Mohon tunggu...
Kris Wantoro
Kris Wantoro Mohon Tunggu... Pengamat dan komentator pendidikan

Banyak membaca, makin sadar: banyak tidak tahu. Belajar menulis, agar ketidaktahuan kian terkikis.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Bermimpi bersama "Sang Pemimpi"

23 Mei 2020   16:34 Diperbarui: 23 Mei 2020   16:31 22 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bermimpi bersama "Sang Pemimpi"
Sampul novel Sang Pemimpi | KRIS WANTORO

Persahabatan sejati disajikan oleh Ikal---pemuda keriting yang ditakdirkan jadi sprinter SMA; Arai---si Simpai Keramat, sebutan orang Melayu untuk orang terakhir suatu klan, penuh kejutan dan suka menantang nasib; dan Jimbron---si gempal yang latah dan ngefans setengah hidup pada kuda. Sebagai anak pulau mereka punya tenaga tak terbatas untuk mengarungi hidup. Tenaga itu disebut mimpi.

Tiga sekawan itu tak rela menyerah pada nasib sial terkaman Pak Mustar. Siapa yang terima jika salah seorang perintis SMA negeri di Magai, Belitong, ditirukan gaya berpidato saat apel Senin, dengan tingkah seperti monyet. "Kabur" adalah jurus andalan para berandal. Bersembunyi di gudang penyimpanan ikan, mengubur diri bersama ikan-ikan bau busuk menjadi satu keseruan dari petualangan panjang mereka.

Bangun tiap jam dua subuh untuk ngambat---kuli pikul ikan di dermaga. Meski hidup susah, ambisi mereka bak tiga kunang-kunang di malam tanpa rembulan. Memercik asa di tengah kelamnya hidup. Selama ada guru yang mengajar, buku untuk dibaca, tambahkan sedikit tekad baja; mereka songsong hari depan.

"Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis... Ikuti jejak-jejak Sartre, Louise Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar sciences, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban!" begitu guru sastra Drs. Julian Ichsan Balia menyambuk semangat mereka. Sejak saat itu mereka berikrar: harus sekolah ke Prancis!

Ayah Ikal adalah sosok terhebat. Hari pembagian rapor baginya bagai peringatan Maulud Nabi. Diambil cuti dua hari dari tempat pencucian timah. Dikeluarkannya sepatu kulit buaya merk Angkasa dan ikat pinggang plastik bermotif ular belang. Keduanya dipoles lembut dengan kombinasi minyak rem dan arang tumbuk. Tak ketinggalan kaos kaki sepak bola tebal hijau tua.

Dikeluarkan juga sepeda Rally Robinson made in England yang dibeli kakeknya pada 1920, dipakai tak lebih hitungan jari tangan kaki. Terakhir, hanya untuk acara yang sangat penting, ayahnya mengeluarkan busana terbaiknya: baju safari empat saku. "Acara pelantikan bupati pun tak dipakainya, ...yang terbaik selalu hanya untukmu, Ikal", tegas Pak Mustar.

"...Pahamkah engkau, berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia!"

Setiap acara pengambilan rapor, Pak Mustar menata sepuluh kursi di barisan paling depan. Inilah kursi para avant garde, garda depan, tempat Ikal dan Arai tercatat di urutan ketiga dan kelima. Meski bandel, mereka berusaha menjadi pahlawan bagi ayahnya.

Godaan bioskop dewasa di depan kamar kontrakan mereka, membuat dua jagoan ini terdepak dari garda depan, mempermalukan ayahnya saat namanya disebut. Namun, mereka bertobat. Dengan menambah ritme kerja keras dan belajar, Ikal berhasil mengembalikan ayahnya di bangku garda depan.

Seperti pemuda kebanyakan, mereka tak luput dari jerat asmara. Jimbron pada Laksmi yang senyumnya dirindukan semua orang semenjak kematian keluarganya. Arai pada Nuraini yang menolaknya mentah-mentah meski lagu When I Fall in Love dialunkan cempreng dengan gitar Bang Zaitun. Ikal sendiri pada A Ling, anak pemilik toko tempatnya membeli kapur tulis (kisahnya di Novel Laskar Pelangi).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN