Mohon tunggu...
Urip Widodo
Urip Widodo Mohon Tunggu... Peg BUMN - Write and read every day

Senang menulis, membaca, dan nonton film, juga ngopi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menyikapi Perbedaan Pendapat dalam Masalah Ibadah

26 Desember 2022   08:33 Diperbarui: 26 Desember 2022   08:34 819
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tak dipungkiri problem yang dihadapi umat Islam saat ini adalah perbedaan pendapat, khususnya dalam masalah peribadahan. Saya katakan problem, karena alih-alih perbedaan pendapat ini dijadikan sarana untuk saling berbagi ilmu atau berdiskusi, malahan dijadikan poin untuk 'menyerang' pihak yang berbeda dengan cara menyalahkannya, dengan berlindung di balik makna bidah.

Penyematan diksi bidah pada aktivitas ibadah, yang dianggap tidak ada dasar hukumnya, semakin sering dan nyaring disuarakan satu kelompok, yang tentu saja menyinggung (merasa disalahkan) kelompok yang lain.

Padahal, perbedaan dalam hal peribadahan telah ada sejak dahulu, bahkan sejak jauh sebelum kelompok yang sering mengumbar kata bidah itu muncul.

Munculnya kelompok yang sering menuduh telah melakukan bidah pada umat Islam yang melakukan praktik peribadahan yang berbeda dengan mereka, telah memperuncing masalah perbedaan pendapat ini, yang sebelumnya sudah saling memahami.

Contoh yang masih hangat adalah di bulan Rabiul Awal kemarin, saat perayaan Maulid Nabi. Ada tiga kubu umat Islam menyikapi perayaan Maulid Nabi ini. Yaitu, ada yang merayakannya, ada yang tidak merayakan tetapi tetap menghormati yang merayakan, dan ada yang mencemooh kubu yang merayakan, karena menganggapnya bidah.

Munculnya kubu yang mencemooh pihak yang merayakan Maulid Nabi ini, disadari atau tidak telah merusak ukhuwah Islamiyah yang selama ini terjalin kokoh.

Kembali ke permasalahan perbedaan pendapat dalam peribadahan. Mungkin akan muncul pertanyaan, 'Kalau sumbernya sama dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw, mengapa terjadi perbedaan dalam pelaksanaan ibadah di zaman sekarang ini?'

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya kita pahami dahulu hakikat perbedaan.

Secara umum, perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Allah Swt sendiri yang berkehendak menciptakan manusia dengan segala perbedaannya. Sebagaimana firman-Nya di surat al-Hujurat ayat ke-13.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun