Mohon tunggu...
Viane Suwasa
Viane Suwasa Mohon Tunggu... Lainnya - Ibu Rumah Tangga, Novelis, Ilustrator, dan suka menulis puisi.

Banyak hal positif yang bisa dipelajari dalam hidup. Semangat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hidup adalah Kesempatan

14 Januari 2021   22:29 Diperbarui: 14 Januari 2021   22:32 372
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa hari lalu Indonesia dilanda duka mendalam atas tragedi yang menimpa Sriwijaya Air SJ-182. Pesawat dengan tujuan Jakarta - Pontianak yang mengangkut 62 penumpang tersebut mendadak hilang kontak setelah terbang sekitar empat menit di udara. Selanjutnya, diketahui ternyata pesawat tersebut jatuh menghantam laut di perairan Pulau Seribu. Seluruh penumpang dinyatakan tidak selamat dan pesawat hancur berkeping-keping.

Pilu rasanya hati ini waktu melihat berita tersebut di televisi. Ah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkan secara mendadak dan dengan cara seperti itu oleh orang-orang yang mereka cintai.

Kembali, ingatan saya melayang ke kejadian sembilan tahun lalu saat pesawat yang saya dan keluarga tumpangi mengalami mati satu mesin dalam perjalanan dari Balikpapan menuju Manado. Akhirnya, pesawat tersebut harus berbalik menuju Balikpapan, padahal saat itu sudah setengah perjalanan. Kami harus terbang pulang mengandalkan satu mesin yang masih hidup dengan posisi pesawat miring.

Di dalam pesawat tersebut suasana ribut dengan suara orang-orang yang berdoa memanggil nama Tuhan masing-masing. Kami tak bertanya lagi apa agamamu. Yang ada hanya bergandengan tangan saling bersatu berdoa.

Saat itu para pramugari sudah bolak balik menginstruksikan akan terjadi emergency landing. Salah satu dari mereka menghampiri saya, lalu menyuruh saya melepas kacamata dan memeluk erat anak saya yang ke dua, yang saat itu masih berumur setahun lebih. Di bangku seberang, saya melihat suami saya menggenggam erat anak saya yang pertama dengan tatapan cemas. Perjalanan pulang saat itu tidak mulus, penuh goncangan dan kemungkinan akan mendarat di air, kata salah satu pramugari.

Hati saya menjerit dan mulai menangis, karena tiga bulan sebelumnya, saya, suami dan anak ke dua saya mengalami kejadian yang nyaris sama saat perjalanan pulang dari Jakarta ke Balikpapan. Dimana saat itu pesawat yg kami tumpangi memaksa mendarat di tengah cuaca buruk, dan akhirnya harus menukik tajam naik kembali ke udara. Ada dua orang India yang duduk di sebelah kami saat itu sampai berteriak dan berdoa. Suasananya kurang lebih sama, ribut dengan memanggil nama Tuhan.

Sepanjang pesawat terbang miring menuju Balikpapan, saya memeluk erat anak saya sambil menangis berdoa dan terus berdoa. Para pramugari sudah duduk di kursi mereka masing-masing tampak pasrah. Pesawat berguncang keras, hingga saya mendengar para penumpang yang duduk di belakang mulai menyanyikan lagu-lagu rohani.

Suasana di belakang pesawat jadi terdengar seperti di Gereja, yang membuat saya semakin menangis. Di tengah ketakutan kami, seakan ada kedamaian yang menyusup memberi ketenangan. Seketika anak saya tampak tertawa bahagia menatap jendela.

Entah akibat rasa takut yang sangat atau itu mungkin hanya bayangan awan malam, saya melihat seperti ada malaikat terbang di luar menopang pesawat itu. Hingga kami bisa tiba di bandara dengan selamat, walau dengan pendapatan yang keras. Dan seketika mesin yang satu itu ikut mati lalu suasana di dalam pesawat menjadi gelap gulita.

Dari kejauhan kami melihat mobil pemadam kebakaran dan bus-bus berdatangan mendekati pesawat. Butuh waktu beberapa menit untuk pintu darurat dibuka hingga udara dari luar bisa masuk memenuhi kabin pesawat yang terasa sesak karena kadar oksigen menipis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun