Bahasa

Kesalahan penggunaan kata "acuh" pada penggalan lirik lagu Once Mekel yang berjudul "Aku Mau"

11 Juli 2018   14:07 Diperbarui: 12 Juli 2018   09:26 187 0 0

Kesesuaian Semantik dan Sintaksis Pada Penggalan Lirik Lagu Once yang Berjudul "Aku Mau"

Secara garis besar elemen Bahasa terdiri dari dua macam, yakni elemen bentuk dan elemen makna, atau lebih ringkasnya disebut bentuk dan makna. Bentuk adalah bagian fisik tuturan.

Bentuk dari tataran terendah sampai dengan tertinggi diwujudkan dengan bunyi, suku kata, morfem, kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana. Sedangkan makna adalah konsep abstrak pengalaman manusia, tetapi bukanlah pengalaman pengalaman orang porang. Secara kebahasaan bentuk merupakan wujud fisik tuturan, sedangkan makna merupakan wujud nonfisik tuturan.

Makna bahasa juga merupakan satu tataran linguistik. Semantik, dengan objeknya yakni makna, berada di seluruh atau di semua tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. oleh karena itu, penamaan tataran untuk semantik agak kurang tepat, sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar, melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya pada tiap tataran itu tidak sama.

Sehubungan dengan itu, sering sekali ditemui tuturan-tuturan yang salah dalam segi semantiknya, namun terlihat benar dalam segi bentuknya atau sintaksisnya. Perlu diketahui bahwa masih banyak sekali kalimat-kalimat tuturan sehari-hari, yang tidak berterima misalnya karena kesalahan semantik, kesalahan gramatikal, maupun kesalahan leksikal.

Pada kesempatan ini, penulis mengambil sebuah contoh ketidaksesuaian semantik  dan sintaksis pada sebuah penggalan lirik lagu yang sangat akrab ditelinga masyarakat Indonesia, yaitu lirik lagu dari Once yang berjudul "Aku Mau". Pada penggalan lirik lagu ini, terdapat sebuah kalimat yang salah secara leksikal, yaitu "Kau boleh acuhkan diriku, dan anggapku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku kepadamu."

 Sekilas, jika kita mendengarkan lirik ini, akan terasa biasa-biasa saja, tidak ada yang salah dalam lirik tersebut. Namun, jika dilakukan analisis kesesuaian sematik dan sintaksis, kalimat tersebut termasuk kalimat yang tidak berterima.

Kalimat "Kau boleh acuhkan diriku, dan anggapku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku kepadamu" tidak berterima karena terjadi kesalahan persesuaian leksikal.  Mengapa ?? Karena penggunaan kata "Acuh" pada kalimat itu merusak makna dari lirik lagu secara utuh. Dari kalimat tersebut, bisa dilihat bahwa selama ini penutur masih salah dalam memaknai sebuah kata.

Makna yang salah dari penutur

Acuh                 sebagai rasa ketidakpedulian

 

Perlu kita ketahui bahwa kata "Acuh" menurut KKBI edisi ke Vdan kamus Tesaurus  adalah :

Menurut KBBI edisi ke V

Acuh                 Peduli, mengindahkan.

Menurut Kamus Tesaurus

Acuh Hirau, hisab, indah, ingat, peduli

Nah, jika makna dari KBBI ini digunakan untuk memaknai lirik lagu tersebut, maka akan terjadi kesalahpahaman, karena  sesungguhnya kalimat tersebut  termasuk contoh ketidaksesuaian semantik terhadap sintaksis dan leksikalnya.

 Agar kalimat tersebut dapat berterima dan mengalami persesuaian semantic dan sintaksis, seharusnya kata "Acuh" dapat diganti dengan kata yang lebih relevan dengan makna kalimat yang akan disampaikan kepada pendengar, contohnya saja dengan kata "Jauhi", "Hindari", "Curangi" dan sebagainya, yang tentunya memiliki makna berlawanan dengan kata "Acuh" dan sekiranya sesuai dengan makna kalimat tersebut secara utuh. Apabila dirampungkan akan menjadi seperti dibawah ini misalnya, yaitu:

"Kau boleh curangi diriku dan anggapku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku kepadamu"

Dengan begitu, kalimat ini akan sesuai semantic dan sintaksisnya. Dan makna dari lirik lagunya dapat tersampaikan dengan benar, sehingga tidak membuat orang yang semakin salah dalam memaknai sebuah kata.