Mohon tunggu...
Ni Nyoman Vena Riana Dewi
Ni Nyoman Vena Riana Dewi Mohon Tunggu... Freelancer - Blogger

Currently studying Communication Science. Food and beauty enthusiast. Interested in Journalism. :) Email: venariana.dewi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Film

Intip Kritik Sosial dalam Dua Garis Biru

23 September 2020   17:18 Diperbarui: 24 September 2020   08:20 617
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Film Dua Garis Biru yang rilis pada tahun 2019 sempat menghebohkan masyarakat. Pasalnya, Dua Garis Biru karya Gina S. Noer merupakan film pertama yang berani mengangkat kisah mengenai kehamilan di luar nikah yang kerap dialami oleh para remaja Indonesia.  

Menceritakan kisah Dara (diperankan oleh Adhisty Zara) dan Bima (diperankan oleh Angga Yunanda)  yang baru duduk di bangku SMA yang berpacaran, dan suatu hari mereka melanggar batas, sehingga Dara pun hamil. Akhirnya mereka pun harus menjalani kehidupan yang cukup berat untuk anak seusia mereka, yakni cemoohan dari lingkungan sekitar serta harus keluar dari sekolah dan menikah.

Paradigma Kritis 
Paradigma Kritis yaitu cara pandang yang digunakan untuk mengkaji suatu fenomena sosial secara kritis, yakni berusaha mengungkap the real structures di balik sebuah struktur nyata, yang bertujuan untuk membentuk kesadaran sosial dengan harapan dapat memperbaiki serta merubah kondisi kehidupan manusia. (Guba dan Lincoln, 1994).


Dalam Dua Garis Biru, tidak hanya menyampaikan pelajaran moral dan sex education bagi para remaja, namun juga terdapat sisi paradigma kritis yang ingin disampaikan melalu film ini. 

Nama Baik Lebih Penting

Yang pertama, yaitu kritik sosial terhadap lingkungan sekolah. Dalam film ini, dikisahkan bahwa Dara harus drop out (DO) karena dianggap mencoreng nama baik sekolah. Sedangkan Bima masih bisa melanjutkan sekolah dan tidak di DO. Orang tua Dara jelas tidak terima karena anaknya sungguh berprestasi di sekolah.

Hal ini menjadi kritikan terhadap para sekolah yang biasanya memberlakukan sistem DO hanya untuk para murid perempuan yang mengalami kehamilan di luar nikah, sedangkan sang laki-laki masih tetap bisa bertahan di sekolah.

Ayah Dara yang marah (brillo.net)
Ayah Dara yang marah (brillo.net)
Terdapat juga kritikan ketidak setaraan gender disini, dimana terdapat scene Ayah Bima membela anaknya, dengan mengatakan, 

"Kalau Bima juga DO, siapa yang bekerja dan membiayai anaknya nanti?" seakan-akan Dara tidak perlu repot-repot sekolah tinggi dan mencerminkan kodrat wanita yang diam mengurus anak saja.


Si Kaya dan Si Miskin
Dara digambarkan sebagai anak dari keluarga berada dan berkecukupan. Sedangkan Bima digambarkan lahir di keluarga yang kurang mampu, tinggal di rumah dengan gang sempit dan lingkungan yang kumuh. Adanya perbedaan status sosial ini juga menjadi sebuah paradigma kritis, yaitu film ini ingin menyampaikan bahwa masih ada ketimpangan sosial di Indonesia. 

Rumah Bima yang kumuh (idntimes.com)
Rumah Bima yang kumuh (idntimes.com)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun