Uniek Kaswarganti
Uniek Kaswarganti karyawan swasta

Momblogger | Book & Music Lover | Matt Damon huge fan | also blogging via uniekkaswarganti.com in random theme

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dukung Anak dengan Mengantar Sekolah di Hari Pertama

31 Juli 2016   22:38 Diperbarui: 1 Agustus 2016   00:39 79 2 5

Repot banget sih ya harus anter-anter anak ke sekolah!

Di salah satu grup whatsapp yang saya ikuti, saya membaca celetukan teman saya itu. Dia beranggapan bahwa mengantarkan anak ke sekolah adalah aktivitas yang justru membuat anak manja. Anak akan menjadi selalu tergantung pada orang tuanya. Pun orang tua akan terlalu banyak ikut campur urusan pendidikan anak di sekolah.

Lalu saya pun heran, apanya yang salah ya dengan keterlibatan orang tua pada pendidikan anak-anaknya? Jika memang salah, lalu kenapa ada anjuran dari Menteri Pendidikan soal gerakan mengantar anak di hari pertama sekolah?

Faris di hari pertamanya masuk SD
Faris di hari pertamanya masuk SD
Saya sendiri amat menikmati moment mengantar anak di hari pertama sekolah tanggal 18 Juli 2016 yang lalu. Anak kedua saya baru saja menyelesaikan masa bermainnya di Taman Kanak-kanak. Dia sudah jadi bujang cilik ;)  Luar biasa bangganya putra saya ini saat dia tau sudah menjadi anak SD.

"Aku sudah besar ya Bu, sudah SD, kayak Kakak."

Ya, apa sih yang bakalan dicemburuin seorang adek manakala dia tidak bisa jadi kayak kakaknya. Bagi anak kedua saya, bisa mengenakan seragam merah putih adalah hal yang paling penting dalam hidupnya ;)  Meskipun di hari pertama sekolah itu dia belum mendapatkan seragam merah putihnya, namun sinar mata cerianya yang penuh rasa ingin tahu itu membuat saya bersyukur hari itu mengantarkannya ke sekolah. Dia penasaran sekali ingin tau dimana letak kelasnya, dimana kamar mandi, dan yang paling penting : dimana dia bisa membeli jajanan wafer kesukaannya ;)

"Nggak mau repot anter anak sekolah, mendingan kirim saja ke pondok."

Satu lagi celetukan teman saya di grup whatsapp ini sungguh membuat hati saya pilu. Sehari sebelum tanggal 18 Juli itu, saya dengan segenap kekuatan hati seorang ibu mengantar si sulung ke pondok pesantren yang akan ditinggalinya selama tiga tahun ke depan. Putri sulung saya ini baru berumur 12 tahun.

Saya saja kadang masih tergerus perasaan bersalah melepasnya menuntut ilmu di tempat yang amat jauh dari tempat tinggal keluarga kami. Saya dan suami memutuskan untuk menyekolahkan anak sulung kami ini sekaligus nyantri di pondok bukan karena takut repot. Nggak mau repot ya nggak usah punya anak kali ya, begitu pikir saya.

Sama sekali bukan karena repot lah, ada banyak alasan dan misi yang kami tetapkan untuk masa depan anak kami tercinta. Toh saat memasukkan ke pondok ini pun sudah atas persetujuan yang bersangkutan. Lewat beberapa kali survey lokasi, putri sulung saya ini setuju untuk 'mondok'.

Sungguh, saya kadang bingung sekali dengan konsep-konsep berpikir seperti di atas. Kenapa sih semua yang dipikirkan harus berdasar alasan 'repot'.

Mengantarkan anak ke sekolah memang membutuhkan effort tersendiri, terutama bagi ibu bekerja seperti saya. Namun bagi saya itu bisa diatasi, toh se-Indonesia kan pada mengikuti anjuran mengantarkan anak di hari pertama sekolah kan? Bagi saya pribadi, keutamaan mengantarkan anak sekolah adalah sebagai berikut : 

  1. Mendukung anak secara moril. Anak akan merasa dikuatkan saat mengalami sendiri betapa hangatnya hatinya saat diantar ke sekolah oleh orang tuanya sendiri, bukan pak ojek, pak becak, ataupun bibik pengasuhnya.
  2. Melihat secara nyata kondisi sekolah, jadi bisa mendapat gambaran bagaimana nanti si anak bakalan berinteraksi dengan teman dan gurunya di sekolah.
  3. Menjalin kedekatan dengan wali kelas anak kita di kesempatan pertama. Apalagi ya bagi saya yang baru saja mengantarkan putra saya masuk di kelas satu, perubahan kondisi sekolah dari TK ke SD tentu saja butuh adaptasi. Dengan datang sendiri mengantar anak ke sekolah, saya jadi tahu mana wali kelas anak saya, seperti apa orangnya dan cara berbicaranya, bisa bertukar nomer ponsel dengan wali kelas. Di kemudian hari, pasti saya bakalan banyak tanya-tanya ke wali kelas tersebut. Bocah kelas satu SD kan masih belum begitu paham ini itu, jadi pasti bakalan sering banget orang tua berkomunikasi dengan wali kelas.
  4. Mengenal wali murid yang lain agar kalau ada kabar apapun yang sekiranya kita tidak tahu, kita bisa bertanya kepada mereka.
    Faris diminta untuk memimpin kelas di hari pertama masuk sekolah. Cool, Nak :)
    Faris diminta untuk memimpin kelas di hari pertama masuk sekolah. Cool, Nak :)

Ada beberapa teman anak saya yang masih nempel pada orang tuanya saat masuk ke dalam kelas. Mereka menangis saat si ayah / ibu terpaksa keluar dari dalam kelas atas permintaan guru wali kelas. Saya sendiri paham bahwa hal ini dilakukan wali kelas dengan alasan melatih kemandirian si anak itu sendiri. 

Memang sih transisi dari Taman Kanak-kanak ke Sekolah Dasar butuh waktu untuk penyesuaian. Untungnya dulu saya sudah melatih kemandirian anak saya sejak di TK untuk sesekali saja diantar. Selebihnya dia berangkat sekolah sendiri karena kebetulan letak TK tempat dia belajar dan bermain memang tak sampai 5 menit berjalan kaki. 

Dan di hari pertamanya di Sekolah Dasar, saat Ibu Guru kelas I menunjuknya untuk memimpin kelas dalam memberi salam kepada guru dan teman sekelas, rupanya anak lanang saya ini sudah berani. Saya merasa kehadiran saya di sana untuk mendukungnya rupa-rupanya dirasakan sepenuhnya oleh putra kesayangan saya ini. Dia jadi pede dan tampak sekali ingin tampil berani di hadapan saya. Aaaahh... luar biasa kau, Nak.

Keceriaan putra saya ini bisa dilihat pada tayangan youtube berikut : Hari Pertama Sekolah.

Selamat belajar, Nak.