Mohon tunggu...
Urip Widodo
Urip Widodo Mohon Tunggu... Peg BUMN - Write and read every day

Senang menulis, membaca, dan nonton film, juga ngopi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Jadi Buih

31 Mei 2022   09:53 Diperbarui: 31 Mei 2022   10:06 817
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan."

Kalimat di atas adalah firman Allah Swt yang tercantum dalam Al-Quran, surat Ar-Ra'du ayat ke-17.

Allah Swt, melalui firman-Nya itu, memberi perumpamaan kebermanfaatan hidup dengan dua jenis air; air hujan dan buih.

Air hujan sebagai gambaran manusia yang memberi manfaat kepada manusia lainnya. Sementara manusia yang tidak bermanfaat diibaratkan buih. 'Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya'. Orang atau manusia yang tidak memberi manfaat kepada manusia lain atau kepada lingkungannya, akan hilang begitu saja. Namanya tak akan dikenang, akan dilupakan begitu saja.

Penggalan kalimat, '... adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi', menunjukkan bahwa orang yang bermanfaat akan tetap di bumi atau sosoknya akan terus dikenang, atau tidak akan dilupakan.

Dengan demikian, eksistensi seorang manusia di dunia, dipengaruhi oleh sejauh mana atau sebesar apa kebermanfaatannya bagi orang lain dan lingkungannya. Apalagi sebagai seorang Muslim. Kebaikan seorang Muslim, salah satu indikatornya, adalah kebermanfaatannya bagi orang lain. Keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain. Bahkan manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Rasulullah Saw bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)

Di kesempatan yang lain Rasulullah Saw bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan dirasakan aman dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak dirasakan aman dari keburukannya." (HR Tirmidzi)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun