejer memenuhi sekitar Masjid Gedhe Kauman. Sego gurih atau Nasi gurih dibuat berwarna kuning atau putih yang melambangkan keagungan, keemasan dan ketulusan. Sego gurih disajikan dengan lauk dan tambahan yang beraneka rupa seperti kacang tanah goreng, kedelai hitam, serundeng, abon, telur dadar, telur pindang, suwir ayam, kerupuk, mentimun dan irisan kobis. Rasanya yang gurig dan tampilannya yang semarak mengandung harapan setiap orang yang memakannya akan mendapatkan kebahagiaan.




[caption id="attachment_344488" align="aligncenter" width="594" caption="Dua orang simbah penjual bunga dan Kinang duduk bersandar pada dinding Pagongan Masjid Gedhe Kauman tempat Gamelan Sekaten ditabuh."]

14201848991758953771
14201848991758953771
[/caption]

Gamelan Sekaten, Endhog Abang, Kinang dan Sego Gurih adalah tradisi-tradisi Sekaten yang sarat makna dan ajaran. Sayangnya tradisi-tradisi itu kini seolah berserakan tanpadirawat semestinya. Menyaksikan hampir semua penjual endhog abang dan kinang adalah para manula, begitupun para penikmat Gamelan Sekaten yang sebagian besar adalah para orang tua yang berjalan membungkuk, seperti sedang menyaksikan tradisi-tradisi yang sedang berjalan menuju senja kalanya. Semoga itu tidak terjadi.




[caption id="attachment_344491" align="aligncenter" width="594" caption="Simbah penjual Sego Gurih."]

14201850151552520998
14201850151552520998
[/caption]




[caption id="attachment_344492" align="aligncenter" width="594" caption="Simbah penjual Kinang menunggu pembeli di belakang Pagongan Masjid Gedhe Kauman."]

14201850701207497000
14201850701207497000
[/caption]

Sudah semestinya masyarakat dan pemerhati budaya bekerja sama untuk membangkitkan rasa menghargai tradisi Sekaten dengan tidak melepaskannya dari akar budaya dan sejarah syiar agama di masa lampau. Jika ada masyarakat yang salah mengartikan tradisi tersebut, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman ulang, bukan dengan “membunuh” Sekaten. Sekaten dan tradisi-tradisinya yang luhur adalah entitas budaya yang perlu dirawat.

VIDEO PILIHAN