Mohon tunggu...
Pendidikan

Sepenuhnya Menghamba

1 November 2018   10:49 Diperbarui: 1 November 2018   11:07 141
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Membuka lembaran kisah di masa lalu lantas membuatku tak habis pikir dengan diriku, mungkin kita, tentang masalah yang nampak rumit, namun nyatanya, sederhana. Sederhana, bukan bagi kita, bukan kita seorang diri, tapi sederhana bagi kita yang menyertakan Allah dalam setiap urusan. Iya, ini tentang bagaimana kita menganggap bahwa Allah ada bersama kita karena kalau kita melihat kisah Nabi Musa 'alaihissalaam, ketika Musa mengatakan bahwa ia takut untuk menghadapi Fir'aun dengan segala kekuatannya, Allah menyeru kepadanya,

"Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua (Musa dan Harun) Aku mendengar dan Aku melihat"

( QS Thaha : 46).

Maka sesungguhnya Allah memang selalu bersama kita, dalam keadaan seperti apapun kita. Mengingat kisah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika Allah tak memberinya wahyu selama berbulan bulan dan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam merasa kebingungan dan merasa bahwa Allah tak mau lagi bicara dengannya, Allah meninggalkannya, saat itu pula Allah menyeru kepadanya, menurunkan wahyu padanya, 

"Tuhanmu (Allah) tidak meninggalkan engkau (Muhammad), dan tidak (pula) membencimu"

 (QS Adh Dhuha : 3)

Maka dalam hal ini kita mengetahui, bahwa hakikat Allah adalah selalu ada dan setiap persoalan yang kita hadapi sejatinya adalah sederhana ketika kita menyadari bahwa Allah selalu ada untuk kita dan Dia mendengar kita, Dia juga melihat kita. Maka, sebuah kewajiban bagi kita untuk mengenal Allah, karena kita tak mungkin menyerahkan masalah kepada yang tidak kita kenal.

Ketika kita semua sepakat bahwa kita semua adalah ciptaan Allah, maka sepatutnya kita mengagungkan yang menciptakan kita, dan kita sepakati bahwa Allah adalah Dia yang Maha Agung. Ketika kita semua sepakat bahwa kita semua adalah ciptaan Allah, maka percayalah bahwa Allah tak akan meninggalkan kita sendiri dan kebingungan ketika Dia menciptakan kita di muka bumi ini. Seperti sebuah pabrik ketika menciptakan sebuah produk, pabrik tersebut pasti mengeluarkan bersamanya sebuah buku panduan, atau kita sama-sama kenal dengan sebutan Manual Book. Buku yang menjadi acuan penggunaan, ketika barang tersebut dalam masalah kita kembali kepada petunjuk di buku itu, atau ketika kita tak dapat sepenuhnya memahami buku tersebut dalam menangani masalah, kita akan kembali kepada pabriknya (penciptanya). Maka begitupun kita, Allah tidaklah jahat meninggalkan kita setelah diciptakan, TIDAK. Sebagaimana perumpamaan pabrik tadi, Allah menciptakan kita dan memberikan kita Manual Book,

"Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya kami turunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia..."

(QS Al Baqarah " 185)

Benar, Alquran telah Allah turunkan kepada kita sebagai petunjuk bagi kita, seperti kita menggunakan Manual Book, ketika kita dalam masalah, maka Alquran menyimpan panduan untuk penyelesaiannya, dan ketika kita kebingungan dengannya, maka kita serahkan kepada Pencipta kita, Allah.

Perintah pertama yang muncul ketika kita membuka buku panduan kita, Al Quran yang mulia, adalah sebuah perintah kepada kita untuk senantiasa menyembah Allah kita yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita dengan tujuan agar kita semua meraih derajat yang disebut Taqwa. ( QS Al Baqarah : 21)

Begitupula perintah pertama yang Allah perintahkan kepada Nabi Musa 'alaihissalaam ketika Allah pertama kali memperkenalkan diri di hadapan Nabi Musa,

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingatKu"

(Thaha : 14)

Maka ketika kita telah percaya bahwa kita adalah ciptaanNya, bukankah sederhana bagi kita untuk mempersembahkan penghambaan dengan seutuhnya hanya kepadaNya?

Menghamba kepada Dia yang tak pernah meninggalkan kita, menghamba kepada Dia Sang Pencipta, menghamba kepada Dia yang menyertai kita dalam tiap momen kehidupan kita, dan menghamba seutuhnya hanya kepadaNya. Menjadi seutuhnya menghamba, menjadi sebenar-benar hambaNya.

Menjadi sebenar-benar hambaNya, seperti Nabi Ibrahim 'alaihissalaam yang benar-benar menjadi hambaNya dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik baginya dari sisi Allah. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail 'alaihissalaam. Dan sebuah bentuk penghambaan yang luar biasa dari sang anak ketia ia ikhlas atas tindakan sang ayah, keduanya ikhlas, hanya karena itu adalah perintah Allah subhanaahu wa ta'alaa.

Menjadi sebenar-benar hambaNya, seperti ibunda Nabi Musa ketika diilhamkan oleh Allah untuk menghanyutkan anak lelakinya ke sungai, ia melakukan nya dengan keyakinan bahwa Tuhannya pasti akan memberikan yang terbaik atas dirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun