Mohon tunggu...
Veronika Gultom
Veronika Gultom Mohon Tunggu... https://vrgultom.wordpress.com

IT - Data Modeler

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Imlek di Singapura

27 Januari 2020   23:18 Diperbarui: 28 Januari 2020   00:25 62 4 2 Mohon Tunggu...
Imlek di Singapura
ilustrasi: media.thefinder.com.sg

Dulu saya tidak terlalu mengerti dan mencari tahu tentang Imlek. Yang saya tahu, Imlek adalah Tahun Baru yang dirayakan oleh etnik Tionghoa. Dan tidak semua etnik Tionghoa di Indonesia merayakannya. Maka itu saya pikir perayaan itu hanya untuk penganut Kong Hu Cu. Meskipun teman-teman saya banyak dari kalangan etnik Tionghoa, namun perayaan itu tidak populer dikalangan mereka. Entah memang mereka tidak pernah bercerita, entah memang tidak merayakan, entah karena saya yang kurang peduli. 

Tetapi ketika saya tinggal di Singapura, perayaan itu begitu terasa semaraknya. Tetapi disana mereka tidak menyebut perayaan itu dengan sebutan Imlek. Orang-orang menyebutnya Chinese New Year atau Lunar New Year. Menjelang Chinese New Year (CNY), di kantor mulai banyak kiriman Moon Cake berbagai macam rasa. Sekretaris kantor pun mulai menawarkan apakah ada yang perlu amplop merah (angpau) untuk bagi-bagi uang. Hampir di setiap toko dan tempat makan, mereka juga membagikan satu set angpau gratis kepada setiap customer. Demikian pula di bank, mereka membagikan satu set angpau. Bentuk angpau nya juga beraneka ragam dan bagus-bagus. 

Pada hari H, Singapura biasanya sepi dan agak susah mencari makanan di tempat umum, karena biasanya restauran-restaurant sudah di-book untuk makan bersama keluarga. Yah, ternyata Chinese New Year adalah sebuah momen reuni keluarga. Sama seperti perayaan Natal, Tahun Baru International, Lebaran, dan perayaan agama besar yang lain. Angpau berisi uang pun dibagi-bagikan. Dari orang tua dan kerabat kepada anggota keluarga yang belum menikah, dari anggota keluarga kepada orang tua yang sudah lansia. Atasan membagikan angpau kepada bawahannya, dan biasanya di gereja juga ada saja yang kasih angpau berisi uang kepada para single. Dan yang diberi angpau berisi uang itu, semuanya lho, bukan cuma yang merayakan. Para perantau di Singapura juga biasanya pulang kampung, keluar dari Singapura untuk merayakan CNY bersama keluarganya di rumah mereka masing-masing. Maka itu, biasanya selama beberapa hari, Singapura sepi. 

Dan yang tak kalah menarik, ada keluarga-keluarga yang mengundang orang yang tidak dapat berkumpul bersama keluarganya, mungkin karena orang itu sendirian di Singapura. Mereka tidak keberatan berbagi dengan orang lain, karena pada dasarnya CNY itu adalah berkumpul bersama keluarga. Saya ingat seorang teman yang bertanya, apakah saya akan pulang atau tidak pada liburan CNY. Ketika saya jawab tidak, dia bilang, "Andai saya sudah punya rumah sendiri, saya akan mengundangmu ke rumah saya". 

Memang sih ada juga yang karena satu dan lain hal sengaja menghindar dari acara reuni keluarga tersebut. Mungkin jengah ditanya kapan menikah oleh anggota keluarga lain, atau ada hal yang lain-lain. Di koran biasanya ada komik lelucon tentang ini. Seorang tante berkata pada keponakannya yang belum menikah,"Hayo kapan kamu mau menikah, supaya auntie tidak perlu kasih kamu angpau lagi tahun depan" 

Hari pertama CNY, biasanya istana presiden dibuka untuk umum. Semua orang boleh masuk ke taman dan museumnya. Bagi yang tidak merayakan CNY biasanya datang ke tempat ini dan piknik di rerumputan yang bersih di halaman istana yang hijau. 

Ternyata semarak CNY itu juga tidak hanya dirayakan oleh orang lokal atau etnik Tionghoa. Orang bule, atau kalau disana terkenal dengan sebutan angmoh, juga ikut-ikutan bagi-bagi angpau untuk para karyawan dan bawahannya. Tetapi biasanya mereka memberi kepada semua, bukan cuma kepada para single. Intinya sih, menurut saya, CNY itu berbahagia bersama, memupuk harapan-harapan baru yang lebih baik di tahun yang baru, berbagi dengan keluarga dan sesama, saling mendoakan. 

Hari libur CNY di Singapura cukup panjang, dan memang biasanya memang jadi panjang karena ada weekend di tengah-tengahnya. Mirip perayaan lebaran di Indonesia. Karena itu, buat orang-orang seperti saya yang tidak punya keluarga di Singapura, saat itu menjadi waktu untuk mengexplore tempat-tempat di Singapura dan sekitarnya, seperti Johor Bahru atau agak jauh sedikit, ke Melaka, tempat-tempat yang termasuk bagian negara Malaysia yang paling dekat dengan Singapura. 

Kadang-kadang saya ajak ngobrol orang-orang yang sering saya temui ketika makan siang. Pemilik kantin, pekerja kantin, tetangga, dll. Saya tanya bagaimana perayaan CNY nya? Jawaban mereka sama seperti yang lain, makan bersama dan menghabiskan waktu bersama keluarga, dan yang tak kalah penting, beristirahat sejenak dari pekerjaan-pekerjaan rutin. 

Oh ya, biasanya sebelum CNY, etnik Tionghoa di Singapura beres-beres rumah, belanja pakaian baru, termasuk pakaian tidur. Dan di seluruh kota dekorasi-dekorasi bertema CNY pun bisa dilihat dimana-mana. Para photograper biasanya pergi ke China Town untuk merekam momen-momen menjelang dan pada hari raya CNY. Ornamen-ornamen CNY disana biasanya bagus-bagus dan menyesuaikan dengan horoskop China. Salah satu hiasan yang pernah saya saksikan dari kejauhan di ketinggian gedung adalah bentuk ular besar (dragon) yang melintang di sepanjang jalan besar China Town. Bentuk ini tidak akan terlihat dari dekat, harus dari gedung tinggi di kejauhan yang tidak terlalu jauh. Dari China Town-nya sendiri yang terlihat hanya hiasan-hiasan ornamen biasa namun kreatif dan unik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN