Mohon tunggu...
Vio Rizqi
Vio Rizqi Mohon Tunggu...

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

LRT, Gebrakan Revolusioner Pengentas Kemacetan Ibukota

30 April 2019   23:32 Diperbarui: 30 April 2019   23:48 0 0 0 Mohon Tunggu...

Permasalahan kemacetan di DKI Jakarta menjadi salah satu permasalahan kronis yang mulai 'membiasa' di masyarakat. Meskipun telah bersarang berdekade lamanya di ibukota, namun belum ada solusi efektif yang dapat menuntaskannya secara menyeluruh. Kemacetan itu sendiri banyak membawa dampak signifikan terhadap kehidupan penduduk DKI Jakarta, seperti kerugian waktu maupun pemborosan energi. 

Presiden Joko Widodo mengungkapkan, kemacetan di Jabodetabek menyebabkan masyarakat kehilangan produktivitasnya sebesar Rp 65 triliun per tahun. Padahal, masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan yang besar dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Akar permasalahan kemacetan ini bak fenomena gunung es, hanya sebagian kecil yang terlihat di permukaan, sedangkan sebagian yang lain tidak terlihat. Namun, apabila kita menelisik secara lebih tajam, salah satu akar masalah dari kemacetan ini adalah tingginya penggunaan transportasi pribadi pada masyarakat. 

Penggunaan transportasi pribadi ini ditengarai oleh keinginan setiap individu untuk memiliki kendaraannya masing-masing. Kendaraan pribadi dianggap lebih menghemat waktu serta biaya. Hal ini didukung pula oleh produsen kendaraan pribadi yang hampir setiap tahunnya mengeluarkan produk-produk baru untuk dipasarkan.

Menurut data Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri), jumlah kendaraan yang terdaftar di Indonesia pada Januari 2018 mencapai 111.571.239 unit kendaraaan. Angka tersebut termasuk jumlah sepeda motor yang memberikan kontribusi sebesar 82% atau 91.085.532 unit, mobil pribadi sebanyak 12% atau sebanyak 13.253.143 unit, sisanya kontribusi dari bus, mobil pengangkut barang, dan kendaraan khusus. [RNM2] Tentu saja, produsen-produsen tersebut berharap produknya laris di pasaran. Sehingga berbagai strategi pemasaran pun terus digencarkan, seperti keringanan biaya sehingga pembeli dapat membawa pulang kendaraan baru dengan DP terjangkau.

Angka permintaan transportasi pribadi ini juga akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun ke tahun. Menurut perhitungan PBB, saat ini penduduk Indonesia berjumlah 267.078.225 jiwa. Bahkan, PBB memprediksi Indonesia akan menjadi negara keempat terbesar di dunia dengan populasi 295 juta pada 2030 mendatang. 

Sedangkan, infrastruktur jalan yang menopang pergerakan transportasi tidak sedikitpun mengalami perluasan maupun pelebaran. Dengan begitu peningkatan jumlah penduduk dinilai berpotensi besar menghambat pergerakan penduduk, khususnya di kota padat penduduk seperti DKI Jakarta.

Selain itu, masalah polusi udara yang ditimbulkan dari kemacetan ini juga kerap mengganggu aktivitas masyarakat di sekitarnya. Seperti yang kita ketahui, polusi udara menyebabkan berbagai penyakit seperti gangguan pernapasan dan kardiovaskuler yang tak jarang mengancam keselamatan jiwa manusia. Data yang dilansir Nypost menyatakan, studi dari Universitas Medical Center Mainz di Jerman menemukan bahwa polusi udara menyebabkan lebih banyak kematian daripada merokok sebesar dua kali lipat. 

Bahkan, jumlah kematian akibat polusi udara di Eropa mencapai hampir 800.000 kasus per tahun. Lembaga Greenpeace dan IQAir menobatkan Jakarta sebagai kota dengan polusi udara tertinggi di Asia Tenggara. Apabila saat ini Jakarta telah melampaui ambang batas kesehatan udaranya, apakah kita akan berdiam diri dan menunggu hingga polusi ini menelan banyak korban seperti yang terjadi di Eropa?

Saya sendiri meyakini sebagian masyarakat telah sadar akan penggunaan transportasi pribadi yang justru menimbulkan banyak kerugian bagi kehidupan sehari-hari mereka. Masyarakat pun juga berpotensi memiliki ketertarikan untuk beralih pada, solusi terunggul saat ini, penggunaan transportasi publik. Namun, di lain sisi masyarakat juga ditimpa kebingungan karena ketiadaan transportasi publik yang mumpuni untuk menggantikan peran transportasi pribadi dalam kehidupan mereka.

Salah satu penyebab masyarakat masih malas untuk beralih pada penggunaan transportasi publik ialah kualitas dari transportasi publik itu sendiri. Kualitas transportasi public Indonesia dinilai masih belum memenuhi level of satisfaction atau rasa kenyamanan bagi penggunanya. Belum lagi masalah keamanan, waktu, dan biaya juga menjadi pemicu minimnya minat masyarakat untuk menggunakan transportasi publik. 

Transportasi tersebut dinilai belum mampu mengungguli kenyamanan penggunaan transportasi pribadi. Sehingga, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum. Akibatnya, siklus permasalahan kemacetan terus berputar dan belum teratasi hingga saat ini. Lalu, bagaimana Indonesia menghadapi permasalahan akut ini?

Pada 9 September 2015 lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo mulai melaksanakan proyek pembangunan Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek dengan Gubernur DKI Jakarta dan PT Adhi Karya Tbk. LRT sendiri merupakan sebuah sistem angkutan cepat berbasis kereta api ringan. Transportasi publik yang revolusioner ini direncanakan akan menghubungkan Jakarta dengan kota-kota satelit disekitarnya, yakni Bogor, Depok, dan Bekasi. LRT sendiri akan melintasi beberapa rute yang terbagi menjadi dua tahap pembangunan. 

Rute tahap pertama sepanjang 42,1 km antara lain, Cibubur menuju Cawang, Bekasi Timur menuju Cawang, dan Cawang menuju Dukuh Atas. Sedangkan rute tahap kedua sepanjang 41,5 km antara lain, Cibubur menuju Bogor, Palmerah menuju Grogol, serta rute Dukuh Atas-Palmerah-Senayan. 

Setiap rute akan menyinggahi beberapa stasiun yang totalnya sebanyak 41 stasiun. Dalam menunjang pemeliharaan LRT itu sendiri, dibangun pula depo di beberapa titik Jabodebek seperti di Jalan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading (Jakarta Utara), sampai dengan Velodrome, Rawamangun (Jakarta Timur).

Kereta api ringan akan ini menjadi salah satu peluang bagi penduduk DKI Jakarta dalam mengurangi momok kemacetan di ibukota. Integrasi antara LRT dengan moda transportasi publik baru lainnya seperti MRT dan TransJakarta, akan membawa perubahan besar bagi peradaban masyarakat Indonesia. Integrasi  ini tidak hanya akan mengentaskan permasalahan macet ibukota, tapi juga menghubungkan kembali lapisan-lapisan masyarakat yang selama ini terputus karena keegoisan transportasi pribadi.

Integrasi moda transportasi publik baru ini dinilai sangat mengedepankan level of satisfaction masyarakat dalam penggunaannya. Pada LRT sendiri, salah satu sistem yang digunakan ialah lintasan standard gauge dan dioperasikan dengan rel listrik ketiga berdaya 750 V DC, sama seperti kereta Amsterdam Metro di Belanda. 

Kereta ringan ini tentunya tidak akan membahayakan lingkungan karena tidak menyumbangkan polusi udara maupun suara seperti angkutan umum sebelumnya. Selain ramah lingkungan, kereta ini diklaim mampu melaju dengan kecepatan 60 km/jam hingga 80 km/jam. Sebagai contoh, jarak 5 km yang biasanya mampu ditempuh kendaraan pribadi dalam waktu 20 hingga 30 menit, mampu ditembus LRT hanya dengan 10 menit. Itupun bisa lebih cepat apabila kecepatan LRT tidak dibatasi. Sehingga, efisiensi waktu yang diberikan LRT jauh lebih unggul daripada kendaraan pribadi.

Berada pada jalur khusus, LRT dinilai bebas dari hambatan karena tidak terdapat perlintasan yang sebidang dengan jalan raya. Dengan adanya jalur khusus, LRT tidak akan terpengaruh dengan kemacetan akibat percampuran moda transportasi lain dalam satu lintasan. Belum lagi jalur khusus menjadikan LRT jauh lebih steril dibandingkan angkutan umum biasa. Hal ini penting bagi kenyamanan penumpang karena LRT memiliki tiga gerbong dengan 60 set yang dapat mengangkut kurang lebih 24.000 penumpang pada setiap arah perjalanan.

Dengan berbagai keunggulan fasilitas yang ditawarkan, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) nantinya akan menetapkan batas tarif dengan rentang Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Tentu saja, penetapan tarif ini menyesuaikan dengan pendapatan masyarakat yang nantinya akan menjadi pengguna transportasi publik tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2