Mohon tunggu...
Ummu el Hakim
Ummu el Hakim Mohon Tunggu... Hanya seorang emak biasa

Penyuka alam dan rangkaian kata

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Tak Konsisten dalam Penulisan, Membawa Diri pada Pembelajaran

27 Februari 2019   12:39 Diperbarui: 27 Februari 2019   13:29 152 7 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tak Konsisten dalam Penulisan, Membawa Diri pada Pembelajaran
pixabay.com

Menulis merupakan kegiatan yang mengasyikkan. Ketika jemari merangkai satu dua hingga beberapa kata. Kemudian pikiran merajut berbagai makna. Menjadi sajian memesona alunan tangan yang terangkai begitu indah menggoda.

Saking asyiknya terkadang kita terlarut. Lanjut terlupa. Dengan tata bahasa yang semestinya. Ah itu sangat sering aku lakukan. Menggunakan kata yang berbeda. Namun secara arti kata hampir sama. Dalam penulisan akan berujung menjadi ketidakkonsistenan. Namanya juga manusia, wajar ya kalau suka lupa. Ups.

Dan inilah kata yang sering tak konsisten aku lakukan. Jangan ditiru ya!


AKU - SAYA

Ini paling sering terjadi, secara aku suka menceritakan tentang diriku sendiri. Misal di awal paragraf, aku menggunakan kata "aku" sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Namun pada paragraf berikutnya terpeleset menjadi "saya". Atau mungkin sebaliknya, di awal tertulis "saya", kemudian berubah menjadi "aku" di paragraf berikutnya. Wah, hehe.


KAMI - KITA

Ini kerap terjadi ketika aku menceritakan keluarga. Semisal saat melakukan hal dengan anak atau kerabat. Aku biasanya menggunakan kata "kami". Terkadang pada awal paragraf masih konsisten, namun setelah itu aku lupa lalu merubahnya menjadi "kita" sebagai kata ganti orang pertama jamak. Kemudian berubah lagi menjadi "kami". Nah lo, hehe.


KALIAN - KAMU

Ini biasanya aku gunakan untuk menyapa Sobat sebagai pembaca. Aku suka menyapa dengan sebutan "kalian". Tentu agar lebih terasa akrab dan yang jelas lebih bersifat menyeluruh. Lagi lagi aku juga suka lupa, apalagi jika di tengah menulis terpaksa harus terhenti karena sesuatu hal. Dan ketika aku melanjutkannya kembali, eh tau tau berubah menjadi "kamu". Tak konsisten lagi dan lagi deh ya, hadeeh.


******


Itulah sekelumit contoh kata yang kerap tak konsisten aku gunakan. Tentu masih banyak ketidakkonsistenan lainnya yang tak bisa kusebut disini satu per satu. Uh, kurang teliti. Mungkin itulah kata kunci. Ya, "kurang teliti".

Sebetulnya kebiasaan ini tak akan terjadi jikalau aku membaca lagi tulisan yang telah aku buat berulang kali. Nah, masalahnya terkadang aku lupa, atau bahkan sering terlewat begitu saja.

Namun tentunya kini aku berusaha lebih menahan diri, untuk tak terburu memposting tulisan. Agar meminimalisir terjadinya kesalahan. Aku baca lagi beberapa kali sembari aku cermati adakah tak konsisten dalam penulisan yang aku lakukan?

Memang hal itu tak akan mengurangi substansi, namun kenyamanan pembaca kiranya menjadi terganggu akibat ketidakonsistenan dalam penulisan yang terjadi.

Bagiku pembaca adalah pemerhati yang harus aku hormati. Sehingga menyajikan tulisan yang membuat nyaman itu adalah bagian dari kebijakan diri. Karena aku berpikir seandainya aku sebagai pembaca pun menyukai tulisan yang baik dan mudah dimengerti.

Maka dari itu aku pun berusaha untuk mengerti apa yang menjadi kebutuhan pembaca. Meskipun tentu masih saja aku suka melakukan kesalahan dan ketidakonsistenan dalam setiap goresan.

Namun dengan menyadari hal itu, kiranya bisa meminimalisir kemungkinan terjadi kesalahan dalam penulisan. Kiranya menjadi sebuah pembelajaran yang berharga bagi diriku. Sebab rangkaian kata itu begitu indah jikalau bisa menempatkan pada porsinya. Rangkaian kata itu begitu manis jikalau bisa menyusunnya dengan harmonis. Ah, kata memang sungguh romantis.

Aku semakin menyukai kata yang tersusun pada tempatnya. Terurai makna pada rangkaian yang tercipta. Menikmatinya sungguh membuat diri semakin banyak belajar. Berproses hingga tanpa sadar menapaki jejak pembelajaran yang begitu beragam.


******


Nah Sobat, tulisan ini aku buat hanyalah untuk mengoreksi diriku sendiri. Sebagai pengingat agar tak terlupa lagi. Jikalau bermanfaat, Alhamdulillah. Jangan ditiru kesalahanku ya Sobat. Aku hanya berusaha belajar dari kesalahan. Sebab kesalahan adalah guru yang paling handal.

Menikmati proses dalam setiap langkah perjalanan menulis itu sungguh mengasyikkan. Semangat untuk mengoreksi diri sudah pasti harus dilakukan. Sebab dibalik kesalahan, maka akan ditemukan pula arti sebuah pembelajaran.

Nah pertanyaannya adalah, apakah pada tulisan kali ini aku masih tak konsisten? Baiklah aku akan baca lagi tulisan ini beberapa kali, hehe. Maafkan jikalau masih terdapat kesalahan, sebab aku hanyalah manusia biasa. Yang pasti aku akan tetap berusaha.

Salam semangat!





Niek~
Jogjakarta, 27 February 2019

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x