Mohon tunggu...
USMAN HERMAWAN
USMAN HERMAWAN Mohon Tunggu... Guru - Belajar untuk menjadi bagian dari penyebar kebaikan

BEKAS ORANG GANTENG, Tangerang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Takziah

14 Januari 2021   22:51 Diperbarui: 13 September 2023   05:46 395
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Usai mematikan lampu tepi jalan depan rumah, aku mendapat kabar dari adik Sanusi bahwa Paman Sarbani meninggal dunia. Innalillahi wainnailaihirojiun. Segera aku beri tahu istriku agar bersiap-siap untuk ikut bertakziah. Aku masukkan selembar uang seratus ribuan ke amplop kecil sekadar untuk membantu meringankan beban biaya pengurusan jenazah seperti biasanya. Kupikir tak mengapa, meskipun sedianya uang yang tinggal selembar itu akan dibelikan beras. Kami bergegas berangkat menuju kediamannya di kampung Carangbalik. Jaraknya sekira lima kilometer.

Paman Sarbani adalah suami dari Bibi Asmanah, adik ibu. Dulu, semasa aku kecil, dimana pun bertemu aku selalu diberinya uang. Bahkan sampai aku remaja, SMA, dia masih suka memberiku uang. Pernah aku menolaknya karena malu dilihat orang banyak, tapi dia memaksa dan memasukkan uang ke saku bajuku. Demi menghargai niat baiknya aku pun terpaksa menerimanya dan berucap terima kasih. Meskipun begitu sejujurnya aku senang. Lumayan sekadar untuk jajan. Dia sangat pengertian dan gemar menyenangkan semua keponakannya.

Sebagai pedagang, tepatnya tengkulak, kukira pastilah di dompetnya selalu ada uang, meskipun uang modal. Dia tengkulak hewan ternak seperti ayam, bebek, dan kambing. Untuk memperoleh hewan dagangan dia mencarinya dari kampung ke kampung. Hasilnya kemudian dijual di pasar. Aktivitas itu ditekuninya sejak usia empat belas tahun. Hanya itu usahanya. Dia mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang tengkulak seperti itu.

Kini, saat usiaku kepala empat, ada rasa berutang budi kepadanya. Sekali pun aku belum pernah memberinya sekadar uang rokok. Dia bukan perokok. Karena itu juga aku salut terhadapnya. Namun ada hal lain yang sangat aku sayangkan dari Paman Sarbani. Dia itu penjudi kelas berat, kelas keterlaluan. Setiap kali menginap di rumah kami Bibi Asmanah selalu berkeluh kesah tentang kelakuan suaminya yang menjengkelkan, yakni kecanduan judi. Jenis judi yang digilainya adalah judi sintir. Begitu Bibi Asmanah menyebutnya.  

"Sejenis apa itu Bi?" tanyaku ingin tahu.

"Itu Tong, bendanya sebesar jari telunjuk Entong oleh bandarnya diputar di atas piring pisin besar, lalu ditutup dengan sejenis mangkok. Bunyinya triliiiiiiiiiiiiiik! Begitu terdengar berhenti, para pemainnya pasang nomor yang ada di lapaknya dengan uang. Setelah itu dibuka penutupnya. Ada yang menang, ada yang kalah. Dasar pamanmu itu sial, kalah melulu! Tapi kalau pun menang juga buat apa, duit haram!" Bibi mengungkapkan kekesalannya.

Suatu ketika malam hari, setelah dua hari tidak pulang Bibi Asmanah mencari Paman Sarbani. Atas bantuan seseorang, Bibi Asmanah berhasil mendatangi kerumunan orang yang tengah bermain judi sintir di tempat yang cukup tersembunyi. Didapatilah Paman Sarbani yang sedang fokus mendengarkan bunyi benda yang diputar di atas piring ditutupi dengan semacam tempurung. Pelan-pelan Bibi Asmanah menjewer kuping Paman Sarbani. 

"Nah ketahuan kamu. Ayo pulang!" Dengan tegas Bibi Asmanah menarik kuping Paman Sarbani. Paman Sarbani tak dapat berkutik. Belakangan diketahui, bahwa saat itu Paman Sarbani sudah kalah habis-habisan. Uang di sakunya ludes, bahkan sepeda motor yang biasa dipakai anaknya pun  digadaikan kepada rekannya sesama penjudi.  Dalam kondisi loyo akibat begadang, kurang makan dan kehabisan uang Paman Sarbani menuruti ajakan Bibi Asmanah untuk pulang.

Itu sepenggal cerita yang aku dengar dari mulut Bibi Asmanah. Di waktu lain, Paman Sarbani dituduh menipu Paman Asmadi. Seekor domba kesayanganya dijual kepada Paman Sarbani. Setelah negosiasi singkat disepakatilah harganya. Namun Paman Sarbani meminta pembayarannya menyusul, yakni setelah domba itu terjual.

Karena belum juga dibayar, sepekan kemudian Paman Asmadi menanyakannya kepada Bibi Asmanah. Dia mengaku tidak tahu-menahu urusan jual beli domba. Setelah diselidiki ternyata uangnya dihabiskan bermain judi. Paman Asmadi dan Bibi Asmanah geram.  Paman Sarbani dimarahi habis-habisan. Dengan lemah lembut Paman Sarbani meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Itu bukan kali pertama dan berikutnya hal serupa terulang.

Kecanduannya terhadap judi sintir seperti orang kecanduan rokok, kalau tidak merokok rasanya asam. Ada tempat tertentu yang kerap didatangi Paman Sarbani. Keikutsertaannya bermain judi lebih banyak berakhir kalah daripada menangya. Sekalipun kalah dia puas. Walaupun uang yang dihabiskannya adalah uang modal dagang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun