Mohon tunggu...
Uswatul Fitriyah Osadi
Uswatul Fitriyah Osadi Mohon Tunggu... Wiraswasta - Instagram @pesan.us

I'm happy, hurting and healing at the same time..

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Perkembangan Moral Menurut Para Ahli

6 Maret 2017   20:52 Diperbarui: 6 Maret 2017   20:58 36876 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Perkembangan moral (moral development) adalah mencakup perkembangan pikiran, perasaan, dan perilaku menurut aturan atau kebiasaan mengenai hal-hal yang seharusnya dilakukan seseorang ketika berinteraksi sengan orang lain (Hurlock). Perkembangan moral sangat berpengaruh terhadap lingkungan sehingga pada masa anak-anak ini orangtua dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral anak, moral yang positif akan berdampak baik untuk kedepannya dan begitu sebaliknya jika si anak sejak kecil hanya menerima moral yang negatif maka si anak akan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh orangtuanya.

Berikut daftar teori-teori yang sudah dikemukakan oleh para ahli tentang perkembangan moral, yaitu :

  • Menurut Gunarsa, pengertian moral adalah rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Istilah moral sendiri berasal dari kata mores yang berarti tata cara dalam kehidupan, adat istiadat atau kebiasaan. Intisari menurut penulis : Dalam ilmu sosiologi, pemahaman tentang mores sudah dibahas, sehingga menurut Gunarsa, perkembangan moral ini mengadopsi tentang adat istiadat atau kebiasaan sejak nenek moyang dan secara turun temurun akan dilakukan dan ditiru perilakunya oleh keturunannya.
  • Menurut Shaffer, pengertian moral adalah kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dengan masyarakat dan kelompok sosial. Moral ini merupakan standar baik dan buruk yang ditentukan oleh individu dengan nilai-nilai sosial budaya di mana individu sebagai anggota sosial. Intisari menurut penulis : Moral menuut Shaffer berarti menjadi penilaian perilaku kita dalam masyarakat atau kelompok sosial, sehingga jika moral kita baik akan berdampak postif dan jika moral itu buruk maka akan berdampak pada diri kita serta tercemarnya nama baik dalam lingkup lingkungan sosial sekitar.
  • Menurut Rogers, pengertian moral adalah aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, seimbang dan adil. Perilaku moral ini diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, keharmonisan dan ketertiban. Intisari menurut Penulis : Rogers mengemukakan bahwa moral itu bertujuan untuk kehidupan yang sejahtera dalam lingkupan sosial dan masyarakat, jika manusia tidak memiliki moral maka kehidupan sosial ini tidak harmonis atau damain dan pertikaian ada dimana-mana.
  • Menurut  John Piaget dalam teori perkembangan moral membagi menjadi dua tahap, yaitu: Heteronomous Morality (usia 5 - 10 tahun) Pada tahap perkembangan moral ini, anak memandang aturan-aturan sebagai otoritas yang dimiliki oleh Tuhan, orang tua dan guru yang tidak dapat dirubah, dan harus dipatuhi dengan sebaik-baiknya. Dan Autonomous Morality atau Morality of Cooperation (usia 10 tahun keatas) Moral tumbuh melalui kesadaran, bahwa orang dapat memilih pandangan yang berbeda terhadap tindakan moral. Pengalaman ini akan tumbuh menjadi dasar penilaian anak terhadap suatu tingkah laku. Dalam perkembangan selanjutnya, anak berusaha mengatasi konflik dengan cara-cara yang paling menguntungkan, dan mulai menggunakan standar keadilan terhadap orang lain. Intisari menurut Penulis : Piaget memiliki 2 tahap dalam perkembangan moralnya yaitu Heteronomous yang berarti moral itu tidak dapat diubah dan hanya dimiliki orang-orang yang lebih dewasa dari si anak, dan Autonomous yang berarti si anak mulai sadar dengan adanya moral maka anak tersebut dapat dinilai baik dan buruknya.
  • Menurut Lawrence Kohlberg, penilaian dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional. Keputusan dari moral ini bukanlah soal perasaan atau nilai, malainkan selalu mengandung suatu tafsiran kognitif terhadap keadaan dilema moral dan bersifat konstruksi kognitif yang bersifat aktif terhadap titik pandang masing-masing individu sambil mempertimbangkan segala macam tuntutan, kewajiban, hak dan keterlibatan setiap pribadi terhadap sesuatu yang baik dan juga adil. kesemuanya ini merupakan tindakan kognitif. Kohlberg juga mengatakan bahwa terdapat pertimbangan moral yang sesuai dengan pandangan formal harus diuraikan dan yang biasanya digunakan remaja untuk mempertanggung jawabkan perbuatan moralnya. Adapun tahap-tahap perkembangan moral yang sangat terkenal adalah yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg. Tahap-tahap berkembangan moral tersebut, yaitu : Tingkat Prakonvensional (usia 4 – 10 tahun) Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral masih ditafsirkan oleh individu atau anak berdasarkan akibat fisik yang akan diterimanya, baik itu berupa sesuatu yang menyakitkan atau kenikmatan. Pada tingkat ini terdapat dua tahap, yaitu tahap orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativitas instrumental. Tingkat Konvensional (usia 10 – 13 tahun) Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dipatuhi atas dasar menuruti harapan keluarga, kelompok atau masyarakat. Pada tingkat ini terdapat juga dua tahap, yaitu tahap orientasi kesepakatan antara pribadi atau disebut “orientasi anak manis” serta tahap orientasi hukum atau ketertiban. Tingkat Pascakonvensional (usia 13 tahun keatas) Tahap perkembangan moral yang aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dirumuskan secara jelas berdasarkan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, hal ini terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegangan pada prinsip tersebut dan terlepas pula dari identifikasi diri dengan kelompok tersebut. Pada tingkatan ini terdapat dua tahap, yaitu tahap orientasi kontrak sosial legalitas dan tahap orientasi prinsip etika universal. Intisari menurut penulis : Lawrence Kohlberg moral tidak hanya mengandung penilaian terhadap perilaku atau kebiasaan tetapi juga untuk mengembangkan kognitif, dan jika berusia remaja moral ini mulai dapat dipertanggung jawabkan oleh si anak. Lawrence juga memiliki 3 tingkatan dalam perkembangan moral, yaitu : prakonvensional – anak masih menganggap bahwa jika melaksanakan moral itu akan mendapat hukuman atau hadiah sehingga anak hanya menuruti keinginan lingkunganya dan anak masih belum mengetahui moral yang dilaksanakan itu bak atau buruk (memperhatikan ketaatan), konvensional – anak melaksanakan moral itu dengan keinginan dianggap menjadi anak yang baik dan hanya menuruti keinginan keluarga serta tahap ini anak mulai mengetahui baik buruknya moral yang dilaksanakan oleh si anak, dan pasca konvensional – anak mulai sadar dan memfilter atau memilih moral yang baik atau buruk serta melaksanakan moral dalam lingkupan kontak sosial dan mengganggap moral itu perilaku atau etika.
  • Tahap-tahap perkembangan moral menurut John Dewey, yaitu : Tahap pramoral, ditandai bahwa anak belum menyadari keterikatannya pada aturan. Tahap konvensional, ditandai dengan berkembangnya kesadaran akan ketaatan pada kekuasaan. Tahap otonom, ditandai dengan berkembangnya keterikatan pada aturan yang didasarkan pada resiprositas. Intisari menurut penulis: Dari perkembangan moral John Dewey memiliki kesamaan dengan perkembangan moral John Piaget tetapi John Dewey memiliki 3 tahapan yaitu pramoral – belum sadar, konvensional – sadar, dan otonom – melaksanakan moral.

Sumber :

LIFE-SPAN DEVELOPMENT jilid 1 & 2 - John W. Suntrock

Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik) - Mohammad Ali dan Mohammad Asrori

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan