Mohon tunggu...
Wahyu Ardiansyah
Wahyu Ardiansyah Mohon Tunggu... Freelancer - Be Humble To The Earth

Geologist; Travelling & berdakwah di atas bumi Allah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dinamika Pemberdayaan Desa

28 September 2019   20:12 Diperbarui: 1 Januari 2020   02:57 154
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Desa merupakan tempat yang asyik untuk menghabiskan akhir pekan sekaligus belajar dari warga di sana bagaimana tata krama dan berkehidupan sosial yang baik. 

Dari desalah, perkembangan dan peningkatan kesejahteraan suatu negara itu berasal, bagaimana tidak, dinamika harga produk hasil tani, kebun, dan hutan akan banyak mempengaruhi devisa negara. Fungsi desa penting inilah yang harus diperhatikan dan terus dikembangan semua potensi yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan warga di sana. 

Sebagai seorang mahasiswa, menjadi aktor pergerakan bukan berarti hanya menggerakan organisasi intrakampus maupun ekstrakampus namun harus bisa menggerakan denyut nadi desa yang ada di sekitarnya. 

Mahasiswa dapat mengambil peran untuk menyampaikan informasi yang ia dapat di ruang-ruang kelas maupun pojok-pojok ruang diskusi kepada warga desa sehingga bisa membawa kemaslahatan yang lebih.

Berdinamika dengan masyarakat begitu mengasyikan, dengan berbagai unsur surprise yang terjadi. Kadang ketika membuat sebuah plan pembangunan tertentu, belum tentu pelaksanaanya berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Oleh karenanya persiapan awal dan dialog harus dilakukan dengan matang demi mencapai tujuan awal. 

Dialog di sini dimaksudkan untuk membuka ruang aspirasi dan masukan dari warga kepada rencana yang akan kita wujudkan di desa mereka, istilah mudahnya dialog dilakukan sebagai kata "permisi" kepada warga, juga sebagai upaya untuk ngewongke wong, memanusiakan manusia, dimana ada pintu saling menghargai antara mahasiswa dengan masyarakat.  

Walau demikian, kadang sebaik apapun persiapan dan seluas apapun dialog yang sudah kita lakukan, kita harus menghadapi dinamika masyarakat yang beragam, yang mungkin berbeda dengan teori-teori yang kita terima di kampus. 

Mendekati masyarakat untuk "mendapatkan hati mereka" itu susah-susah gampang, datang sebagai "orang asing" ke desa tapi dengan tiba-tiba membawa ide-ide yang menggebrak kebiasaan warga desa. 

Ih siapa kalian, dateng dateng pengen mengubah desa... mungkin ada sebagian dari masyarakat yang akan antipati terhadap niat baik mahasiswa dalam membangun desa, tapi sebagai dengan berbekal niat baik itu, upaya untuk menggaet hati masyarakat harus lebih gencar dilakukan. 

Salah satunya adalah dengan mendekati tokoh-tokoh sepuh atau sentral yang menjadi panutan warga sekitar. Suara kita yang awalnya mungkin tidak terdengar, mungkin melalui ucapan-ucapan tokoh sepuh maupun tokoh sentral tersebut, lama-kelamaan hati masyarakat bisa luluh dan akhirnya bekompromi baik dengan orang yang awalnya mereka anggap asing.

Dalam pelaksaan program kerja di desa, perlu adanya follow up kepada masyarakat untuk menanyakan progres yang ada maupun untuk menampung ide alternatif dan evaluasi dari masyarakat dalam pelaksanaan program yang ada. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun